
Raska kembali cemas, ketika mengingat dokter Agung meminta ia untuk membawa Zelin ke rumah sakit. Dengan sigap, Raska menggendong istrinya itu dan mamasukinya ke mobil. Raska masih cemas dengan kondisi Zelin.
Sesampai di rumah sakit, Raska meminta perawat dengan cepat menolong istrinya.
"Astaga. Kenapa pada lelet semua. Cepat periksa istri saya." Bentak Raska kepada perawat perawat itu.
Sontak semua perawat bergerak dan membawa Zelin keruangan pemeriksaan, sedangkan Raska menunggu di luar dengan perasaan yang tidak enak.
Tidak lama dokter itu keluar dari ruangan Zelin.
"Bagaimana dok?." Tanya Raska pada dokter itu.
"Tidak apa apa. Istri anda sekarang sedang mengandung 3 minggu, jadi perhatikan semua yang ia kerjakan ya pak. Jangan terlalu lelah." Ucap dokter itu.
"Serius dok?." Tanya Raska meyakinkan lagi.
"Iya pak. Kalau begitu, saya permisi ya." Ucap dokter itu meninggalkan Raska.
Raska dengan perasaan sangat gembira masuk ke dalam ruangan Zelin. Zelin tengah menyandar di ranjang pasien dengan wajah yang agak pucat.
"Sayang." Panggil Raska sambil memeluk Zelin
Air mata Raska mulai menetes. Ini benar benar akan menjadi kebahagiaan besar dalam hidupnya dengan Zelin.
"Kenapa mas? Kamu kenapa menangis? Aku tidak apa apakan mas?." Tanya Zelin dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Kamu tidak apa apa sayang." Ucap Raska memegang kedua pipi Zelin.
"Kamu dan anak kita tidak apa apa sayang." Terang Raska lagi.
"Apa mas? Anak kita?." Tanya Zelin terkejut karena tidak menyangka.
"Iya sayang. Anak kita." Jawab Raska lagi.
"Aku hamil mas?." Tanya Zelin tidak menyangka.
"Iya sayang." Ucap Raska dengan tersenyum bahagia.
Raska memberikan kabar gembira ini kepada semua orang. Mila dan Dani, Bayu dan Lia, Stev dan Mila, serta mommy dan daddy Mila yang sudah merawat Raska.
"Aku ingin bertemu ibu dan bang Riski mas." Pinta Zelin ketika Raska akan duduk kembali di kursi jaga.
"Sekarang yang perlu di perhatikan adalah kondisi kamu dan calon anak kita." Ucap Raska lagi sambil mengelus perut Zelin yang datar.
"Baiklah mas. Apa kak Lio dan yang lainnya akan ke sini mas?." Tanya Zelin pada Raska.
"Sepertinya ia sayang. Mungkin sore mereka akan datang kesini. Kamu bisa beristirahat dahulu." Ucap Raska pada Zelin.
"Baiklah mas. Tapi aku ingin memegang tangan mu terus." Ucap Zelin pada Raska.
"Tentu saja sayang. Aku akan menemanimu. Tapi tunggu sebentar ya. Aku menelepon Dodi dulu." Ucap Raska pada Zelin dan langsung berdiri.
__ADS_1
"Cepat ya mas." Pinta Zelin yang di anggukkan oleh Raska.
Raska menelepon orang kepercayaannya itu. Memberikan kabar bahwa ia hari ini tidak ke kantor karena akan menjaga istri dan calon anaknya.
"Hallo Dod." Ucap Raska di telepon.
"Iya boss. Ada yang bisa gue bantu boss?." Tanya Dodi spontan.
"Gue gak bisa ke kantor hari ini, soalnya gue lagi jagain Zelin di rumah sakit. Lo ambil alih semua kerjaan gue di kantor ya." Pinta Raska pada Dodi.
Raska dan Dodi memang terbiasa berbicara santai seperti dengan teman temannya yang lain.
"Lah? Zelin sakit boss?." Tanya Dodi pada Raska.
"Gak sih. Cuma pengen aja jagain istri sama calon anak gue." Ucap Raska dengan nada bangga.
"Wahhh. Udah punya calon anak aja nih boss." Goda Dodi.
"Haha. Makannya lo tuh nikah. Jangan jomblo terus." Ucap Raska.
"Haha. Belum ada jodoh boss. Nanti kalo ada gue undang deh." Ucap Dodi.
"Okedeh kalo gitu. Thanks ya." Ucap Raska pada Dodi.
"Oke boss." Ucap Dodi
__ADS_1
Telepon pun terputus. Raska kembali ke kursi jaga dan menggenggam tangan istrinya tersebut.