
Setelah pernikan Bayu dan Lia, Mila akan mengurus Risya sekarang. Siapa yang tau manusia yang cantik dan lembut seperti Mila akan menjadi moster yang seram apa bila orang lain mengganggu saudara saudaranya.
Seperti ketika dia SMP dulu, ia melihat teman temannya sedang memgelilingi seorang gadis dengan kaca mata tebal dan besar. Gadis itu sedang di bully oleh temannya yang lain. Dengan beraninya Mila menendang p*nt*t mereka semua dari belang lalu terjatuh.
Mommy dan daddynya mengira itu karena ia pintar bela diri, mungkin memang Mila pandai bela diri, tapi terkadanc nafsunya untuk menyakiti orang lain sering kali datang tanpa bisa ia hindari.
Tetapi, sangat jarang Mila menyakiti orang orang. Terkecuali jika orang itu benar benar salah.
Selama ini tidak ada yang mengetahui nama keluarga dari Risya. Karena Risya hanya menggunakan nama Risya Alexa jadi susah untuk membuatnya jera atas apa yang ia lakukan.
Mila menelepon seseorang dengan ponselnya.
'Hallo', ucap Mila dengan orang yang diseberang telepon.
....
'Sudah lamakan gue gak minta bantuan sama lo.' ucap Mila
....
'Sekarang waktunya lo ke Indonesia, liburan lo di Jepang sudah cukup dan cari tau keluarganya Risya Alexa siapa, kalo udah dapat infonya kabari gue lagi.' perintah Mila.
Mila senyum sambil menutup telfonnya. Senyum yang sejujurnya sangat menyeramkan. Mila sangat geram dibuat oleh Risya.
"Gak semudah itu lo rusak sebuah hubungan." ucap Mila sendiri.
__ADS_1
***
Zelin mengundurkan diri menjadi CO muda. Dia merasa balas dendam dengan niat yang jahat memang langkah yang salah.
Zelin kembali mengurus kafe. Tinggal berdua dengan Melfa.
Rumah besar yang di belinya di berikan kepada Bayu dan Lia, agar mereka tinggal di rumah itu dan sesekali Zelin dan Melfa bisa menginap.
Bayu tidak ingin membuat adik tersayangnya itu bersedih dan memilih untuk menerimanya.
"Selamat pagi hidup baru." ucap Zelin bersemangat pagi ini.
Zelin melihat ke arah Melfa yang masih nyenyak tertidur. Anak cantik berumur 5 tahun ini yang entah anak siapa sudah mengisi hari harinya sekarang.
Zelin meninggalkan ranjang tidurnya. Bersiap siap untuk membuka kafe hari ini. Gadis cantik ini menyapu senua lantai dan lap semua meja dengan hati yang sangat senang.
Jam 7.15 kafe di buka.
Seperti biasa, pagi ini belum terlalu ramai, jadi Zelin bisa mengurus Melfa dahulu. Membangunkan, memandikan, buat sarapan, dan membahas hal hal yang di sukai anak kecil pada umumnya.
"Mama, kapan kita ke rumah bunda?." tanya Melfa kecil kepada Zelin.
"Setiap akhir pekan Melfa boleh tidur di rumah Bunda, tapi harus janji dulu sama mama, jangan nakal." ucap Zelin sambil tersenyum.
"Janji mama. Tapi, apa mama tidak ikut juga?." Melfa.
__ADS_1
"Mmm, tidak, karena hari minggu pelanggan mama banyak, jadi sibuk deh." ucapnya sambil tersenyum.
"Haha. Percaya diri sekali mama." ucap Melfa dengan tertawa.
"Iya dong. Percaya diri itu harus sesekali. Ok." ucap Zelin
"Oke mama,makanannya habis mah, Melfa kenyang." ucap gadis kecil itu sambil mengusap ngusap perutnya.
"Haha... lucu bangetttt." ucap Zelin gemas menggesekkan hidung mereka berdua.
Hp Zelin berbunyi. Panggilan masuk dari Mira.
'Hallo mommy, ada apa?.' Jawab Zelin mengangkat teleponnya.
'Bagaimana keadaan mu Elin?." Tanya Mira diseberang telepon.
'Sangat baik mommy, mommy apa kabar? Cepat sekali ke Belanda, Elin masih rindu padahal.' rengek Zelin
'Iya. Daddy mu ini. Urusan kantornya banyak, mommy aja capek yang nemeni.' ucap perempuan parubaya itu.
'Haha. Mommy jangan seperti itu. Itu daddy Elin mom.' ucap Zelin tertawa.
'Apa mommy ini tidak mommy kamu?.' Tanya Mira dengan nada bercanda.
Mereka asik menelepon, dan menghabiskan waktu sarapan.
__ADS_1