Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#40


__ADS_3

*****


" Perasaan apa yang kau maksud? " Tanya Sandara sambil menatap Berlin dengan begitu dalam.


Berlin menarik nafas panjang, kemudian ia memejamkan matanya sejenak dan setelah itu, ia membuka mata nya kembali lalu meraih kedua tangan Sandara.


" Dara...sepertinya aku mulai menyukaimu. " Ujar Berlin dengan penuh keberanian.


" Tidak mudah bagiku untuk mengungkapkannya kepada mu, tetapi sepertinya perasaan ku ini sudah tidak bisa aku kendalikan. " Lanjut Berlin lalu ia mendongakkan kepalanya, tangannya mulai menyentuh leher Sandara.


Sandara mulai memejamkan kedua matanya, dan wajah Berlin semakin dekat dengan wajah Sandara. Lalu...cup....bibir Berlin pun berhasil mendarat tepat di bibir merah Sandara.


Dan saat Berlin menyudahi kecupannya, lalu ia membelai lembut bibir Sandara dengan jempol nya. Dan kemudian Berlin kembali mengecup bibir Sandara, dan ia melanjutkan menja mah bibir Sandara.


" Sangat manis..." Ujar Berlin setelah puas menikmati bibir indah Sandara.


Sandara hanya tersenyum hampa, perasaan Berlin terlihat begitu tulus kepada Sandara, tetapi Sandara melakukannya dengan setengah hati. Ciuman yang baru saja terjadi tidak ada apa-apa nya bagi Sandara. Sandara hanya menganggap nya sebagai salah satu trik untuk mencapai tujuannya.


" Berlin..."


" Ya istri ku..."


Sandara terlihat sedikit geli mendengar kalimat yang keluar dari mulut Berlin itu, namun ia sangat berusaha untuk menahannya dan terus melakukan sandiwara di depan Berlin.


" Aku lapar, apa aku sudah boleh makan? " Tanya Sandara lalu melirik makanan yang sudah di sajikan di atas meja makan.


" Ah iya aku lupa...ayo kita makan..."


Dan mereka menikmati sarapan pagi mereka, lalu...setelah selesai makan, Berlin membawa Sandara berkeliling. Ia mendorong kursi roda Sandara dengan perlahan sambil menikmati suasana pagi hari yang begitu cerah.


" Dara...mulai minggu depan kau sudah harus mulai terapi, aku ingin melihat mu pulih kembali. " Ujar Berlin yang masih mendorong kursi roda Sandara.


" Ya.."


Dan kemudian Berlin berhenti tepat di taman belakang halaman rumah nya. Ia menghentikan kursi roda Sandara tepat di samping kolam ikan.


" Berlin..."


" Hmmm "


" Apa kau ingat, apa yang sudah kau lakukan padaku di kolam ini? " Tanya Sandara yang membahas kembali kejadian di saat Berlin mendorongnya hingga Sandara terjatuh ke dalam kolam ikan tersebut.


Berlin hanya tersenyum lalu membelai lembut rambut Sandara. Ia kembali duduk berjongkok di depan Sandara.

__ADS_1


" Maaf soal kejadian waktu itu..." Ujar Berlin yang meminta maaf dan baru menyesali apa yang sudah dilakukannya kepada Sandara.


" Kau sungguh meminta maaf kepadaku? "


" Iya...maafkan aku...aku baru menyesali perbuatan ku itu. "


" Benarkah? "


Berlin kembali mengangguk dan tersenyum kepada Sandara.


" Kalau begitu, boleh aku membalas perbuatan mu? Aku juga ingin mendorong mu sampai kaki mu terkilir. " Ujar Sandara dengan tatapan mata yang sudah berubah menjadi sinis.



Berlin terlihat terkejut mendengar perkataan Sandara, bahkan tatapan mata Sandara memberikan sorotan yang menusuk, hingga terlihat dengan jelas dari mata Sandara bahwa ia sangat marah mengenai kejadian waktu itu.


Berlin masih terdiam, senyumnya pudar hanya karena kalimat yang terlontar dari mulut Sandara itu. Lalu tiba-tiba saja Sandara tertawa terbahak-bahak.


" Ahahahhahaha..."


Berlin masih terlihat bingung sambil menatap Sandara dengan heran.



