
Beberapa bulan terlewati, menjadi mama di umur 16 tahun tidak terlalu buruk bagi wanita cantik berambut panjang ini.
Sekarang Melfa bahkan sudah bisa berbicara satu kata demi satu kata walaupun terbata bata.
Mommy dan Daddy juga menyuruh Zelin pindah dari kafe agar mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk anak dan kakaknya, tapi Zelin menolak.
Awalnya Zelin bahkan meminta untuk di belikan rumah oleh kakaknya, tapi setelah dia pikir-pikir akan lebih baik jika dia dapatkan dari jerih payah dia dan Adelia.
Hubungannya dan Bayu semakin harmonis sebagai seorang kakak dan adik.
Bayu selalu memberinya mawar setiap minggu pagi agar kerjanya lebih semangat.
Mila juga sering membantunya di kafe karena terkadang bosan di rumah sendiri.
Sekarang kafe sudah menjadi tempat nongkrong bagi Bayu, Raska dan Dani.
Sasya masih saja sering mencari masalah dengannya. Di tambah juga Risya yang selalu iri dengannya karena kedekatannya dengan Bayu. Padahalkan Bayu saudaranya sendiri.
Tentang Melfa, belum ada yang mengetahui kebenaranya selain Zelin dan Lia.
Bahkan Zelin belum ingin membahas Melfa jika bertanya kenapa bisa terjadi kepadanya.
Baginya sekarang, Melfa adalah bulan, yang memberikan cahaya kepadanya saat semua dunianya menjadi gelap, bahkan keluarga ayah yang tidak menerimanya.
“Kak, ikatin rambut aku lagi dong, hari ini ujian.” ucap Zelin.
“Iya-iya, bentar dek.” jawab Lia yang sedang mencuci beberapa gelas.
Lia berjalan ke arah Zelin dan merapikan rambut panjang Zelin.
“Dasar, mama 16 tahun belum juga bisa mengikat rambut dengan rapi." ejek Lia.
“Kakak ini.” jawab Zelin sedikit kesal.
……
Zelin berjalan menuju kampusnya, saat di depan kelas bertemu dengan Raska.
Sebagai manusia yang tau akan sopan santun kepada yang lebih tua, akhirnya Zelin menegur Raska.
“Pagi Ras." ucapan selamat pagi dengan nada semangat ala Zelin.
“Hm.” jawaban yang ala kadarnya dari Raska.
‘Menyesel kan punya sopan santun yang terlalu tinggi, sampai-sampai tembok saja di sapa.’ batin Zelin.
‘Bukan waktu yang membuat semua berubah, tapi keinginan yang membuatnya menjadi berubah, kata-kata yang sangat cocok untuk manusia tembok.’ ucapnya lagi namun hanya dalam hati.
Seminggu berlalu dengan sangat cepat. Menjawab soal ujian tidak terlalu susah baginya, karena Alzelina Putri Albareck memang terkenal sekarang kepintarannya di kampus, setelah mendapatkan IP sempurna di semester awalnya ini.
Liburpun dimulai.
Mila, Bayu, Raska, dan Dani sudah berkumpul di kafe. Membahas tentang rencana liburan kali ini dan yang pertama kali bagi Zelin.
“Jadi kita kemana nih?.” tanya Mila
“Ke Korea enak tuh.” Dani.
“Kayaknya gue bakal ga ikut deh, soalnya nyokap sama bokap gue mau ngajak ke Belanda, kalo gak kalian ikut aja.” ajak Bayu.
“Nah boleh tuh.” jawab Dani.
“Lo ikut kan Al?.” tanya Mila.
“Aku sepertinya tidak ikut, soalnya kasian kak Lia, dan aku mana punya uang buat ke Belanda.” jawab Zelin.
“Aku yang bayar Al.” ucap Bayu.
“Tidak dulu deh Bay, kalian saja, aku serius tidak apa-apa.” jelas Zelin.
__ADS_1
“Kallo lo Ras.” tanya Dani
“Gue ga ikut.” Raska
“Kenapa bang?.” Mila.
“Ada urusan.” Raska.
“Ya udah, kali ini kita bertiga aja, liburan besok kalian ikut yah”, Bayu.
“Hm.” jawab Raska
“Iya Bay”, Zelin.
Hubungan persaudaraan Zelin dan Bayu memang belum banyak yang tau, hanya Raska dan Lia yang mengetahuinya.
Mereka pikir belum saatnya untuk memberi tahunya yang lainnya.
Hari ini adalah hari keberangkatan Bayu, Mila dan Dani. Raska dan Zelin ikut mengantar ke bandara.
“Kita berangkat yah.” ucap Mila
“Hati-hati yah Mil, jangan nakal di sana.” Zelin
“Mana mungkin gue nakal, ada-ada aja lo.” Mila.
Bayu membisikan sesuatu ke telinga Raska.
“Gue titip adek gue yah.” pinta Bayu
“Sip." jawab Raska.
