
...****************...
“ Ayo pulang, aku sudah lelah…kau masih sama, masih sangat merepotkan. “ Ujar Berlin yang kemudian mengulurkan tangannya dan meminta Sandara untuk meraih uluran tangannya itu.
Sandara menghapus air matanya lalu menatap Berlin dan kemudian ia berdiri tanpa menyentuh uluran tangan Berlin itu. Dan saat ia ingin masuk ke dalam mobil Berlin, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Sandara menatap layar ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya. Dan ternyata dia adalah Frans, Sandara pun dengan segera menjawab panggilan telfon dari Frans.
“ Frans? Bagaimana ibu? Apa ibu masih marah padaku? “
“ Entahlah, tidak bisakah kau kembali ke sisi ku? “
“ Maaf Frans, tapi aku harus memulihkan ingatanku, jika aku terus bersama denganmu, mungkin saja ingatanku tidak akan pulih. “
“ Aku merindukanmu…”
Dan saat Sandara tengah berbicara dengan Frans, tiba-tiba saja Berlin merebut ponsel Sandara.
“ Berhenti menghubungi istri ku? Apa kau tidak tau malu? Selama ini kau sudah menyembunyikan istriku dari ku, lalu kau membohonginya dan mengatakan hal yang tidak masuk akal. Apa kau ingin cari mati? “
“ Berhentilah memanggil Kaira istrimu, istrimu sudah lama mati, Kaira adalah kekasihku saat ini. “
“ Frans tutup mulut mu, jangan sebut nama itu, dia adalah Sandara. Kau mengerti? Jika kau berani menghubunginya lagi, aku pastikan kau dan ibumu akan menderita. “
“ Apa kau mengancam ku? Di depan Kaira? “
Berlin pun langsung mematikan panggilan telepon itu dan kemudian menatap Sandara yang kini tengah menatapnya dengan tajam. Lalu Berlin mengembalikan ponsel Sandara dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
Sandara juga masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang sudah amat sangat kesal karena perlakuan Berlin kepadanya tadi yang menurutnya tidak sopan, terlebih lagi Sandara mendengar jika Berlin mengancam Frans di telepon.
“ Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? “ Tanya Kaira dengan tatapan sinis nya.
__ADS_1
“ Apa? “
“ Kau mengancam Frans? “
“ Aku hanya memperingatinya, Frans harus sadar di mana tempat nya. “
“ Apa kau memang seperti ini? Selalu mengancam orang lain yang lebih lemah darimu? “
“ Apa kau menganggap Frans lemah? Jika dia lemah, Frans tidak akan mampu memanipulasi identitas mu, terlebih lagi saat ini aku hanya menahan amarah ku. Aku hanya tidak ingin kau melihat ku dengan sisi terburuk ku. “ Ujar Berlin yang sebenarnya sudah sangat kesal dan ingin rasanya ia menghabisi Frans. Namun Berlin selalu menahannya, ia masih memikirkan Sandara, dan tidak ingin Sandara melihat nya dengan pandangan buruk sebelum Sandara benar-benar mengingat segalanya.
“ Jika kau tidak menahannya apa yang akan kau lakukan? “ Tanya Sandara menyelidik, Sandara sengaja ingin mengenal Berlin lebih jauh lagi, dan ia juga ingin melihat bagaimana karakter Berlin saat ini.
“ Aku bukanlah pecundang seperti Frans yang akan menyembunyikan segalanya dari mu. Jika kau sangat ingin mengingat masa lalu mu, maka aku juga akan memperlakukanmu sama seperti saat itu, di saat kau masih mengingat segalanya. “ Jawab Berlin yang sedikit kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Sandara kepadanya.
“ Apa kau mampu melakukan hal yang kejam? Apa kau akan menghabisi Frans? “ Tanya Sandara lagi untuk memastikan jika Berlin tidak akan melakukan hal seperti itu kepada Frans.
“ Apa kau menantang ku? Apa kau ingin sekali melihat sisi terburuk ku? “ Tanya Berlin lalu kemudian menatap Sandara dengan tatapan yang sudah sangat menyeramkan, tatapannya kini terlihat seperti pembunuh berdarah dingin.
“ Aku mampu melakukan apa saja, jadi kuharap kau jangan berbuat macam-macam di belakangku, saat ini aku memang mencintaimu, tapi kau yang lebih tau, cinta tidak akan bertahan lama jika ada pengkhianat di dalamnya. “
Lalu Berlin kembali melajukan mobilnya, sebenarnya Berlin tidak ingin melontarkan kata-kata pedas kepada Sandara, tetapi Sandaralah yang membuatnya melontarkan kalimat-kalimat seperti itu.