Berlin masih terdiam, ia bahkan tidak tertawa sama sekali. Lalu kemudian Berlin meletakkan kedua tangannya tepat di kanan dan kiri pipi Sandara. Sandara seketika itu juga menjadi terdiam dan kembali menatap Berlin dengan serius.


" Apa aku terlihat menyeramkan saat itu? "


Sandara pun mengangguk...


" Apa ucapan ku menyakitkan bagimu saat itu? "


Sandara kembali mengangguk...


" Apa kau sangat membenciku? "


Kali ini Sandara tidak mengangguk, lalu ia melepaskan kedua tangan Berlin dari pipi nya. Sandara mendekatkan wajah nya ke wajah Berlin. Lalu ia berkata...


" Aku sangat sangat sangat membencimu...kau selalu bersikap dingin, bermulut kasar dan selalu saja memanggilku bodoh. Tapi lihatlah dirimu sekarang, kau menyukai wanita bodoh ini tuan Berlin. "


" Apa kau masih membenci ku? " Tanya Berlin lagi.


Berlin hanya ingin memastikan bahwa Sandara sudah tidak membencinya dan bisa menerimanya mulai saat ini.

__ADS_1


" Sedikit..."


" Kenapa? "


" Aku membenci mata mu...tatapan matamu mengingatkanku pada laki-laki iblis itu. " Ujar Sandara, ya...memang mata Berlin sangatlah mirip dengan mata yang di miliki Remon. Bahkan jika orang lain melihatnya, orang lain tidak bisa meragukan hubungan antara ayah dan anak itu, karena terlihat begitu jelas kemiripan di mata mereka.


" Maafkan aku Dara...maaf karena aku terlahir sebagai anak dari Remon Saw. " Ujar Berlin yang juga merasa menyesal telah terlahir dari garis keturunan Remon.


" Iya...tidak apa-apa Berlin, mungkin ini sudah menjadi takdir ku dan takdir mu. Dan Berlin...sebenarnya..."


" Ada apa? "


" Yang membuatku melompat saat itu adalah ayah mu. " Ujar Sandara yang mulai menjalankan rencananya.


" Ayahku? "


" Ya...telefon itu dari ayah mu...dan aku merasa sangat jijik dan membenci diriku sendiri. Kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu lah yang membuatku memutuskan untuk mengakhiri hidup ku. "


Berlin terlihat marah, dan kemudian ia mengepalkan kedua telapak tangannya. Sandara melirik ke arah tangan Berlin yang sudah mengepal itu lalu kemudian ia sedikit tersenyum melihatnya.


" Dara...aku tidak akan membiarkan nya menghubungimu lagi, bahkan jika dia sampai berani menyentuh sehelai saja rambut mu, maka aku akan langsung membunuh nya. " Ujar Berlin yang sudah terlihat sangat bersungguh-sungguh dari sorotan matanya itu.


Sandara pun tersenyum ke arah Berlin, lalu Sandara meraih tangan Berlin dan menggenggamnya.


" Berlin...aku hanya ingin laki-laki itu mendapatkan hukuman yang pantas untuk nya. Aku ingin dia di hukum atas semua yang sudah dilakukannya selama ini kepada ku dan juga keluarga ku. " Ujar Sandara yang masih menggenggam tangan Berlin.


" Tunggulah...aku akan membuatnya merasa menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu kepada mu Dara..."


Sandara terlihat puas dengan apa yang dikatakan Berlin. Langkah pertama nya berjalan tanpa hambatan, dan Sandara pun kembali menyusun rencana untuk langkah berikutnya.


Sandara sama sekali tidak merasakan apapun kepada Berlin. Ia benar-benar hanya memanfaatkan kan perasaan Berlin untuk bisa membalaskan dendamnya kepada Remon.


Berlin yang tidak punya maksud lain saat ini pun hanya terlihat seperti orang bodoh di mata Sandara. Kemudian Sandara melemparkan senyum palsunya itu kepada Berlin, dan Berlin terlihat sangat senang dengan senyuman di wajah Sandara.


" Maaf Berlin, aku terpaksa harus berpura-pura menyukai mu. " Batin Sandara.


Jangan lupa like comment and vote 👍☺️☺️☺️


Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️


Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️ sayang kalian banyak-banyak ❤️☺️☺️☺️☺️***


'

__ADS_1


__ADS_2