
*****
" Devan...tolong panggilkan dokter, aku akan melihat keadaan Dara..." Ujar Berlin yang meminta Devan untuk menghubungi dokter.
Dan saat Berlin ingin menghampiri Sandara, tiba-tiba saja Sandara sudah muncul di hadapannya.
" Tidak perlu Berlin...aku tidak apa-apa. " Ujar Sandara yang mengarahkan kursi rodanya kepada Berlin.
" Dara...kau baik-baik saja? " Tanya Berlin yang langsung menghampiri Sandara.
Dan kemudian Sandara hanya mengangguk, lalu Sandara melihat ke arah Sarah dan kemudian Sandara menggelengkan kepalanya, ia memberi isyarat kepada Sarah supaya Sarah tidak menceritakan kepada Berlin mengenai kondisi nya tadi.
" Dara, tadi bibi bilang kau kesulitan bicara? "
" Tidak, aku hanya sedang haus...dan tenggorokanku sedikit kering. " Jelas Sandara, saat ini Sandara tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun.
Sandara sangat membenci tatapan mata yang melihatnya karena kasihan ataupun iba. Dan sebisa mungkin Sandara mencoba untuk bersikap kuat dan juga baik-baik saja.
" Berlin...aku ingin istirahat..." Ujar Sandara dan kemudian Berlin langsung membawa Sandara keluar dari rumah Sarah.
Saat mereka ingin masuk ke dalam gerbang rumah Berlin, ternyata Remon masih menunggu di samping halaman rumah Berlin, Remon yang melihat Berlin dan juga Sandara masuk ke dalam rumah nya itu pun langsung menghampiri Sandara dan juga Berlin.
" Berlin!! " Panggil Remon dan kemudian Berlin pun menoleh ke arah nya.
" Kenapa kau masih di sini? " Tanya Berlin dengan wajah yang sudah sangat kesal.
" Ayah hanya ingin berkunjung ke rumah putra ayah, dan juga ingin menjenguk menantu kesayangan ayah. Tapi apa yang ayah dapatkan? Apa kau takut Berlin? Apa kau takut jika ayah akan menyakiti menantu ayah? " Tanya Remon yang sama sekali tidak merasa bersalah atas perbuatan yang sudah dilakukannya kepada Sandara.
" Dari semua wanita, kenapa harus Dara? Dan...apa kau sangat senang menodai semua menantu mu? Apa kau belum puas dengan kematian Issabel? " Tanya Berlin yang sudah mulai tidak bisa mengontrol emosi nya.
__ADS_1
Lalu kemudian Sandara menoleh ke arah Berlin, ia sangat terkejut saat mendengar nama Issabel. Ini pertama kalinya Berlin membahas tentang masa lalu nya di hadapan Sandara.
" Dengar Berlin, soal Issabel...itu berbeda...ayah sudah pernah menjelaskannya kepada mu...kalau Dara...dia adalah gadis gila...dia tidak memiliki akal sehat. Dan ayah hanya ingin memberinya pelajaran, itu saja. "
" Apa kau bilang? Berbeda? Apa bedanya? Kau dan naf su bira hi mu itu sudah tidak bisa di maafkan. Kau yang membuat Dara masuk ke dalam rumah sakit jiwa...apa kau tidak ingat? Dan terlebih lagi...aku begitu bodoh tidak menyadari kalau selama ini aku tinggal dengan pria yang aku sebut ayah, namun perbuatan mu sangat menjijikan dan tidak bermoral. " Ujar Berlin yang benar-benar sudah merasa muak dengan Remon.
Remon menatap Berlin tajam, kemudian ia yang sudah kehabisan kata-kata nya itu pun pergi meninggalkan kediaman Berlin. Dan Berlin masih berdiri mematung, dan lagi-lagi Berlin teringat wajah mendiang Issabel.
Tanpa Sadar Berlin berjalan meninggalkan Sandara sendirian. Dan Sandara hanya bisa melihat punggung Berlin sambil menjalankan kursi roda nya.
