
*****
Dan trik yang dilakukan oleh Sandara itupun berhasil, terlihat dengan jelas bahwa nenek Maria saat ini tampak merasa bersalah dan menyesal telah meragukan Sandara.
" Dara...maafkan nenek, nenek tidak bermaksud begitu... bukannya nenek tidak mempercayaimu, hanya saja...ada beberapa hal yang sedikit nenek khawatirkan. "
Nenek Maria berbicara dengan sangat lembut, dan kemudian meraih kedua tangan Sandara.
" Apa yang nenek khawatirkan? "
" Kau sungguh-sungguh mencintai Berlin kan Dara? "
Tiba-tiba saja nenek Maria menanyakan hal yang sangat tidak terduga, sehingga Sandara menjadi sedikit terkejut.
" Bagaimana ini? Pertanyaan nenek kenapa seperti itu? Huuft...lagi-lagi aku harus berbohong demi mendapatkan kepercayaan dari nenek. Hahh...!! Apa boleh buat, semua memang berawal dari kebohongan, dan jika aku sudah memulai kebohongan ini, maka aku harus terus melanjutkan kebohongan ini. " Batin Sandara.
" Dara...?? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan nenek? "
Nenek Maria pun kembali bertanya kepada Sandara, karena Sandara tidak segera memberinya jawaban.
" Ah...pertanyaan nenek kenapa seperti itu? Sudah sangat jelas aku mencintai Berlin nek, dan sebaliknya Berlin pun begitu. Jika kami tidak saling mencintai, untuk apa pernikahan ini? "
Kebohongan demi kebohongan pun terlontar dari mulut Sandara. Sebenarnya Sandara tidak tega membohongi nenek Maria, namun keadaan lah yang mengharuskannya berbohong.
" Syukurlah Dara, nenek lega mendengarnya. "
" Tapi nek, kalau boleh tau...kenapa nenek tiba-tiba menanyakan hal seperti itu? "
__ADS_1
" Tidak, nenek hanya teringat dengan Issabel...kau juga pasti sudah mendengar kabar burung tentang pernikahan Berlin yang sebelum nya. Sebenarnya mereka saling mencintai, tapi entah kenapa...saat Issabel mengakhiri hidupnya sendiri. Dia menulis pesan yang sangat buruk tentang Berlin. Nenek juga tidak tau penyebabnya, Berlin terlihat sangat terpukul saat itu. "
Sandara masih mencoba mencerna semua yang sedang di ceritakan oleh nenek Maria barusan. Bahkan Sandara sama sekali tidak bisa membayangkan jika Berlin sebenarnya mencintai Issabel.
Sandara pun memutuskan untuk tidak mempercayai apa yang barusan di dengarnya itu dari nenek Maria.
" Apa maksudnya ini? Bagaimana mungkin orang seperti Berlin mencintai mendiang istrinya. Kalau saja benar Berlin sangat mencintai Issabel, kenapa Issabel bunuh diri? Dan surat itu? Aku yakin, Berlin sejak awal pasti sudah membohongi nenek Maria. Dan nenek Maria sangatlah polos sehingga sangat mudah di bohongi oleh orang-orang di sekitarnya. " Batin Sandara.
Lalu Sandara berusaha untuk terlihat percaya dengan apa yang barusan di dengarnya itu.
" Dara...percayalah, apa yang nenek katakan adalah benar. Dan orang yang tidak mengenal Berlin pasti langsung akan percaya dengan rumor itu. Tetapi, jika mereka mengenal Berlin dan tau bagaimana Berlin. Mereka pasti tidak akan mempercayai rumor itu. "
Kata-kata nenek Maria sangat menohok, nenek Maria seperti mengerti jika Sandara tidak mempercayai apa yang dikatakannya barusan. Sandara pun menjadi sedikit canggung.
" Ah...nenek, aku percaya...dan aku kenal bagaimana Berlin, walaupun pertemuanku dengannya terbilang cukup singkat. Tapi aku percaya jika Berlin bukanlah laki-laki seperti yang di katakan orang-orang yang tidak menyukainya itu. "
Sandara pun berusaha terlihat natural menjawab semua perkataan nenek Maria. Dan nenek Maria pun akhirnya tersenyum ke arah Sandara sambil menepuk-nepuk pelan bahu Sandara.
