
Sesampai di rumah mewah ini, Raska dan Bayu keluar dari mobil, Bayu menggendong adiknya itu dan membawanya kedalam rumah.
Rambut panjanganya terjuntai sempurna, mata tertutup dengan bulu mata yang lentik, bibir tipis berwarna pink alami membuat Zelin benar-benar terlihat sempuna.
“Astaga, siapa yang kamu bawa Lio?.” tanya Mira.
“Nanti Lio jelaskan ya Mom, sekarang Lio mau bawa ke kamar dulu.” ucap Bayu.
Sedangkan Raska duduk di ruang tamu, Bayu jalan ke kamar yang jarang di buka sebelah kamarnya.
“Itu kamar Elin, tidak biasanya kamu mengizinkan orang lain masuk ke kamar adik mu itukan?.” tanya Mira ketika Bayu sampai di ruang tamu menemui Mommy nya itu.
“Daddy kapan pulang mom?.” tanya Bayu yang mulai mengeluarkan hpnya.
“Sebentar lagi mungkin, kenapa kamu tak menjawab pertanyaan mommy Lio, jangan bilang kamu menghamili anak orang.” tanya Mira curiga.
“Mana mungkin Lio menghamili adik sendiri mommy.” jawabnya acuh.
“Apa maksud mu Lio." bentak Mira karena shock.
“Dia Elin mommy, dia adik Lio, dia Elin kecil Lio mommy.” katanya menjelaskan kepada Mira sambil memeluk mommy nya itu.
“Apa? kamu tidak bohongkan Lio? dia Elin mommy kan?." tanya mommy dengan mata berlinang.
Mira berjalan menuju kamar Zelin. Terlihat zelin bingung karena bangun tidur. Mira datang dan memeluk erat Zelin.
“Mommy kangen sama kamu sayang, mommy sudah lama mencari kamu.” ucap Mira sambil mengelus rambut Zelin dan menangis.
“Elin juga kangen sama mommy, maafin Elin mommy, Elin tidak tau mau cari mommy kemana.” ucapnya dengan tangisan.
“Tidwk apa-apa sayang, yang penting sekarang kita sudah sama-sama lagi." ucap Mira menghapus air mata Zelin.
Ternyata Stev Donzello terlambat pulang, dan baru sampai dirumah ketika semua sudah di meja makan.
Zelin sudah memberi tahu Lia bahwa dia akan pulang terlambat, sedangkan Raska sekarang sudah pulang ke rumahnya.
Suara mobil terdengar, Zelin langsung berdiri dan berlari ke depan pindu.
“Jangan berlari Elin, nanti kaki kecil mu terluka.” ucap Bayu yang selalu mengingatkan adiknya.
“Iya kak, Elin hanya ingin bertemu Daddy.” jawabnya.
Pindu terbuka, dan melihatkan pria yang sudah mulai berumur, tapi masih terlihat tampan.
Zelin langsung memeluk Stev dengan sangat erat. Pria tinggi itu heran dan melepaskan pelukannya.
“Ini Elin daddy, daddy lupa?.” tanya nya dengan nada kecewa.
Stev terkejut, matanya berlinangan, sedih, bahagia, marah bercampur menjadi satu.
Stev menggendong Zelin di pundaknya, seperti saat dia kecil dulu.
“Daddy tidam lupakan?.” tanya Zelin meyakinkan daddynya.
“Bagaimana mungkin daddy lupa sayang.” jawab Stev.
Mira dan Bayu tersenyum karena Elin kecil mereka telah kembali.
__ADS_1
Mira dan Stev memang menyayangi Zelin seperti anak kandungnya, begitu juga ayah dan ibu Zelin, menyayangi Bayu layak putranya sendiri.
Selesai makan malam, Mira dan Stev menyuruh Zelin menginap, tapi dia menolak, kasihan kakak dan anaknya ditinggal.
“Bukannya Elin tidak mau mom, dad. Tapi anak dan kakak Elin kasihan kalo di tinggal.” jawab Zelin jujur.
“Ha? Kamu sudah menikah sayang?.” tanya Stev.
“Bukan Dad, nanti kalau ada waktu Elin akan certakan semuanya sama daddy dan mommy yah. Kak Lio, antar Elin pulang dulu yuk." ajaknya.
“Ya sudah kalau itu mau kamu sayang.” ucap Mira.
“Sering-seringlah kemari, mommy dan daddy masih merindukanmu.” ucap Stev.
“Iya dad, mom. Kalo gitu Elin pamit ya.” katanya sambil salin pada Mira dan Stev.
Di perjalanan Zelin terlihat tenang dan semangat sekarang.
Rasanya semakin lebih baik setelah bertemu dengan Mommy dan Daddy.
