
Waktu berjalan begitu saja. Zelin bingung sudah dua bulan haidnya tidak kunjung datang. Pagi ini, Zelin merasa badannya sangat sakit. Setelah selesai shalat subuh bersama dengan Raska, Zelin menyalimi suaminya itu seperti biasa.
"Sayang. Kamu kenapa? Kok seperti orang kelelahan?." Tanya Raska pada Zelin.
"Aku juga tidak mengerti, badan ku sakit sakit sekali, sepertinya aku stres memikirkan pekerjaan kantor sampai sampai aku belum datang bulan." Curhatan Zelin.
Biasanya, jika Zelin sedang banyak fikiran jadwal haidnya selalu terlambat, karena merasa stres.
"Mau aku pijit?." Tawar Raska pada Zelin.
"Boleh sekali. Itu yang aku inginkan mas." Ucap Zelin mengarahkan punggungnya kepada Raska.
Raska memijat punggung istrinya itu dengan lembut, telaten karena sudah terbiasa Zelin meminta pijitan kepada Raska.
Bagi Zelin, Raska adalah suami yang sempurna. Bisa memasak ketika ia tidak ingin masak, bisa memijit jika badannya terasa sakit. Intinya, Raska paket komplit banget.
"Apa kamu mau berobat saja? Nanti kita pergi ke rumah sakit ya." Ajak Raska kepada Zelin.
"Sepertinya tidak usah mas. Aku hanya masuk angin mungkin, pekerjaan ku di kantor banyak sekali sekarang." Keluh Zelin.
__ADS_1
"Kalau kamu sudah tidak kuat, berhenti saja." Usul Raska, dengan keadaan masih memijit Zelin.
"Ke kiri sedikit Mas." Pinta Zelin.
Raska menghembuskan nafasnya, terkadang istrinya memang begitu. Di kasih hati minta jantung, batinnya. Raska mengarahkan tangannya sedikit ke kiri.
"Nah pas mas. Bukannya aku tidak mau berhenti bekerja mas, toh itu perusahaan kita juga. Aku hanya belajar jadi orang yang profesional mas. Aku tidak mau menjadi contoh yang tidak baik untuk karyawan ku." Ucap Zelin.
Raska yang masih memijit punggung istrinya itu mengeluh pasrah.
"Baiklah, aku tidak akan menyuruh mu berhenti. Tapi perhatikan dulu..." Kata kata Raska terhenti karena Zelin langsung berlarian ke kamar mandi.
Setelah acara muntah muntah, Zelin tertidur di kasung king size itu. Jam menunjukka pukuk 7 pagi. Dokter Agung datang dengan alat kesehatannya.
"Cepat periksa istri saya itu." Perinta Raska.
Dokter Agung memeriksa Zekin, mengecek jantung, mata dan urat nadi tangannya.
Dokter Agung adalah temannya ketika kuliah dulu, hanya berjarak 3 tahun dengannya. Agung sudah menjadi dokter dan bahkan banyak yang memakai Agung sebagai dokter keluarga karena sikapnya yang ramah.
__ADS_1
Raska cemas dengan kondisi Zelin saat ini. Istri kecilnya ini mungkin sedang banyak pikiran hingga Zelin menjadi sakit seperti ini fikir Raska.
Dokter Agung tersenyum ke arah Raska.
"Kamu tidak usah cemas, setelah ini bawa saja istri mu ke rumag sakit." Ucap dokter Agung dengan senyuman.
"Jadi bagaimana?." Tanya Raska bingung.
"Itu kejutan untuk mu, saya permisi." Ucap dokter Agung itu dan langsung meninggalkan Raska yang sedang bingung.
Raska kembali cemas, ketika memgingat dokter Agung meminta ia untuk membawa Zelin ke rumah sakit. Dengan sigap, Raska menggendong istrinya itu dan mamasukinya ke mobil. Raska masih cemas dengan kondisi Zelin.
Sesampai di rumah sakit, Raska meminta perawat dengan cepat menolong istrinya.
"Astaga. Kenapa pada lelet semua. Cepat periksa istri saya." Bentak Raska kepada perawat perawat itu.
Sontak semua perawat bergerak dan membawa Zelin keruangan pemeriksaan, sedangkan Raska menunggu di luar dengan perasaan yang tidak enak.
"Jangan membuat ku cemas, aku sangat takut kehilangan mu."
__ADS_1