
Raska masih betah dengan menggenggam tangan Zelin. Tangan wanita yang dua tahunan ini selalu ia genggam.
"Kita mau kemana Ras?." Tanya Zelin.
"Lihat saja nanti." Ucapnya dengan mengedipkan matanya sebelah.
'Raska Raska.. masih saja manis seperti ini.' Ucapnya dalam hati.
#Raska Prov
Malam ini, aku ingin memberikan kepastian. Umurku sudah 22 tahun dan Zelin pun sudah 18 tahun. Aku ingin memberikan sebuah status yang jelas padanya.
Kami sampai di sebuah kafe. Dengan view danau yang di hiasi dengan lampu malam. Kafe ini tidak terlalu ramai dan ini momen yang pas aku rasa.
#Author Prov
"Ras... Mau apa di sini?." Tanya Zelin
"Lihat aja nanti, duduk dulu." Ucapnya sambil menggeserkan kursi agar Zelin duduk.
Tidak menunggu lama, pelayan datang membawa makanan yang sepertinya sudah di siapkan sebelumnya.
"Ras.. kamu udah siapin ini sebelumnya yah?." Tanya Zelin curiga.
"Iya." Ucapnya sambil memamerkan giginya.
"Kenapa tidak sekalian di booking saja biar sepi dan hanya kita berdua? Tidak ada yang mengganggu." Ucapnya.
"Kalau kamu mau besok yah kita booking." Ucap Raska
"Ya aku hanya menyindir Raska. Bukan beneran." Ucapnya sambil cemberut.
"Iya iya. Maaf yah. Sekarang kita makan dulu, aku lapar." Ucapnya sambil menggenggam tangan Zelin.
__ADS_1
"Bagaimana aku makan kalau tangan ku masih mamu pegang?." Ucapnya.
"Oh iya". Raska menyengir lagi dan melepaskan tangannya.
Mereka makan di temani suara angin dan sedikit musik dari kafe ini.
Selesai makan. Raska mendeham, dan memegang tanga Zelin.
"Aku boleh bicara serius.?" Tanyanya dengan tatapan yang susah di artikan.
"Silahkan Raska." Ucap Zelin membalas tatapan itu.
"Aku tidak ingin kita seperti ini lama lama." Ucapnya.
"Maksud kamu bagaimana?." Zelin.
"Apa kamu mau menikah muda dengan ku?." Tanya Raska dengan kepala tertunduk.
"Apa kamu serius dengan perasaan mu?." Zelin.
"Mana cincinya? Bagaimana mungkin kamu melamar ku tanpa cincin?." Tanya Zelin mrngerucutkan bibirnya.
"Astaga... Aku lupa. Aku bingung dan tidak tau harus apa, sampai lupa sama cincin. Maafkan aku Zel." Ucapnya dengan muka bersalah.
"Haha. Iya iya. Besok kita beli ya." Ucap Zelin.
"Iya. Belinya sama kamu ya. Kamu pilih saja yang kamu mau." Ucap Raska.
"Iya bapak sultan yang kaya raya." Canda Zelin.
"Eh. Sultan itu nama kakek aku loh." Ucap Raska.
"Serius?." Katanya sambil mulut terbuka.
__ADS_1
"Iya. Benar." Jawab Raska.
"Huaaa. Jangan beri tahu kakek mertua yah Ras." Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ahaha. Iya iya." Ucap Raska sambil mengelus kepala Zelin.
Zelin meletakkan kepalanya di meja, dengan alaskan tangannya. Bibir mengerucut nampak lucu.
"Kenapa lagi Zelin?." Tanya Raska melihat mata Zelin.
"Bener ya jangan kaduin kakek." Pintanya.
"Iya iya. Itu saja di pikirkan." Ucap Raska sambil tertawa.
"Zel." Ucap Raska dengan suara beratnya.
"Aku mungkin bukan pria sempurna. Tapi aku ingin menyempurnakan semuanya sama kamu. Aku ingin melakukan semua hal bersama kamu. Wisuda sama kamu juga. Tolong. Jaga perasaan kamu untuk aku ya. Sampai kita benar benar bisa bersama." Ucapnya serius.
"Iya Ras. Aku akan menunggu kamu. Terima kasih sudah mau bersama ku walaupun aku bukan orang sempurna. Terima kasih sudah mengajak ku untuk menyempurnakan kita berdua." Ucap Zelin.
**Haiii... ketemu lagi kita.
Apa kabar?
Jangan lupa jaga kesehatan yah.
Apa lagi di pandemi sekarang.
Tetap semangat...
Aku menyayangi kalian.
😘😘**
__ADS_1
"Bukan tentang siapa yang sempurna. Tapi tentang siapa yang mengajak untuk membuat sesuatu yang tidak sempurna menjadi sempurna"