
*****
Tiga puluh lima menit telah berlalu, dan seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan IGD menghampiri Berlin.
" Permisi tuan, syukurlah luka di leher nona Sandara tidak terlalu parah. Dan nona Sandara sudah bisa di bawa pulang setelah cairan infusnya sudah habis. "
Setelah itu, suster itu pun berlalu pergi meninggalkan Berlin dan juga Frans. Dan kemudian Berlin beranjak dari duduk nya dan masuk ke dalam ruangan IGD.
Sandara masih belum sadarkan diri, lalu terlintas wajah Remon di pikiran Berlin. Berlin mengepalkan kedua tangannya dan kemudian ia keluar dari ruang IGD, Berlin menghampiri Frans dan meminta Frans untuk terus mengawasi Sandara.
" Frans, tolong kau jaga Sandara, aku ada perlu sebentar. Jika dia sudah siuman, cepat bawa Sandara pulang. " Ujar Berlin lalu pergi begitu saja.
" Tuan Berlin sangat tidak berperasaan, di saat seperti ini masih saja dia bisa memperhatikan hal lain selain istrinya yang sedang terbaring lemah. " Batin Frans.
Dan Frans pun masuk ke dalam ruangan IGD, Frans menatap Sandara penuh dengan rasa iba. Ia bahkan berandai-andai...
" Andai saja aku bertemu dengan mu lebih awal, pasti kau tidak akan menderita seperti ini Dara. " Batin Frans.
Lalu kemudian Sandara membuka kedua mata nya, ia melihat ke arah Frans lalu kemudian pandangan Sandara berkeliling seperti sedang mencari seseorang.
" Ada apa nona? Apa kau mencari tuan Berlin? "
" Ya...dimana Berlin? "
" Tuan sedang ada keperluan mendesak, dan beliau meminta saya untuk menjaga nona. "
" Keterlaluan!! Bisa-bisa nya dia pergi meninggalkan ku dalam keadaan seperti ini. Tuan Frans, tolong hubungi Berlin. "
Wajah Sandara terlihat begitu marah dan juga kecewa, lalu dengan segera Frans menghubungi Berlin.
" Halo tuan, nona ingin berbicara dengan tuan. "
" Berlin? Dimana kau? "
" Aku sedang ada perlu, ada apa? "
" Apa ada hal yang jauh lebih penting di bandingkan dengan ku? "
" Pulanglah, sepertinya keadaanmu sudah sangat membaik, sehingga kau bisa mengomel seperti ini. "
__ADS_1
" Berlin!! "
" Kau tidak perlu khawatir, aku akan menerima anak itu, tapi aku tidak bisa berjanji akan memperlakukannya seperti anakku. "
" Aku tidak mau..!!"
" Apa maksudmu? "
" Aku lebih baik mati, aku tidak menginginkan anak ini. "
" Sandara!!! Jangan berpikiran macam-macam, apa kau ingin membunuh bayi yang tidak berdosa yang saat ini ada di dalam rahim mu? "
" Ya..."
" Sandara, dengarkan aku...itu bukan keputusan tepat, tenanglah...aku akan membantu mu, aku akan membantumu menjebloskan ayah ku sendiri ke dalam penjara karena sudah membunuh ayah mu. Kau hanya perlu percaya dan bersabar menunggu waktu yang tepat. "
" Tidak Berlin, semua sudah terlambat...semua sudah tidak ada gunanya lagi. Dan jika anak ini lahir, percuma saja, aku pasti akan sangat membencinya. "
tututututut...!!
Sandara pun menutup panggilan telepon nya, Frans hanya menatap Sandara, dan kemudian ia mencoba menenangkan Sandara.
" Nona...cobalah untuk tenang, apa nona sangat membenci tuan Berlin? Sehingga nona tidak ingin melahirkan anak nya? "
" Apa?? Apa yang baru saja kau katakan Dara? " Tanya seseorang yang baru saja datang.
" Nenek?? "
Dan ternyata nenek Maria yang mengkhawatirkan Sandara datang untuk memastikan keadaan Sandara, ia juga bersama dengan Sarah dan juga Devan.
" Dara, coba katakan sekali lagi, apa maksud dari perkataan mu itu? Bagaimana bisa kau mengandung anak Remon? "
" Nenek..."
Sandara sangat sulit untuk mengatakan yang sebenarnya kepada nenek Maria, hatinya benar-benar hancur. Yang bisa Sandara lakukan hanyalah menangis, ia menangis terisak sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
" Dara...!!! " Bentak nenek Maria, hingga Sandara menutup kedua telinganya.
