Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#42


__ADS_3

*****


Berlin pun dengan segera menarik bahu Remon dan mencengkram kerah baju Remon. Suasana nya pun berubah menjadi menegangkan. Devan mendekati Sandara dan menarik kursi roda Sandara.


" Devan!! Berhenti!! " Bentak Remon kepada Devan dan Devan langsung menghentikan langkah nya.


" Lepaskan tangan mu Berlin!! Aku ayah mu!! Berani sekali kau bersikap seperti ini? " Bentak Remon kepada Berlin yang masih saja mencengkram kerah baju Remon.


" Apa yang ayah ingin lakukan? Cukup ayah!! Jangan kau sentuh Dara sehelai rambut pun, aku tidak akan tinggal diam. " Ujar Berlin sambil memelototi ayah nya.



" Aku tidak akan menyentuhnya, lepaskan tangan mu!! "


Namun Berlin tidak dapat mempercayai kata-kata ayah nya begitu saja. Berlin masih mencengkram kerah baju Remon. Lalu Remon yang merasa kesal pun akhirnya memukul wajah Berlin dengan tinjunya.


Devan dengan segera berdiri di antara Remon dan juga Berlin. Ia berusaha untuk melerai perkelahian antara anak dan ayah itu. Berlin memegangi wajah nya sambil menatap ke arah Remon dengan tajam.


Lalu Remon yang sudah terlepas dari cengkeraman Berlin itupun langsung menghampiri Sandara yang kini berada tepat di belakang Remon.


" Seperti nya kau sangat menikmati kehidupan mu sebagai tuan putri di sini. Kau sungguh beruntung karena Berlin. Tapi kehadiran mu membuat anak ku membenci ayah nya sendiri. Apa ini salah satu rencana mu darai awal untuk mendekati putra ku? " Tanya Berlin kepada Sandara dengan wajah yang sudah tampak sangat menyeramkan.


Sandara masih gemetar, namun ia terus saja berusaha menahan diri nya. Jemari Sandara menggenggam pegangan kursi rodanya. Lalu dengan penuh keberanian, Sandara mendekatkan wajahnya kepada Remon dan...


Cuiihhhh!!!


Sandara meludah tepat di wajah Remon, Remon dengan spontan memejamkan matanya, lalu ia mengusap wajah nya yang terkena air li ur Sandara.


Remon tersenyum sambil menatap Sandara tajam...


" Ternyata kau masih kurang ajar..." Ujar Remon dan...


Plakkkk...!!!


Remon menampar Sandara sangat keras, lalu Sarah yang tidak terima melihat putri nya di perlakukan seperi itu pun mendorong tubuh Remon dengan begitu keras. Hingga tubuh Remon membentur meja makan.

__ADS_1


" Bedebah...sial!! " Ujar Remon lalu saat ia menghampiri Sarah dan ingin memukul Sarah, Devan mencegah Remon dan menahan tubuh Remon.



" Hentikan paman, aku mohon jangan membuat keributan. " Ujar Devan yang masih terus memegangi tubuh Remon.


Amarah Berlin semakin menggebu-gebu, Berlin sangat geram, dan ia tidak terima Remon menampar Sandara di hadapannya seperti itu.


" Bibi...tolong bawa Dara keluar, aku harus segera menyelesaikannya. " Pinta Berlin pada Sarah. Dan kemudian Sarah membawa Sandara keluar dari rumah Berlin dan membawa Sandara pergi ke rumah nya.


Berlin berjalan mendekat ke arah Remon, sorot mata Berlin sudah sangat menakutkan, kemudian Berlin meraih pisau yang ada di dapur. Dan saat Berlin akan melayangkan pisaunya...


" Berlin!! Hentikan!! Apa yang ingin kau lakukan?! " Devan berteriak dan mencoba untuk mencegah Berlin. Devan berdiri tepat di depan Remon.


" Devan, ini urusanku dengannya, kau jangan ikut campur...pergilah.." Ujar Remon yang kini sudah tidak dapat mengendalikan emosinya.


" Berlin aku mohon!! Jangan seperti itu...jika kau melakukan hal seperti itu, kau sama saja dengannya. Kau juga akan menjadi pembunuh Berlin...jangan sia-siakan hidup mu hanya untuk membunuh seseorang. "


Kata-kata Devan pun akhirnya menghentikan Berlin, Berlin pun sadar...dan ia juga berpikir...


