Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#37


__ADS_3

*****


" Kenapa kau diam saja? Apa kau bisu? Nomor siapa ini? " Tanya Berlin lagi pada Sandara.


Sandara pun menatap Berlin tajam, kalimat yang keluar dari mulut Berlin selalu saja menyakitkan.


" Kenapa kau selalu melontarkan kata-kata yang membuatku kesal? Aku sudah lelah!! Perjanjian kita, perjanjian mu dengan ayah ku. Bukankah semua perjanjian itu sudah usai? Ayah ku sudah tiada, dan Atikah juga sudah masuk ke dalam penjara. Lalu apa lagi? Balas dendam kepada ayah mu? Apa itu mungkin? Dia sudah menghabisi nyawa ayah ku di depan mataku, lalu sekarang aku sudah tidak ingin berurusan dengan keluarga mu lagi. Aku ingin kita bercerai. Aku sudah muak dengan segalanya, aku ingin pergi dari kehidupan mu dan semua yang ada kaitannya dengan mu. Aku benci semua yang berhubungan dengan ayah mu yang seperti iblis itu. Aaaarrrgghhh!!!! "


Sandara mengeluarkan segala keluh kesah nya, lalu kemudian ia berteriak sambil memegangi kepalanya. Sandara sangat tidak ingin hidup dengan darah daging dari Remon, dia bahkan membenci dirinya sendiri.


" Kenapa kau begitu bodoh? Apa kau memeng terlahir bodoh? Apa kau tidak pernah berpikir? Walau dirimu berusaha sekeras apapun untuk pergi dari pandangan ayah ku. Kau tetap akan berakhir di tangannya, saat ini perlindungan terbaikmu hanyalah diri ku. Kau hanya perlu bersabar dan jangan menjadi lemah hanya karena kematian ayah mu. Kau harus ingat tujuan awal mu menikah dengan ku. "


Berlin semakin kesal melihat tingkah Sandara yang semakin terlihat menggila di hadapannya. Dan sebenarnya, dari lubuk hati Berlin yang terdalam, ia tidak ingin melepaskan Sandara begitu saja. Rasa bersalah juga menghantui Berlin, Berlin juga berpikir bahwa dirinya juga ikut andil dalam sebagian hidup Sandara.


Karena selama ini Berlin juga sudah terlalu banyak memanfaatkan Sandara untuk kepentingan pribadinya tanpa melihat kerugian yang di alami oleh Sandara selama ini.


" Berlin, jika kata-kata mu benar...maka aku sudah memutuskan hal yang tepat untuk kehidupan ku. Aku benar-benar akan pergi dari kehidupan hina ini. Aku sudah muak dengan segalanya, aku tidak ingin menyaksikan atau pun mengalami hal-hal yang menjijikkan dalam hidup ku lagi. Semua sudah cukup bagi ku...dan untuk mu...terimakasih karena sudah memberiku kesempatan untuk membalaskan dendam ku, tapi saat ini...di titik ini...aku sudah memutuskan hal yang sangat tepat untukku. Dan aku mohon, kau jangan muncul lagi di hadapan ku. "


Setelah selesai berbicara, Sandara beranjak dari tempat tidurnya dan berniat untuk keluar dari kamarnya, namun Berlin menghentikannya dan meraih tangan Sandara.


" Apa yang akan kau lakukan? " Tanya Berlin masih menggenggam pergelangan tangan Sandara.


" Lepaskan aku...jika kau terus saja menghalangi ku, maka hidupku akan semakin hancur dan tersiksa. Jadi tolong...lepaskan aku. "

__ADS_1


Berlin yang juga sudah tidak ingin melihat Sandara menderita lagi itupun akhirnya melepaskan tangan Sandara dan membiarkan Sandara keluar dari kamar nya.


Namun Berlin tidak diam, saat Sandara menutup pintu kamarnya, Berlin kembali membuka nya dan masih terus mengamati Sandara...namun tiba-tiba saja, hanya dalam sekejap mata dan Berlin tidak sempat meraih Sandara, dengan perasaan yang sudah sangat tidak karuan, Sandara melompat dari lantai dua rumah singgah Berlin.


Berlin berlari namun sudah sangat terlambat, Sandara sudah terjatuh dan kemudian mengeluarkan banyak darah di tubuh nya. Berlin dengan sangat tergesa-gesa menuruni anak tangga sampai terjatuh dan kemudian bangun lagi.


