Mama 16 Th

Mama 16 Th
Mengakhiri Hidup


__ADS_3

Zelin bangun terlambat pagi ini, karena biasanya Lia tidak pernah lupa membangunkannya, sekarang Lia entah kemana. Lia tidak membangunkannya seperti biasanya lagi.


Setelah mandi dan bersiap ke kantor, Zelin melihat kamar Lia, dan masih seperti tadi malam. Posisi Adelia tidak berubah sedikitpun, selimutnya masih sampai di ujunv kepala, dan masih tidak dengan miring. Tidak ubahnya tadi malam ketika Zelin melihat Adelia.


Zelin membuka selimut dan melihat Lia yang sudah pucat dan banyak busa di mulutnya. Adelia masih memejamkan matanya atau tertidur atau apapun, Zelin tidak paham.


Zelin kaget dan menjerit, sehingga Melfa bangun dan menghampiri Zelin di kamar Lia. Melfa yang baru bangun bungung dengan situasi dan kondisi sekarang.


“Kenapa mama?.” tanya Melfa sambil mengucek matanya.


Melfa belum terlalu sadar, sehingga id tidak tahu apa yang terjadi pada Adelia.


Zelin langsung menutup mata Melfa, agar tidak melihat kondisi Lia.


Zelin membawa Melfa keluar, dan menyuruh Melfa mandi sendiri. Sedangkan Zelin menelepon Bayu.


“Kak Bayu, cepet ke sini, kak Lia kak.” ucap Zelin pada Bayu dengan setengah menangis.


Zelin tidak membayangkan apa yang terjadi dengan kakaknya ini. Sebentar lagi hubungan mereka akan benar benar menjadi kakak adik.


“Kenapa dek?.” ucap Bayu kaget mendengar Zelin menangis.

__ADS_1


“Kakak kesini dulu cepet.” rengekan Zelin.


Zelin bingung, bagaimana cara membawa Adelia ke rumah sakit, karena kamarnya berada di lantai 2.


Membopong Adelia untuk menuruni tangga adalah ide yang sangat buruk ketika itu. Cara satu satunya adalah menunggu Bayu datang dan membawa Adelia ke rumah sakit.


Bayu masuk kedalam rumah berlantai dua itu. Langsung menuju kamar Lia dengan langkah yang cepat.


“Astaga, kenapa dek? Ada apa dengan Lia?.” tanya Bayu cemas


“Elin juga tidak tau kak Lio, dari tadi malam kak Lia tidak bangun-bangun, dan pas Elin lihat ternyata kak Lia sudah seperti ini. ayok kak, cepet bawa ka Lia ke rumah sakit.” ucap Zelin sambil menangis.


Bayu membawa Adelia keluar rumah dan masuk kedalam mobil, sedangkan Zelin tidak bisa meninggalkan Melfa sendiri, dan harus membawanya ke kantor.


Di dalam mobil, Zelin selalu cemas dengan keadaan kakaknya itu, matanya bergenangan tapi airnya tak kunjung boleh menetes karena tak ingin membuat anaknya sedih.


“Mama kenapa? bunda dimana?.” Tanya Melfa melihat kearah Zelin.


“Mama tidak apa apa sayang, bunda lagi sakit, lagi demam, jadi kita jenguk bunda ke rumah sakit yah.” terang Zelin sambil tersenyum dan mencium kening Melfa


Anak kecil itupun tersenyum dan menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Zelin tidak berniat untuk membohingi Melfa. Hanya saja masalah ini terlalu tidak pas apabila di ceritakan kepada Melfa.


Sepanjang jalan Zelin selalu menyalahkan dirinya sendiri. Kali kedua ia membuat orang yang di cintainya dalam celaka.


Zelin menangis, walaupun harus menyembunyikan tangisannya dari Melfa. Melfa masih terlalu kecil untuk melihat orang tuwnya menangis.


Di perjalanan, Zelin mengingat Mila dan langsung menelfonnya untuk memberi tahu bahwa Lia masuk rumah sakit


“halo Mil”, ucap Zelin sambil menahan tangisnya.


“iya Al, kenapa? Lo kenapa?”, ucap Mila yang kaget karena tidak biasanya Zelin menelfon dengan suara seperti ini.


“kak Lia masuk rumah sakit, dia mengeluarkan banyak busa dari mulutnya”, jelas Zelin


“astaga, rumah sakit mana,. Biar gue sama Dani kesana”, ucap Mila


“rumah sakit X Mil, terima kasih banyak yah”, ucap Zelin


“iya, lo gak usah sungkan sama gue”, balas Mila


Dan telfon pun terputus.

__ADS_1


Mobil sampai di depan rumah sakit, langkah Zelin tertatih untuk memasuki rumah sakit lagi. Wajah Raska selalu terbayang di dalam pikirannya. Kehilangan Raska lukanya saja belum sembuh, apakah akan datang luka baru lagi? pertanyaannya dalam hati.


"Luka pertama belum hilang, apakah aku akan dapatkan luka kedua, ketiga?"


__ADS_2