Mama 16 Th

Mama 16 Th
Raska 1


__ADS_3

Hari yang sangat cerah dengan semangat yang membara, begitulah bila di lihat semangat Zelin hari ini.


"Semangat Elin." Ucaonya menyemangati diri sendiri.


Ia mulai merapikan kafe. Menyapu dan mencuci piring serta gelas. Mengelap semua meja yang ada di kafe itu dengan wajah yang berseri seri.


"Semangat sekali." Ucap seseorang yang membuka lintu kafe pertama pagi ini.


Zelin terdiam, belum berani melihat ke sumber suara yang selama ini ia rindukan. Air matanya menetes ke meja. Masih dengan menundukkan landangannya.


"Apa kamu tidak ingin memeluk ku?." Ucap pria itu lagi.


Zelin hanya diam. Takut untuk mengangkat kepalanya dan tahu bahwa ini tidak nyata.


Pria itu mendekat dengan langkah kaki yang terdengar jelas di telinga Zelin.


"Apa kamu tidak merindukan ku?." Tanya pria itu lagi.


Zelin masih menundukkan kepalanya dengan air mata yang menetes tanpa bisa ia tahan.


Raska memeluk Zelin. Zelin masih betah dengan diam. Belum membalas pelukkan yang ia rindukan ini.


"Hampir dua tahun aku tidak memeluk mu." Ucap Raska.


"Apa kamu tidak ingin membalas pelukkan ku?." Ucap Raska.


Zelin masih belum kuat mengangkat tangannya. Bagaimana mungkin ia bisa merasakan pelukkan hangat ini lagi. Walaupun Mila dan Riski sudah memberi tahu fakta sebenarnya tetap saja. Ini tidak semudah yang dia bayangkan.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak merindukan ku aku akan pergi." Ucap Raska melepaskan pelukkan.


Berjalan dua langkah tiba tiba ada dua tangan yang memeluknya dari belakang. Raska tersenyum melihat Zelin yang masih menerima kehadirannya.


"Bagaimana mungkin aku melupakan mu." Ucap Zelin.


Raska membalikkan badannya. Dan membalas pelukkan Zelin sekarang. Berulang kali mengkecup puncak kepala wanita yang di rindukannya itu.


Zelim masih betah memeluk Raska. Belum ada niat buat melepaskannya.


"Aduh. Aku sesak nafas." Ucap Raska.


"Raska kamu kenapa?." Tanya Zelin cemas.


"Nafas ku sesak karena kamu memeluk ku terlalu erat." Goda Raska.


"Iih. Kamu masih saja jail." Ucap Zelin melanjutkan lap meja.


Raska tersenyum, bahagia, bahkan sangat bahagia.


'Terima kasih tuhan. Sudah mengizinkan ku bersamanya lagi.' Ucap Raska dalam hati.


Selesai melap semua meja, Zelin menghampiri Raska, duduk berhadapan dan saling memandang.


"Cantik mu awet ya." Ucap Raska.


"Aku malu Raska." Ucap Zelin tertunduk malu.

__ADS_1


"Maaf aku tidak mengabari mu lama, bahkan aku membuat kamu berpikir aku meninggalkan mu." Ucap Raska.


"Tidak apa, aku paham. Aku hanya masih belum percaya." Balas Zelin.


"Terima kasih mau menunggu ku hampir dua tahunan ini. Aku kira kamu benar melupakan ku." Ucap Raska.


"Bagaimana mungkin aku melupakan mu, sedangkan kamu adalah aku." Ucap Zelin pelan.


"Terima kasih Zelin. Aku benar benar merindukan mu." Ucap Raska.


"Aku lebih Raska." Balas Zelin.


"Melfa mana? Aku merindukannya." Ucap Raska.


"Melfa di rumah kak Lio sama kak Lia." Balas Zelin.


"Oh iya. Kak Lio sama kak Lia udah nikah Ras." Ucap Zelin.


"Aku tahu." Balas Raska.


"Yah.. aku kira kamu tidak tahu." Jawab Zelin.


"Aku sudah memantau semua lewat Riski dan Dodi Zelin."


Ucap Raska yang di balas anggukan oleh Zelin.


"***Bagaimana mungkin aku melupakan mu, sedangkan kamu adalah aku"

__ADS_1


Terima kasih buat yang masih setia.


aku menyayangi kalian***


__ADS_2