Sedangkan Frans, Devan dan Sarah yang sedang berada di ruang tamu sangat terkejut melihat Sandara yang tiba-tiba terjatuh dari lantai dua.


" Tidak..!! " Teriak Berlin lalu membalikkan tubuh Sandara dan menopang kepala Sandara di pangkuannya.


" Cepat siapkan mobil...cepat!!! " Bentak Berlin kepada semua orang yang melihat Sandara yang sudah terbaring dengan darah yang sudah berlumuran di kepala dan tubuh nya.


Frans dengan sigap langsung berlari dan menyiapkan mobil, sedangkan Sarah, ia tidak kuat melihat putrinya dalam keadaan yang mengenaskan seperti itu, lalu kemudian Sarah jatuh pingsan di pelukan Devan.


Setelah Frans keluar untuk menyiapkan mobil, Berlin langsung membawa Sandara keluar dan masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan oleh Frans.


Setelah menunggu sekitar hampir lima jam, akhirnya dokter yang mengoperasi Sandara keluar dan memberitahukan kepada Berlin jika Sandara mengalami geger otak berat dan saat ini mengalami koma. Sedangkan janin yang di kandungnya sudah di angkat karena Sandara langsung mengalami keguguran saat jatuh dari lantai dua.


Berlin dan Frans sangat terkejut, mereka tidak membayangkan sebelumnya jika Sandara akan berbuat senekat itu. Berlin hanya bisa pasrah dan berdoa yang terbaik untuk Sandara. Namun Berlin juga meminta dokter spesialis untuk merawat Sandara sampai Sandara benar-benar pulih total.


" Dok, tolong sembuhkan istri saya...berapapun biayanya pasti akan saya berikan. Jadi saya mohon dengan sangat. Tolong dokter rawat istri saya dengan baik, jangan sampai ada kesalahan, jika sampai ada kesalahan, maka saya tidak akan segan-segan menuntut dokter. " Ancam Berlin kepada dokter yang menangani operasi Sandara.


" Maaf tuan, semua yang kami lakukan sudah sangat maksimal...tuan hanya perlu percaya dengan kemampuan kami dan mukjizat yang akan datang kepada istri anda, kalau begitu saya permisi tuan. "

__ADS_1


Setelah dokter itu pergi meninggalkan ruangan operasi, Sandara langsung di pindahkan ke ruang perawatan VVIP yang sudah di pesan oleh Berlin.


Berlin ingin memastikan semua nya dengan baik, ia tidak ingin jika Sandara hanya asal di rawat saja. Setelah Sandara di pindahkan, Berlin dan Frans masuk ke dalam ruang perawatan Sandara. Sebagian anggota badan Sandara sudah di penuhi dengan selang-selang.


Sandara terlihat sangat tidak berdaya dengan bantuan alat pernafasan di bagian hidung dan juga mulutnya. Frans merasa sangat tidak tega melihat keadaan Sandara, dan Frans tidak sanggup menyaksikan kondisi Sandara yang sedang koma saat ini.



Kemudian Frans pun pergi keluar dari ruang perawatan Sandara. Sedangkan Berlin, ia duduk di kursi yang berada di samping ranjang Sandara, lalu kemudian Berlin meraih telapak tangan Sandara.


Kini perasaan Berlin benar-benar hancur, ia seperti kehilangan separuh jiwanya. Berlin juga baru menyadari, ternyata perasaan yang spesial sudah tumbuh di dalam lubuk hatinya.


Berlin benar-benar sangat hancur saat ini, terlebih lagi, kata-kata terakhir Sandara sebelum ia melompat masih terngiang-ngiang di telinga Berlin.


" Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau sangat bodoh? Kenapa kau melakukan hal itu Sandara? Aku tidak tahan melihat mu semakin terluka, tapi aku lebih tidak tahan lagi melihat mu berbaring dalam kondisi seperti ini di hadapan ku. Kau selalu saja mengusik ketenangan di hidupku, tapi...kau juga memberi warna di hidupku Dara. Jadi aku mohon...cepatlah sadar..." Ujar Berlin yang tiba-tiba saja memanggil nama Dara secara tidak lengkap seperti biasanya.



Berlin terus menggenggam tangan Sandara, sampai ia juga tertidur semalaman di ruang perawatan Sandara.


❤️❤️❤️


Jangan lupa like comment dan vote ya ❤️😘❤️

__ADS_1


Tinggalkan jejak klik tombol favorit ❤️😘❤️


Terimakasih atas dukungannya ❤️😘❤️


__ADS_2