Mama 16 Th

Mama 16 Th
Raska 2


__ADS_3

Raska dan Zelin masih berbincang melepas kerinduan yang teramat sangat mereka rasakan. Zelin memandangi muka Raska yang menceritakan tentang keadaannya selama di Jepang. Zelin menatap lekat wajah tampan Raska tanpa mengedip. Memuji ciptaan tuhan yang sunggu sempurna baginya.


"Kenapa selalu memperhatikan ku?. Ucap Raska.


"Tidak apa. Aku hanya merindukan wajah kamu saja." Ucap Zelin.


"Oh iya. Apa sekarang aku akan menjadi mahasiswa lagi?." Tanya Raska.


"Kalau kamu mau tidak apa." Ucap Zelin.


"Aku tidak mau, aku ingin menikah dengan mu saja." Ucap Raska.


"Hm. Aku belum mengambil cincin kita." Ucap Zelin dengan nada sedih.


"Baguslah. Biar kita mengambilnya berdua, bagaimana mungkin kamu mengambilnya tanpa ku". Ucap Raska.


"Tapi apa benar kamu tidak akan melanjkutkan kuliah?." Ucap Zelin.


"Menurut mu bagaimana?. Tanya Raska.


"Kuliah saja, selesaikan sarjana mu." Ucap Zelin.


"Baik bu boss. Apa aku ulang dari semester awal atau bagaimana?." Tanya Raska.


"Tanya ke bagian akademik saja. Jangan pada ku." Ucap Zelin.


"Siapa tau kamu mengerti." Balas Raska.


"Astaga Raska. Kamu kembali kenapa malah seperti ini. Bukannya tambah pintar pulang dari Jepang." Ucap Zelin kesal.

__ADS_1


"Kamu mengejek calon suami mu?." Tanya Zelin.


"Tidak juga." Ucapnya.


Lama berbincang akhirnya Zelin dan Raska memutuskan untuk ke rumah Bayu dan Lia.


Di dalam mobil sepelanjang perjalanan Raska masih betah memegang tangan wanita yang ia cintai ini.


"Raska, aku sudah tidak mengantuk lagi sekarang kalau naik mobil." Ucap Zelin.


"Lalu?." Balas Raska.


"Ya kamu bisa melepaskan tangan ku." Ucap Zelin.


"Tidak dong. Bagaimanapun, sampai kapan pun aku akan selalu genggam tangan mu." Ucap Raska.


"Ketika bersama Melfa saja tangan Melfa yang kamu pegang.


"Tentu saja tidak, kenapa aku harus cemburu?." Tanya Zelin.


"Lagian Melfa anak ku, bukan kita." Ucap Zelin lagi.


"Anak aku juga, aku akan menjadi suami mu. Jadi semua milik mu adalah milik aku juga." Ucap Raska tidak mau kalah.


"Wah. Bagaimana bisa kamu sekarang ke kanak kanakan seperti ini?." Tanya Zelin.


"Biarkan saja. Istri aku sendiri kok." Jawab Raska.


"Enak saja. Belum sah yah." Bantah Zelin.

__ADS_1


"Tunggu sebentar lagi yah bunda." Ucap Raska dengan menekankan kata bunda.


"Bunda?." Tanya Zelin.


"Iya bunda." Jawabnya dengan santai.


"Aku ingin memanggil mu bunda setelah menikah nanti." Jawab Raska.


"Astaga. Raskaaaa aku malu." Ucap Zelin.


"Kenapa kamu selalu malu pada ku?." Tanya Raska.


"Karena kamu selalu buat ku malu." Jawab Zelin.


Raska menepikan mobilnga, menggenggam erat tangan Zelin.


"Hmm. Aku serius sama kamu Zelin. Aku tau, aku sudah membuang waktu yang lama. Membuat kamu bersedih setiap hari karena itu, aku ingin menebus semua kesalahan aku. Aku ingin hidup sama kamu, menua bersama kamu." Ucap Raska tulus.


"Aku tidak menyalahkan kamu Raska. Aku yang seharusnya bersalah pada keadaan saat itu. Kalau saja aku tidak menjadi sasarannya. Mungkin kamu tidak akan mengorbankan diri mu sendiri." Jawab zelin.


Raska menarik tubuh Zelin ke arahnya. Raska memeluk wanita cantik ini. Tangan kanannya mengusap kepala Zelin dengan lembut.


"Terima kasih banyak sudah menunggu ku." Jawab Raska.


"Sampai kapanpun." Ucap Zelin.


Raska mengendarai mobilnya lagi dengan tangan yang masih menempel.


"Cinta itu menguatkan mu, membuat mu percaya kalau ia tidak pernah pergi."

__ADS_1


"maaf, kemaren Raska dan Zelin tidak hadir. Terima kasih buat yang selalu mampir ke lapak aku"


__ADS_2