Mama 16 Th

Mama 16 Th
16 tahun


__ADS_3

Pagi seperti bisa, kekampus dengan rambut yang masih kurang rapi karena tidak mau meminta tolong dan merepotkan Lia terus.


Zelin sudah melangkah masuk kedalam kelasnya. Hari ini Mila dan Raska akan menjadi teman kelasnya lagi. Sedangkan Bayu hanya akan sekelas dengannya hari senin pagi.


Zelin duduk dibangku depan, kursi yang biasa dia duduki dikelas itu, Mila yang menyusulpun duduk di sebelahnya.


“Hai Al, selamat ulang tahun, saengil chukha hamnida, happy birthday." ocehan pagi Mila sambil memegang bahu Zelin.


“Haha, makasih ya Mil.” ucap Zelin


Beberapa teman yang lain masuk dan juga Dosen memasuki ruangan semua sudah diam.


Zelin lebih bersemangat dari hari biasanya, karena hari ini umurnya tepat 16 tahun.


Jam pelajaran selesai, Zelin dan Mila berjalan menuju kantin kampus.


Mencari bangku yang bisa di duduki lumayan banyak orang kalau nanti rombongan Bayu datang.


Tak lama, terlihat Bayu dan rombongannya duduk di bangku yang sudah di duduki Zelin dan Melfa. Bayu membawa kue kecil berbentuk Love dengan 3 lilin kecil di atasnya.


“Happy birthday Al, wish you all the best." ucap Bayu yang memegang kue.


“Semoga panjang umur Al." doa Mila sambil memeluk Zelin


“Sehat selalu" tambahan Dani.


“Ayo hidupin lilinnya habis itu make a wish.” ajak Mila tak sabaran.


Bayu mengambil mancis dari dalam sakunya, dan menyalakan ke tiga lilin kecil itu.


Zelin menutup matanya, berdoa pada Tuhan, bukan pada lilin.


‘Semoga, semua berjalan sesuai takdir dan rencana baik mu tuhan.' ucapnya dalam hati dan meniup lilin.


“Terima kasih yah, aku tak menyangka bakalan tiup lilin lagi.” ucap Zelin bahagia.


“Sama-sama Al, itulah gunanya kita sebagai temen lo." jamab Dani.


“Bener tuh… ayok pesen makan, katanya Bang Bayu yang mau traktir.” ucap Mila.


Mereka memesan makanan, tiba-tiba Sasya datang dan duduk disebelah Raska.


“Boleh gabung ga?.” ucapnya telat karena udah duduk baru minta izin.


“Iya. Duduk aja.” ucap Zelin.


Selesai makan Mila, Dani dan Bayu mengeluarkan kado dari tas mereka masing-masing.


“Ini Al, kado dari gue, semoga suka yah.” ucap Mila.


Zelin melihat kotak dengan kado berwarna pink itu, dengan mata berbinar menunjukkan kebahagiaan.

__ADS_1


“Isinya apa Mil?." tanya Zelin.


“Liat dirumah aja nanti, ini dari gue.” ucap Dani sambil menyodorkan kotak kado berwarna biru muda.


“Terima kasih Mila, Dani.” ucap Zelin senang.


“Mm. Al, ini kado dari gue, semoga pas yah di pake sama lo." Bayu menyodorkan kotak kecil yang ditutupi kertas kado berwarna hijau.


“Terima kasih Bay.” sambil tersenyum.


“Mm. gue ga bawa kado nih, gue kasih duit aja boleh ga? Buat beli susu anak lo juga Al.” mulut Sasya yang melontarkan kata itu.


Zelin kaget, hatinya sedikit tersinggung dan wajahnya langsung menatap tidak suka ketika Sasya mengelurkan uang 100 ribu mungkin 5 lembaran.


“Maaf sebelumnya yah Sasya, aku masih punya tangan, kaki, hati dan OTAK buat cari uang, apa lagi beli susu anak ku, itu sudah jadi tanggung jawab ku sendiri.” jawab Zelin yang mulai kesal dan meninggalkan kantin.


“Loh, kok lo malah sewot sih, kan gue juga mau kasih kayak yang lainnya.” jawab Sasya tak mau kalah.


“He busa, lo sadar ga sih, omongan lo udah ganggu kenyamanan orang, heran gue kenapa kak Raska mau di ikutin sama cewek mulut berbusa kayak lo.” ucap Mila yang kesal.


Mendengar namanya disebut Raska berdiri dan meninggalkan keributan itu.


