Mama 16 Th

Mama 16 Th
Takut kehilangan lagi


__ADS_3

Di perjalanan, Zelin mengingat Mila dan langsung menelfonnya untuk memberi tahu bahwa Lia masuk rumah sakit


“Halo Mil.” ucap Zelin sambil menahan tangisnya.


“Iya Al, kenapa? Lo kenapa?.” ucap Mila yang kaget karena tidak biasanya Zelin menelfon dengan suara seperti ini.


“Kak Lia masuk rumah sakit, dia mengeluarkan banyak busa dari mulutnya.” jelas Zelin


“Astaga, rumah sakit mana? Biar gue sama Dani kesana.” tanya Mila dengan nada cemas juga


“Rumah sakit X Mil, terima kasih banyak yah.” ucap Zelin.


“Iya, lo gak usah sungkan sama gue.” balas Mila


Dan telfon pun terputus.


Mobil sampai di depan rumah sakit, langkah Zelin tertatih untuk memasuki rumah sakit lagi. Wajah Raska selalu terbayang di dalam pikirannya. Kehilangan Raska lukanya saja belum sembuh, apakah akan datang luka baru lagi? pertanyaannya dalam hati.


Zelin dan Melfa masuk kedalam rumah sakit, dan mencari ruangan yang telah di beri tahu oleh Bayu.


Zelin melihat Bayu yang masih berada di depan ruangan dengan wajah yang gusar, beberapa kali mengusap kepalanya. Sangat terlihat dari wajahnya kalau ia sedang bersedih. Rasa bersalah Zelin lagi lagi bertambah melihat kondisi kakaknya itu.

__ADS_1


Melfa menghampiri Bayu.


“Daddy kenapa begitu cemas?.” ucap Melfa sambil menggelayutkan tangannya di tangan Bayu


“Daddy tidak apa apa sayang.” ucap Bayu sambil tersenyum dan mengusap kepala Melfa.


Melfa tersenyum juga ketika melihat Daddynya itu juga tersenyum.


“Bagaimana keadaan kak Lia kak?.” tanya Zelin khawatir.


“Kakak juga tidak tau dek, kita tunggu dokter saja yah.” ucap Bayu.


Tak lama, Mila dan Dani datang. Mila langsung memeluk Zelin. Ia tau sahabatnya ini pasti merasa sangat sedih, kenangan dari kakaknya Raska saja belum hilang, harus merasakan hal buruk lagi.


“Aku juga tidak tau Mil, aku sudah melihat kak Lia pucat dan ada busa dari mulutnya, semalam aku pulang terlambat, aku melihat kak Lia sudah tertidur hjadi aku tidak melihat dengan benar. Aku takut Mil, aku takut kehilangan untuk ke sekian kalinya, bahkan luka Raska masih membekas, aku tidak ingin kehilangan kak Lia, aku tidak sanggup Mil.” terang Zelin sambil melepaskan pelukkanya.


“Sabar Al, kak Lia pasti baik-baik saja, lo harus percaya kalau kak Lia adalah wanita yang kuat.” ucap Mila menenangkan.


“Terus kata dokter gimana Al?.” tanya Dani.


“Dokter belum keluar dari tadi.” ucap Bayu yang masih cemas.

__ADS_1


Mereka berlima duduk di bangku, menunggu dokter yang sudah 20 menitan di dalam ruangan. Pintu yang di tunggu pun terbukia, dan keluar seorang dokter dengan beberapa perawat.


“Kakak saya bagaimana dok?.” tanya Zelin langsung


“Apa anda saudaranya?.” tanya dokter


“Iya dok, saya adiknya."Jawab Zelin dengan cepat.


“Mari ikut saya dulu keruangan, nanti saya akan jelaskan langsung.” kata dokter.


“Baik dok.” ucap Zelin.


Dokter dan perawat perawat itu pun pergi.


“Melfa sayang, mama ke dalam dulu yah, kamu di sini aja dulu, sama daddy dan yang lain yah.” rayu Zelin pada putrinya itu.


“Iya mama, aku tunggu di sini.” ucap anak kecil itu


Zelin berjalan meninggalkan mereka semua menuju ruang dokter yang tidak jauh dari sana.


Batin dan fisiknya bergetar, matanya kembali berair, kemungkinan yang buruk adalah persentase terbesar yang akan dia dengar sebenatar lagi karena kelalaiannya.

__ADS_1


Andai saja tadi malam dia tidur di kamar Lia, pasti ini tidak akan terjadi.


Andai saja dia sigap dalam memahami keluarganya, mungkin sekarang dia tidak disini.


__ADS_2