Berlin pun mengurungkan niat nya dan membuang pisau yang ada di tangannya itu. Tapi...tatapan mata Berlin masih saja tajam menatap Remon.


" Kau adalah putra ku satu-satunya, tetapi berani sekali kau mengayunkan pisau pada ayah mu ini, dan kau melakukan semua itu hanya karena wanita gila itu. Dengar Berlin, kau akan menyesal karena telah membela wanita gila itu. Ingat itu Berlin..!! " Ujar Remon dan kemudian Remon memberi peringatan ancaman kepada Berlin.


" Sudah paman...pergilah...jangan membuat keadaan semakin keruh karena ucapan paman. Biarkan Berlin menentukan pilihan hidup nya sendiri. Ayo paman...aku antar keluar. " Lerai Devan, karena Devan tidak ingin jika Berlin terpancing emosinya lagi dan berbuat sesuatu yang merugikan dirinya.


Dan akhirnya Devan mengantar Remon keluar dari rumah Berlin. Dan Berlin masih berdiri mematung sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia juga berusaha menenangkan dirinya untuk saat ini.


*****


Dan di tempat lain...


Setelah masuk ke dalam rumah, Sarah dengan segera menutup pintu rumahnya dengan rapat dan mengunci nya. Bahkan Sarah sampai mengunci setiap jendela yang ada di dalam rumah nya.


Sandara masih terdiam di atas kursi roda nya, tubuh nya semakin gemetar. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuh nya. Dadanya terasa sesak, setiap kali ia berhadapan dengan Remon, Sandara selalu merasa mual dan pusing.

__ADS_1



Sandara mencoba untuk mengendalikan kepanikan nya. Rasa mual, pusing dan sesak yang di alami Sandara adalah akibat dari kecemasan yang berlebihan. Dan Sandara juga menahan setiap emosi yang ada di dalam dirinya.


Sandara berusaha untuk terus mengatur nafasnya yang semakin tidak beraturan itu. Tangan nya masih saja gemetar, pandangan matanya juga mulai kabur. Namun Sandara masih terus mencoba untuk menenangkan dirinya.


Lalu, Sarah yang sudah selesai menutup semua pintu dan jendela rumah nya rapat-rapat itu menghampiri Sandara. Dan berapa terkejutnya Sarah melihat wajah Sandara yang sudah sangat pucat dan seluruh tubuhnya sudah di basahi oleh keringat dingin yang mengalir di tubuh Sandara.


" Dara..." Panggil Sarah pada Sandara lalu mengusap-usap tubuh Sandara supaya hangat.


Sandara mulai membuka kedua mata nya dan melihat Sarah. Sandara seperti ingin mengatakan sesuatu, namun semua terasa berat dan seperti tidak bisa di gerakkan.


" akh..u..." Sandara masih terus berusaha dan mencoba mengeluarkan beberapa kata, namun tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu.


" Sebentar Dara...ibu ambilkan minuman..." Ujar Sarah, lalu Sarah segera berlari ke dapur dan mengambilkan minuman untuk Sandara.


Sarah memberi Sandara secangkir air mineral, lalu ia meminum nya perlahan. Sarah menyentuh tangan Sandara, dan suhu tubuh Sandara sangat dingin. Lalu Setelah Sandara selesai minum, Sarah langsung mengambilkan selimut dan memberikannya kepada Sandara.


Dan tidak lama kemudian Devan dan Berlin datang. Mereka mengetuk pintu rumah Sarah, dan kemudian Sarah dengan segera membukakan pintu rumah nya.


" Dimana Dara? " Tanya Berlin yang langsung mencari sosok Sandara.


" Di di dekat sofa...tapi tunggu Berlin..." Jawab Sarah lalu kemudian meraih lengan tangan Berlin.


" Ada apa bi? " Tanya Berlin bingung.


" Coba kau telfon dokter untuk memeriksa Dara...bibi khawatir terjadi sesuatu pada Dara. Tangannya sangat dingin dan ia kesulitan saat berbicara. " Jelas Sarah yang menjelaskan situasi dan juga keadaan Sandara saat ini.


Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️


Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️😘


Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️


Sayang kalian banyak-banyak ❤️❤️❤️😘

__ADS_1


__ADS_2