Setelah mendengarkan perkataan Berlin, Sandara hanya terdiam sampai mereka sampai di rumah Berlin, Lalu kemudian Sandara turun dari mobilnya dan melihat sekelilingnya.
“ Dimana ini? “ Tanya Sandara yang masih melihat sekeliling nya.
“ Rumah ku, mulai hari ini kau akan tinggal disini bersama dengan ku. “
“ Tidak, sejak kapan aku setuju untuk tinggal denganmu? Aku mengikutimu karena aku ingin menemui ibuku dan tinggal bersama dengan ibuku. “ Tolak Sandara yang merasa Berlin telah membuat keputusan tanpa persetujuannya, dan Sandara hanya ingin tinggal bersama dengan ibunya di rumah Devan, Sandara juga sudah tahu jika Devan adalah saudara tirinya, Berlin sudah menceritakan semua tentang Devan dan ibunya tanpa ada yang disembunyikan.
“ Aku tidak butuh persetujuan mu, dari dulu aku juga tidak pernah meminta persetujuan mu, dan kau…kau selalu menuruti apapun keinginanku. “ Jelas Berlin lalu berjalan meninggalkan Sandara yang masih berdiri mematung di depan halaman rumah Berlin itu.
__ADS_1
“ Apa kau tidak ingin masuk? “ Teriak Berlin yang menoleh ke arah Sandara yang masih berdiri sambil melihat sekelilingnya.
Sandara pun kemudian dengan terpaksa melangkahkan kaki nya dan ikut masuk ke dalam rumah Berlin. Lalu Berlin membawa Sandara ke kamarnya.
“ Masuklah…” Pinta Berlin yang meminta Sandara untuk masuk ke dalam kamarnya.
Lalu setelah Sandara masuk ke dalam kamar, Berlin juga ikut masuk lalu kemudian menutup pintu kamarnya dan saat Sandara menyadari jika Berlin juga ikut masuk ke dalam kamar, ia pun langsung membelalakkan kedua matanya lalu kemudian meraih bantal yang ada di atas kasurnya.
“ Kenapa kau masuk? Dan kenapa kau menutup pintunya? Apa yang mau kau lakukan? “ Tanya Sandara sambil mengayunkan bantal yang di genggamnya itu ke arah Berlin.
Kemudian Berlin menangkap Bantal yang hampir saja menyentuh wajah nya itu. Dan setelah itu Berlin melemparkan bantal itu dengan sangat kasar.
“ Ada apa? Aku suami mu, dan untuk apa kau panik seperti ini. Dulu juga kita sudah biasa tidur bersama, lalu kenapa sekarang tidak? “
“ Keluarlah, aku belum bisa terbiasa untuk tidur denganmu. “
“ Maka dari itu, mulai dari sekarang kau sudah harus membiasakannya Dara. “
“ Tapi tidak secepat ini juga…”
“ Apa kau tidak ingin ingatanmu cepat kembali? “
Dan Sandara tidak menjawab, dia hanya diam lalu kemudian tangannya yang terlihat canggung itu berjaga-jaga untuk melindungi tubuhnya. Berlin hanya tersenyum simpul melihat tingkah Sandara yang saat ini terlihat begitu menggemaskan baginya.
“ Kau tidur di ranjang, aku akan tidur di sofa. “ Ujar Berlin lalu meraih selimut yang ada di atas tempat tidur.
Sandara hanya menatap Berlin dan tidak bereaksi apapun. Lalu kemudian Sandara membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil meringkuk. Sandara masih merasakan kecanggungan, ia bahkan terlihat sangat tegang sampai tubuhnya berkeringat.
“ Apa yang sedang aku lakukan? Tubuhku bahkan sepertinya akan mati rasa. Situasi ini bahkan terlihat sangat berbahaya, kalau Berlin tiba-tiba saja ingin aku melayaninya dan memintaku untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang istri bagaimana? “ Batin Sandara.
Lalu kemudian Sandara mencoba menaikkan sedikit kepalanya dan melirik ke arah Berlin yang kini sudah terlihat sedang tertidur sambil menutup matanya dengan lengan tangannya.
Lalu Sandara menarik nafas lega dan kemudian mengusap-usap dadanya. Ia sangat senang melihat Berlin yang sepertinya sudah tertidur itu.
__ADS_1