
Raska mengajak Zelin duduk di depan rumah yang mengarah ke danau.
Seperti sepasang kekasih tua yang menghabiskan sisa umur mereka di vila dengan saling menyayangi. Zelin tak henti-hentinya tersenyum.
Ini adalah tempat ternyaman selain rumah baginya.
Hatinya damai mendengar kicauan burung dan suara air dari belakang vila
‘Sepertinya ada air terjun di belakang.’ batin Zelin.
Belum ada yang memulai pembicaraan di antara mereka. Sampai akhirnya, Raska melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi memegang tangan Zelin.
“Makasih yah Zel.” ucap Raska memecah keheningan.
“Terima kasih untuk apa?.” tanya Zelin
“Makasih udah membantu.” Raska.
“Maksud kamu?.” Zelin
“Makasih waktu itu udah bantu buat selametin ayah aku.” Raska
“aku tidak mengerti Ras.” Zelin
Flashback on
Bocah pria bernama Raska febra Abramo berumur 9 tahun sedang menikmati indahnya alam bersama ayah dan ibunya.
Saat itu pria yang menginjak kelas 3 SD ini bermain ayunan bersama ibunya.
Terlihat di depan matanya ada seseorang yang menembak ayahnya dari arah pohon.
Tembakan itu berasal dari mobil berwarna hitam.
Raska kecil pun kaget dan berlari menuju ayahnya itu, begitu juga ibunya.
Tangisan mereka pecah ketika melihat darah yang keluar semakin banyak.
Tak lama datang seorang gadis kecil berambut panjang memberikan kain untuk menahan darah agar tidak banyak keluar, dan menitipkan secarik kertas yang bertuliskan angka.
Ayah meninggal setelah sampai di rumah sakit, dan Raska memberi kabar kepada adik ayahnya agar mencari plat mobil yang di berikan gadis kecil itu.
__ADS_1
Saat itu ibunya drop mengetahui ayahnya meninggal, sampai sekarang ibu ada di rumah sakit jiwa.
Flashback off
“Kamu tau dari mana kalau itu aku?.” tanya Zelin.
“Aku udah nyuruh orang kepercayaan aku buat selidiki kamu dari awal kita ketemu di mall. Rambut panjang kamu buat aku ngerasa kalau kamu benar gadis kecil penolong itu.” terang Raska
“Mmm. Aku juga pengen liat ibu kamu.” ucap Zelin
"Kapan-kapan aku ajak ke sana yah.” balas Raska.
“Mm. aku boleh tau tentang kamu?.” minta Raska
“Silahkan tanya, selagi aku bisa jawab aku bakal jawab.” Zelin.
“Sesayang apa kamu sama Melfa?.” Raska
“Melfa itu bagai bulan buat aku. Dia datang di saat dunia gelap untuk aku jalani. Dia memberi aku cahaya dan semangat untuk hidup. Bahkan aku tidak bisa bayangkan kalau sekarang aku bakalan jauh dari dia.” ucap Zelin
“Dia anak kandung kamu?.” Raska
“Mm. Iya aku paham, tapi kenapa kamu gak pernah bantah kalau kamu bukan janda?.” Raska
“Seperti ini ya Ras, aku tidak perlu debat sama siapa pun hanya untuk bilang diri aku baik. Orang yang mau nerima aku apa adanya bakalan tetep bareng sama aku walaupun tau aku janda. Contohnya Mila, Dani dan kamu. Jadi aku rasa tidak perlu buktikan aku baik, karena nanti malah jadi tinggi hati.” penjelasan Zelin.
“Duuhh. Dewasa banget sih, udah punya KTP belum?.” tanya Raska
“Belum, aku masih 16 tahun, bentar lagi 17 aku bisa punya KTP, nanti bantuin aku mengurusnya yah.” pinta Zelin dengan sangat imut.
“Iya-iya, lucu banget. Ada syaratnya tapi.” ucap Raska
“Apa?.” Zelin
“Nanti syaratnya aku kasih tau yah.” ucap Raska
‘Jangan baik banget dong sama aku, aku tidak kuat sama perasaan sendiri. Aku takut patah hati bahkan sebelum aku benar-benar jatuh hati.’ batin Zelin.
“Kenapa kamu jadi orang yang cuek?.” tanya Zelin
“Aku cuma gak mau jatuh pada orang yang salah. Kalo aku ramah ke semua orang, berarti aku memberi mereka harapan. Dan aku juga ga mau main-main sama sembarang wanita.” Raska.
__ADS_1
‘Berarti aku ini apa Ras? Ah sudahlah. Bahkan aku tidak pantas di sandingkan dengan dia yang sempurna seperti ini.’ batin Zelin.
“Kenapa ngelamun?.” tanya Raska
“Tidak apa-apa kok.” Zelin senyum.
“Aku paling males basa basi sama orang, dan aku juga males kalau orang basa basi sama aku. Jadi kalo kamu butuh apa-apa kabari aku yah.” ucap Raska
“Haha.. udah lancar nih pake aku kamunya.”goda Zelin
“Yah belajar dong.” jawab Raska tak mau kalah.
“Mm. Kenapa tidak ada perahu Ras di danau ini? seharusnya kan kita kayak di film film main perahuan.” ucap Zelin
“Haha. Pengen banget romantisan bareng aku.” Raska
“Ih. Bukan gitu Raska, tapi kan aku juga mau main perahuan.” Jawab Zelin dengan pipih yang sudah memerah.
“Kapan-kapan deh aku ajak main perahuan ya.” Raska mengelus kepala Zelin.
“Kebiasaan deh, rambut sama hati aku kusut kalau kamu seperti ini.” ucap Zelin malu.
“Ih, kok bawa-bawa hati sih?.” ucap Raska
“Tidak apa-apa, makanya, tangan di jaga.” ucap Zelin
“Kalau gak mau gimana?.” tanya Raska sambil mencubit hidung Zelin dan berlari ke arah danau.
Zelin dan Raska tertawa bersama, Zelin yang mengejar Raska pun hampir saja terjatuh karena tepian danau yang licin. Untung saja badannya masih seimbang, sehingga tidak jadi terjatuh.
“Nah kan hampir jatuh, makanya ga usah di kejar. Biar aku aja yang mendekat.” goda Raska yang mulai mendekatkan diri.
“Aaa Raska. Kenapa kamu malah bikin aku malu.” ucap Zelin sambil menutup mukanya dengan telapak tangan.
“Haha. Iya-iya. Maaf deh, ayok ke vila lagi. Udah mulai mendung kayaknya.” ajak Raska
“Kita kembali ke mobil saja. Nanti hujan beneran kita susah pulang.” pinta Zelin.
“Oke deh.” Raska.
"Kamu orang baik, akan mendapatkan yamg terbaik juga."
__ADS_1