Sandara mematikan televisi dan kemudian berjalan keluar dari rumah singgah tersebut. Sandara menghampiri satpam dan meminta satpam untuk membukakan pintu gerbang yang di kunci rapat itu untuk nya.
Sandara berjalan-jalan sambil menghirup udara segar, cuaca hari ini memang tidak terlalu cerah, namun terasa sangat sejuk dan nyaman untuk di nikmati Sandara seorang diri.
Sandara melangkahkan kaki nya dengan perlahan, kemudian Sandara mengamati sekelilingnya. Ada beberapa orang yang berlalu-lalang melewatinya.
Dan di saat Sandara sedang menikmati kesendiriannya itu. Tiba-tiba saja pandangannya terfokus pada seseorang. Ia menatap seseorang itu dan menjadi terpaku seketika itu juga.
Ada seorang anak berusia sekitar 10 tahun sedang bersama kedua orang tua nya. Anak itu terlihat begitu bahagia. Senyuman cerah mengembang di wajah nya.
__ADS_1
Perasaan Sandara mulai bercampur aduk melihat pemandangan di hadapannya itu. Sandara sangat iri dengan apa yang di lihat nya. Sandara bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Mengapa dia tidak bisa tersenyum seceria itu di usianya dulu saat ia berusia 10 tahun. Sandara juga ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama kedua orang tua nya.
Sandara bahkan tidak ingat bagaimana rasanya bersenang-senang dengan kedua orang tua nya. Dan tidak terasa air mata sudah terjatuh di pipi nya, wanita tegar ini tidak kuasa melihat pemandangan indah di hadapannya itu.
Ia juga ingin merasakan kebersamaan, kehangatan dan juga kasih sayang dari sebuah keluarga. Hati nya menjadi hancur berkeping-keping, dada nya terasa sesak...sehingga Sandara cepat-cepat memalingkan wajahnya dan berhenti menatap anak gadis tersebut.
" Ada apa dengan ku? Kenapa aku sangat merindukan mereka? Ada apa dengan perasaan asing ini? Apa gunanya perasaan ini jika ibu kandungku saja sudah membuang ku. Dan ayah ku? Ayah ku juga sudah meragukan ku dan membuat ku menderita selama ini. Aku tidak boleh lemah dengan perasaan ini, apa yang kulakukan saat ini hanya untuk diri ku sendiri. Dan aku tidak akan hanyut dan terbawa oleh perasaan bodoh ini. "
Gumam Sandara kepada diri nya sendiri, Sandara mencoba untuk mengatasi perasaannya yang sedang kalut karena mengingat masa lalu nya yang sangat menyedihkan.
Sandara kembali berjalan dan membiarkan kaki nya melangkah sesuka hati nya. Dan ketika sampai di sebuah pertigaan jalan, Sandara menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang sekolah.
Sandara menatap sekolah itu begitu lama, mata nya pun berkaca-kaca. Sandara bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasa nya bersekolah.
" Kenapa mereka terlihat begitu gembira? Apakah bersekolah sangat menyenangkan? Seperti apa rasanya? Kenapa aku tidak diizinkan untuk melakukan nya? Ya...aku tau, aku tidak seharusnya menanyakan hal seperti ini kepada diri ku sendiri. Aku memang bodoh, sudah sangat jelas aku adalah satu-satunya orang yang tidak punya hak untuk bahagia, dan mengapa aku harus memikirkan hal semacam itu. "
Sandara kembali bergumam kepada diri nya sendiri. Ia mencoba untuk terus mengatasi perasaannya yang sudah sangat emosional itu.
Sandara masih menatap semua anak-anak yang sedang bermain, berlarian dan juga tertawa di halaman sekolah tersebut. Dari sorot mata nya, sudah tidak bisa di pungkiri lagi, bahwa saat ini Sandara sangat ingin merasakan apa yang sedang anak-anak itu rasakan.
Sandara tersenyum simpul lalu berbalik dan berjalan meninggalkan sekolah tersebut. Awalnya ia ingin menghirup udara segar, namun yang ia dapatkan hanyalah pemandangan indah yang membuat perasaannya semakin hancur.
Mohon dukungannya ya...
__ADS_1
Dengan klik tombol like, comment dan jangan lupa klik tombol favorit.
Sayang kalian banyak-banyak β€οΈβΊοΈπ