Berlin masuk ke dalam rumah nya, ia benar-benar terhanyut dalam ingatannya tentang Issabel. Hingga Berlin tidak menyadari kalau Sandara masih berada di luar dan tidak bisa masuk karena Berlin menutup pintu rumahnya dan menguncinya.
Sandara pun berdiam di depan pintu, ia menaikkan kedua alisnya, lalu memutar kursi roda nya dan Sandara menjalankan kursi roda nya ke halaman belakang rumah Berlin.
" Ada apa dengan Berlin? Ah...entahlah...dingin sekali...aku harus segera masuk...mungkin pintu belakang masih terbuka. " Batin Sandara.
Lalu tiba-tiba saja, Frans yang baru saja selesai makan malam pun berjalan ke arah Sandara. Frans menghentikan langkah nya dan menghampiri Sandara.
" Apa yang kau lakukan? " Tanya Frans heran karena Sandara hanya berdiam sambil menatap tangga di depannya.
" Aku ingin beristirahat, kau bisa tolong aku untuk menaiki anak tangga ini? " Jawab Sandara dan kemudian Sandara meminta Frans untuk membantunya menaiki anak tangga tersebut.
Tanpa sepatah kata pun, Frans langsung menggendong Sandara dan membawa Sandara ke kamar nya. Frans mengetuk pintu kamar Berlin dan Sandara. Dan kemudian Berlin membukakan pintu kamar nya.
" Dara...kau...kenapa kau...? " Tanya Berlin yang merasa bingung karena Frans menggendong Sandara.
" Frans, tolong cepat lah...aku ingin segera berbaring. " Ujar Sandara yang tidak menghiraukan Berlin dan meminta Frans agar segera membaringkannya di atas tempat tidurnya.
" Baik nona..."
__ADS_1
Setelah Frans membaringkan tubuh Sandara di atas tempat tidurnya, ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan kamar Sandara dan juga Berlin itu.
Berlin masih menatap Sandara heran, lalu kemudian ia teringat jika diri nya meninggalkan Sandara di halaman tadi setelah bertemu dengan Remon.
" Dara...maafkan aku...aku benar-benar lupa jika masih ada kau di halaman. " Ujar Berlin yang meminta maaf kepada Sandara.
Sandara langsung memejamkan matanya, ia tidak menghiraukan Berlin yang tengah meminta maaf kepada nya itu. Berlin pun terlihat merasa bersalah karena sudah melupakan Sandara dan langsung naik ke kamar dan meninggalkan Sandara sendirian tadi.
" Dara? Apa kau marah? " Tanya Berlin yang ingin memastikan apakah Sandara marah kepada nya.
" Tidak...aku lelah dan ingin cepat istirahat. " Ujar Sandara masih dengan mata terpejam.
Lalu Berlin pun membaringkan tubuh nya di samping Sandara. Dan mereka berdua pun terlelap dalam tidur nya.
*****
Di tempat lain...
Remon masuk ke dalam rumah nya dengan suasana hati yang sudah sangat tidak karuan. Marah, kesal semua tercampur menjadi satu.
" Brengsek!!! Siapa orang yang sudah berani memberitahu Berlin soal Issabel...akhhh...aku kira Berlin sudah melupakan soal Issabel. Jika aku menemukan bedebah itu, akan aku habisi dia. Dan Dara...tunggu saja...semenjak kehadiran mu...hubungan ku dengan Berlin menjadi kacau, dan semua rahasia ku satu persatu telah terbongkar. Aku akan membuat mu menyusul ayah mu, ahhh atau mungkin aku bisa membuat mu sangat tersiksa dan mati dengan perlahan dan menyakitkan...ya...itu hal yang bagus...aku akan merencanakan sesuatu...tunggu saja...jika semua sudah berjalan dengan semestinya...kau pasti akan jatuh di tangan ku Dara...tunggu saja. " Gumam Remon sambil menatap foto Sandara yang ada di layar laptopnya.
Lalu kemudian Remon menghubungi salah satu anak buah nya dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari orang yang sudah membongkar rahasianya kepada Berlin.
Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️😘
Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️😘
Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️😘
Sayang kalian banyak-banyak ❤️❤️😘
__ADS_1