“Gue ingetin sama lo Sya, jangan berani lo ngehina Al apa lagi itu di depan kita semua.” ucap Dani yang mulai emosi.


Semuanya pergi meninggalkan Sasya dan Bayu.


“Gue gak mau ngancem lo Sya, gue Cuma ngasih peringatan, gue ga akan ngelepasin orang yang nyakiti orang-orang yang gue sayang.” ucap Bayu tegas lalu meninggalkan Sasya.


“Al, ga usah masukin ke hati yah ucapan Sasya, dia tuh emang ga punya perasaan." ucap Mila.


“Iya tidak apa-apa kok.” ucap Zelin sambil tersenyum


“Oh iya, hari ini gue ke kafe yah, gue pen liat anak lo. Boleh yahhhhh.” pinta Mila sambil mengedip-ngedipkan matanya memohon.


“Haha iya. Ayok, tapi mobil kamu gimana?." tanya Zelin.


“Tadi pagi aku berangkat sama bang Raska, ayokkkk." ajak Mila menarik tangan Zelin semangat.


**


“Uuhh, lucu bangett sih, sini sini kakak gendong yah." ucap Mila senang dan menggendong Melfa.


“siapa namanya Al?.” Mila


“Namanya Melfa, dia senang memang di gendong, jarang sekali rewel." ucap Zelin sambil meletakkan tasnya.


“Muah muah." berulangkali Mila mencium muka Melfa, dan Zelin tersenyum.


“Jadi yang didepan tadi itu kakak lo?.” tanya Mila.


“Iya, namanya kak Lia.” terang Zelin.

__ADS_1


“Kamu mau minum apa Mil? Biar aku bikinkan di depan.” tanya Zelin.


“Aku mau capcin, tapi jangan terlalu manis ya." ucap Mila.


Zelin kembali membawa satu cup capcin. Ternyata Melfa malah mengantuk dan tertidur di ranjangnya.


Mila masih sibuk meminum capcinnya dan duduk di kasur, setengah cup habis Mila mengajak Zelin duduk lesehan dilantai kamarnya, yang di alas dengan karpet bulu,


“Kenapa Mil?.” tanya Zelin


“Ayok kita buka kado tadi.” ajak Mila mengeluarkan 3 kado dari tasnya.


“Haha, aku sampai lupa tadi membawanya. Terima kasih yah Mil.” ucap Zelin tersenyum.


“Santuy.”


Akhirnya Zelin membuka kado dari Mila dahulu, ternyata sepatu ala-ala korea


“Wahh. Bagus Mil, Terima kasih ya.” ucap Zelin


“Hehe iya.” senyum Mila tulus.


Zelin mengambil kado Dani dan membukanya.


“Wah, tumben Bang Dani mau ngeluarin duit banyak buat kado orang." celoteh Mila sambil tertawa melihat tas yang belinya lumayan mahal.


“Tapi, kenapa kado bang Bayu kecil yah?.” tanya Mila.


Zelin membuka kado itu, terlihat kotak cincin berbeludru warna navy


“Wah. Al, lo di kasih cincin sama bang Bayu, jangan-jangan dia serius lagi mau jadiin lo pacar”, ucap Mila semangat.


“Haha, tidak mungkin Mil, lagian aku belum mau, punya KTP saja aku belum.” jawab Zelin polos.


Zelin meraih tasnya, ingin mengeluarkan sesuatu.


“Maaf yah Al, bang Raska emang gak pernah kasih kado sama orang, ucapin aja jarang.” ucap Mila yang sedang cemberut.


Zelinpun tidak jadi mengeluarkan barang didalam tasnya.


“Tidak apa apa Mil, santai saja.” jawab Zelin tersenyum.


Selesai membuka kado, mereka shalat Dzuhur, dan menyuruh Mila rebahan dulu di kamarnya jika lelah. Sedangkan Zelin membantu Lia, karena kafe sedang ramai sekarang.


Zelin sibuk mengantarkan pesanan dan Lia sibuk membuatkan pesanan.


Lia bersyukur karena tuhan memberikan rejeki yang cukup untuk mereka berdua.


Lia melihat kearah Zelin yang sedang mengantarkan pesanan dengan senyuman dan semngatnya.


Tidak terlihat muka sedih atau kecewa dengan takdir yang telah merenggut nyawa orang yang berarti baginya.

__ADS_1


"Tersenyum adalah salah satu cara kamu bersyukur atas nikmat-Nya"


__ADS_2