Mama 16 Th

Mama 16 Th
Maaf


__ADS_3

Zelin dan Raska kembali ke apart mereka, Melfa bersama Lia dan Bayu sekarang. Zelin merasa tidak enak hati. Ia memutuskan masuk kedalam kamar dan langsung tidur. Raska merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya langsung mendatangi Zelin.


"Kamu kenapa sayang?." Tanya Raskan memengang kengan Zelin.


"Apa aku punya salah? Atau.. Apa aku membuat mu kecewa?." Tanya Raska lagi.


Zelin hanya diam, pura pura tertidur agar tidak ditanyai lagi.


"Aku tau kamu pura pura tidur. Tolong, aku bingung dengan sikap mu." Ucap Raska agak keras.


Zelin yang sudah merasa hatinya sedihpun akhirnya menangis karena merasa di bentak.


"Kamu kenapa menangis?." Tanya Raska lagi.


"Maaf. Aku tidak tau apa salah ku, tapi tolong, maafkan aku." Ucap Raska.


Zelin akhirnya membuka matanya. Ia duduk menatap mata suaminya itu.


"Maaf." Ucap Zelin lirih dengan air mata.


"Maaf untuk apa? Kamu tidak salah sayang." Ucap Easka lembut.


"Maaf aku belum bisa hamil." Ucap Zelin dengan tangisan.


Raska akhirnya memeluk Zelin. Mengusap kepala istrinya itu dan sesekali mencium puncak kepalanya.

__ADS_1


"Tidak apa sayang. Itu tidak membuat perasaan ku berubah pada mu." Ucap Raska.


"Tapi..." Ucapan Zelin terhenti karena disela Raska.


"Tidak usah tapi tapi. Anak itu rezeki dari Allah sayang. Kalau kita belum di berikan berarti kita harus belajar jadi yang lebih baik lagi, agar Allah percaya menitipkannya kepada kita." Terang Raska dengan lembut.


Tangisan Zelin terhenti.


'Benar yang di bilang Raska, mungkin karena aku belum siap lahir batin, jadi Allah belum menitipkannya lada kami. Ya tuhan, aku sekarang sudah siap menjadi ibu yang sebenarnya.' Ucap Zelin dalam hati


"Kamu mau makan apa sekarang? Aku akan memasakannya untuk mu." Ucap Raska.


Zelin tersenyum. Raska memasak adalah bagian favorit Zelin semenjak menikah.


"Tapi seperti yang waktu itu ya." Tambah Zelin.


"Yang di gulai dulu itu? Baru di bakar?." Tanya Raska.


"Iya. Itu enak banget. Bumbunya sampai ke tulang." Ucap Zelin


"Haha. Baiklah tuan putri ku. Akan aku hidangkan makanan yang engkau pinta." Drama Raska.


"Haha. Terima kasih suami ku yang baik dengan ketampanannya yang super." Puji Zelin.


Raska tertawa dan meninggalkan kamar, menuju dapur untuk memasakkan ayam bakar sesuai pesanan istrinya.

__ADS_1


Raska terlebih dahulu membuat gulai, semua bumbu sudah ada di kulkas, jadi ia hanya meracik dan langsung memasaknya. Baunya yang wangi membuat Zelin akhirnya keluar kamar dan menyusul suaminya.


"Wangi banget." Ucap Zelin dengan wajah yang sepertinya sudah tidak tahan lagi untuk memakan semuanya.


"Eh. Belum di bakar." Ucap Raska.


"Tidak apa apa. Kita makan gulai ayam saja." Pintanya dan langsung duduk di meja makan.


Raska tertawa. Bahagia melihat Zelin bahagia.


"Ini gulai ayamnya tuan putri, silahkan makan." Ucap Raska sambil tersenyum.


"Uuuu. Terima kasih." Ucap Zelin mengecup pipi Raska.


Raska tersenyum dan ikut makan bersama Zelin.


"Pelan pelan makannya. Tidak ada yang ingin mengambil piring mu itu sayang." Ucap Raska.


"Iya iya. Tapi ini enak sekali." Puji Zelin sambil melahap makanannya.


"Iya tau. Tapi makannya pelan ya sayang. Nanti kamu tersedak." Pinta Raska.


"Baiklah." Jawab Zelin melambatkan gerakkan makannya.


"Aku akan tetap bersama mu, walau sebanyak apapun kekurangan dan kelebihan mu."

__ADS_1


__ADS_2