Tak lama Zelin tertidur, Bayu menguap puncak kepala adiknya itu.
“Kebiasaan sekali sih.” ucapnya sendiri.
Zelin terbangun saat mobil berhenti di depan kafe. Zelin melihat jam karet hitamnya. 20.30.
“Kak ayok turun, biar Elin kenalkan sama kak Lia.” ucap Zelin.
“Oke deh.” jawab Bayu lalu turun dari mobil.
Zelin dan Bayu memasuki kafe, Lia yang melihat menghampiri mereka.
“Tidak apa-apa kak.” senyum.
“Kenalkan kak, ini kak Lio, saudara aku kak.” ucap Zelin, lalu meninggalkan mereka berdua.
“Bayukan?.” tanya Lia sambil ketawa.
“Kok tau?." tanya Bayu.
“Aku sering denger aja, waktu kamu ngomong sama Al, kayaknya kamu suka sama Al." jawabnya jujur.
“Haha. Itu dulu, sebelum gue tau, kalo Elin itu adik gue." jawab Bayu.
“Iya iya. Aku tau kok, Al udah cerita.” jawab Lia.
“Oh iya, minum apa?."
“Mmm. apa aja deh, yang agak anget yah.” jawab Bayu.
“Okee tunggu yah." jawab Lia.
Lia membuatkan kopi susu hangat untuk kakak dari adiknya itu.
Lia bingung memanggilnya dengan sebutan apa, dia terlihat seumuran, jadi Lia memutuskan memanggilnya Bayu.
“Ini.” kata Lia sambil menyerahkan kopi susu itu.
__ADS_1
“Makasih, mm. udah lama kenal sama Elin?.” tanya Bayu.
“Belum lama, waktu dia ospek kuliah.” jawab Lia.
“Kok bisa tinggal sama Elin?.” tanya Bayu lagi.
“Al pernah bantuin aku, waktu aku hampir di lecehkan oleh preman. Al mengajakku tinggal bersamanya.” jawab Lia.
“Terus bayi kecil itu anak lo?.” tanya Bayu.
“Oh bukan, kalau itu biar Al aja yang menjelaska nanti ya, aku lanjut kerja dulu.” ucap Lia.
Bayu masih memikirkan tentang Melfa, anak siapa? Apa benar adiknya telah menikah? Tapi nikah sama siapa? Bahkan elin pun belum memiliki KTP.
Menunggu Zelin, tak lama adiknya itu keluar dari kamarnya. Terlihat lebih segar, mungkin dia selesai membersihkan diri. Zelin berjalan menuju meja Bayu.
“Kak Lio, tidak pulang? udah hampir jam 9 loh.” ucap Zelin.
“Jadi mengusir kakak nih?.” tanyanya dengan nada kecewa.
“Bukan begitu kak.” ucap Zelin yang tidak enak hati.
“Iya-iya. Kakak tau kok. Kamu istirahat yah. Ingat rahasia ini jangan sampai yang lain tau." kata Bayu.
“Tapi, Raska tahu kak.” kata Zelin jujur.
“Raska tidak apa-apa, tenang saja. Dia tidak akan kasih tau yang lain. Mulai besok bersikap biasa di kampus, ok?, biar yang lain tak curiga.” terang Bayu, sambil mengacak-ngacak rambut adinya itu.
“Mmm iya deh kak.”
“Kakak pulang yah, jangan tidur kemaleman.” ucap Bayu sambil melangkah keluar kafe.
“Iya kak. Hati-hati.” balas Zelin melepas kepergian kakaknya dari kafe.
Zelin merasa senang hari ini. bahkan sangat senang.
“Kak Lia, ayok ke kamar, jangan terlalu kecapean. Nanti kakak sakit.” ajak Zelin sambil menarik tangan kakanya itu.
“Iya-iya. Bawel sekali adek kakak ini. ayok ke kamar.” ucap Lia.
Akhirnya Lia tertidur di kasur king size itu. Zelin melihat buku tabungannya. Dia ingin sekali membeli rumah. Melihat tabungan yang belum sampai 10 juta bagaimana caranya beli rumah pikirnya.
#kak Lio
Elin boleh minta sesuatu? -Zelin
Boleh, apa emang? –Bayu
Belikan Elin rumah kak, tak perlu mewah, yang penting punya kamar lebih, kasijan kak Lia dan Melfa harus tidur sempit sempit –Zelin
Oke, besok kita liat rumahnya –Bayu
Makasih kak Lio, I love you –Zelin
I love you more sayang. Tidur. Besok harus ke kampus –Bayu
Siap bos –Belin
__ADS_1
Zelin meletakkan hpnya dan tidur.
"Terkadang harus melewatkan hal pait dulu sebelum sampai pada hal manis"