“Hati-hati Bay.” Zelin memeluk Bayu.
Mila dan Dani terkejut melihat Bayu yang di peluk Zelin.
“Dek, maluuu.” bisik Bayu
Sekarang Zelin dan Raska berada di dalam mobil berdua.
‘Yqallah, ini pada diam, aku harus ngomong apa.’ batin Zelin
“Ga usah mikirin topic bicara, palingan 10 menit lo tidur.” ucap Raska yang seolah mendengar batin dari Zelin.
“Hehe, kok kamu tau aku mikirin itu?.” tanya Zelin.
“Jidat lo kerutanya banyak.” goda Raska.
“Udah ayok jalan, aku tidak akan tidur, asal pegang tangan aku ya.” goda Zelin, karena Zelin tau Raska bukan manusia yang mudah memegang manusia lainnya.
Pikiran kamu salah Zelin, bahkan sekarang Raska menggenggam tangan mu dengan tangan kirinya.
‘Aduh, sepertinga aku menggali kuburan sendiri.’ Batin Zelin.
“Jangan tidur ya, gue males gak ada temen, jauh dari bandara ke rumah.” ucap Raska yang masih memegang tangan Zelin.
‘Kenapa sekarang jadi lembut, sudah tidak seperti tembok.’ batin Zelin.
“Jadi sampai kapan kamu megang tangan ku?.” zelin.
“Sampai depan rumah, sampai kamu turun, sampai kapan pun.” ucap Raska.
“Raska, kamu buat aku malu.” ucap Zelin.
“Kenapa malu?.” tanya Raska.
“Yah malu, aku bahkan tidak pernah memegang tangan pria lain selain kak Lio, daddy dan ayah.” jujur Zelin.
“Terus?.” tanya Raska
__ADS_1
“Aku tidak mau di pegang sama sembarang orang, apa lagi bukan siapa-siapa.” zelin
“Apa lo mau, gue ngajak lo pacaran.” ucap Raska yang membuat Zelin melongo.
Deg
“Mm…. bu.. bukan gituuuu Raska.” gugup Zelin.
“Terus?.” Raska.
“Aku tidak suka di pegang orang asing.” Zelin.
Raska meminggirkan mobilnya, tangan kiri yang masih menggenggap tangan Zelin, dan sekarang malah menatap wanita polos ini.
“Aku bahkan gak pernah menggenggam tangan wanita manapun, aku juga gak mau menyentuh wanita yang gak pantas aku sentuh kecuali untuk hal lain, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapan ku Zelin.” Raska.
Zelin yang mendengar ucapan Raska benar-benar menjadi gagu, ah.
Mungkin sekarang pipinya sudah seperti kepiting rebus.
“Kenapa sekarang pipi lo malah jadi merah?.” goda Raska.
“Aaaaa… Raska, seharusnya kamu tidak usah bilang begitu, aku tambah malu.” Zelin.
“Haha. Kamu lucu sekali.” Raska tertawa.
“Kenapa sekarang kamu jadi ikutan aku, pake aku kamu?.” Zelin.
“Aku mau terbiasa aja manggil gitu, biar kamu nyaman.” Raska.
“Kenapa emang bikin aku nyaman?.” tanya Zelin polos.
“Kepo banget.” Raska sambil mengelus ujung kepala Zelin.
“Aaa… Raska, kenapa kamu malah buat aku deg degan.” teriak Zelin.
“Kenapa kamu jujur banget, kan aku jadi gemeshhh.” raska
“Kenapa kamu gak dingin lagi sama aku?.” z
tanya Zelin.
“Kan aku dinginnya gak Cuma sama kamu, sama yang lainnya juga, sekarang aku gak mau dingin lagi sama kamu.” Raska
“Kenapa?." tanya Zelin
“Mm ayok pulang atau mau kemana dulu?.” Raska.
“Kok mengalihkan pembicaraan?.” Zelin
“Kapan-kapan aku certain.” Raska
“Oke deh, kita pulang aja, kasian ka Lia.” Zelin.
“Siap laksanakan.” Raska menghidupkan kembali mesin mobilnya dan mulai menjelajahi jalanan.
“Ini tangan aku kapan di lepasin?.” ucap zelin.
“ Nanti waktu turun aku lepas yah.” ucapnya lembut
“Oke deh”, zelin
Raska tersenyum tulus, sedangkan Zelin sibuk bermain dengan pikirannya.
Kenapa tiba-tiba Raska berubah padanya.
Walaupun sebenarnya Zelin sudah menaruh perasaan lama.
Tapi ini benar-benar mendadak, bahkan hatinya pun belum siap untuk mendengar semua ucapan Raska tadi.
__ADS_1
‘Aaaa tuhan." batinnya sambil melihat tangan yang bertautan itu.
"Dia yang mencintai mu akan membuat kamu merasakan kenyamanan, hingga tidak pernah terpikir untuk meninggalkan."