" Nenek cukup!!! " Teriak Sandara masih menutupi kedua telinganya.
" Apa kau berselingkuh dengan Remon Dara? Apa itu sebabnya Remon menculik mu waktu itu? Katakan yang sebenarnya, kenapa kau tega melakukan hal keji di belakang Berlin cucuku? "
__ADS_1
" Nyonya maaf, seperti nya nyonya Maria salah paham. " Frans saat ini mencoba menjelaskan dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, tetapi nenek Maria menghentikannya.
" Diam kau, aku tidak berbicara kepada mu. Dara? Kenapa kau diam saja? Apa kau merasa bersalah? Apa sekarang kau menyesal setelah menjadi aib? "
" Cukup nek...Remon Saw sudah memper kosa ku nek...aku...aku tidak pernah berselingkuh dengannya. Dia melakukan hal keji pada ku nek, dia bahkan membunuh ayahku...aku...aku tidak mengerti kenapa nenek berpikir menjijikkan seperti itu. "
Air mata Sandara mengalir begitu deras, ia tidak menyangka kebenaran tentang anak yang di kandungnya itu terungkap dengan cara seperti ini.
" Tidak Dara, kau pasti sudah merayu Remon... Remon bukanlah laki-laki seperti itu. Dia tidak mungkin menyetu buhi istri putranya sendiri. Kau pasti berbohong Dara, kau..."
Dan Brugghhh....
Nenek Maria tiba-tiba saja jatuh pingsan dan langsung di baringkan di atas ranjang pasien. Salah satu dokter mencoba untuk menangani nenek Maria, tetapi...
" Maaf, apa ada salah satu keluar pasien di sini? " Tanya dokter.
" Saya dok. " Sarah pun menghampiri dokter tersebut.
" Maaf sebelumnya nyonya, tekanan darah pasien terlalu tinggi dan pasien juga mengalami serangan jantung, kami tidak bisa menyelamatkan pasien. "
Semua yang mendengarnya pun terkejut, begitu juga dengan Sandara. Ia tidak mengira jika nenek Maria akan pergi secepat itu dalam situasi di mana nenek Maria tidak mempercayai Sandara dan salah paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Tidak...tidak mungkin, dokter tolong periksa kembali keadaan nenek, nenek pasti baik-baik saja dok. " Ujar Sandara yang turun dari ranjang pasien dan menghampiri dokter tersebut.
" Maaf nona, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Dan pasien sudah tidak bisa tertolong. "
" Tidak...nenek..."
Sandara menjatuhkan diri nya, ia menangis histeris sambil memukul-mukul dada nya. Sandara menyalahkan dirinya sendiri atas kematian nenek Maria.
Sarah yang merasa tidak tega melihat Sandara itupun menghampiri Sandara lalu berusaha untuk memeluknya, tetapi Sandara mendorong Sarah hingga Sarah terjatuh ke lantai.
" Dara!!! Apa yang kau lakukan? Tidak seharusnya kau mendorong ibu seperti ini? " Teriak Devan yang tidak terima Sandara mendorong ibu nya.
" Bawa dia pergi, aku tidak ingin melihat wajah nya. "
Devan membantu Sarah berdiri dan membawa Sarah menjauh dari Sandara. Sandara masih menangis, lalu ia berusaha berdiri dan berjalan ke ranjang nenek Maria.
Sandara memeluk tubuh nenek Maria yang sudah terasa dingin itu sambil menangis terisak.
" Maafkan aku nek, ini semua salahku... nenek menjadi seperti ini karena ku, harusnya aku saja yang meninggalkan kehidupan menjijikkan ini. Nenek...tolong bangunlah nek...nek...aku mohon...nenek...aku belum selesai menjelaskan segalanya nek, jika nenek meninggal seperti ini, bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri nek...nenek...bagaimana caranya aku hidup nek? Nenek, bagaimana aku harus menjalani hidupku nek, hanya nenek yang memberiku kasih sayang tulus...hanya nenek...nenek..."
__ADS_1
Semua terasa menyakitkan dan menyayat hati, orang yang begitu menyayangi bahkan selalu perduli dengan Sandara tiba-tiba saja pergi. Sandara begitu terpukul dengan kepergian nenek Maria. Sulit sekali rasanya untuk menerima kenyataan bahwa nenek Maria sudah pergi meninggalkannya.
Terlebih lagi, di sisa usia nya itu, nenek Maria membawa kenangan buruk tentang Sandara. Sebuah kesalahpahaman yang belum terselesaikan. Itu menjadi pukulan yang sangat berat untuk Sandara.