Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#52


__ADS_3

*****


Berlin meremas ponsel di genggamannya lalu kemudian ia melemparnya tepat di wajah Remon. Berlin berdiri dan berjalan ke arah Remon, ia mencengkram kerah baju Remon lalu memukuli Remon dengan membabi buta.


Para anak buah Remon yang saat itu berada di sana pun langsung mencoba menghentikan Berlin. Namun karena kemarahan Berlin sudah memuncak semua yang mencoba menghalanginya itu pun habis di pukuli oleh Berlin.


" Berlin cukup!!! CUKUP KATAKU!!! " Bentak Remon yang berteriak di wajah Berlin.


" Kenapa kau melakukannya? Kenapa? Kenapa kau menghancurkan satu-satunya hal berharga yang di miliki putramu? Apa kau pantas di sebut seorang ayah? " Berlin kembali meninggikan suaranya dan masih mencengkram kerah baju Remon.


" Aku sudah memperingati mu sebelum nya, ceraikan Dara, dan aku tidak akan mengganggu mu. " Ujar Remon yang sama sekali tidak bisa mengerti maksud Berlin.


" Bagaimana aku bisa menceraikannya? Dia adalah satu-satunya hal berharga yang aku punya ayah. Dan kau!!! Dengan kejam kau membuangnya hidup-hidup ke laut. Apa kau pantas di sebut manusia? Kau adalah iblis.!! " Berlin yang semakin geram itu pun langsung melemparkan tubuh Remon ke lantai.


" Dan satu hal lagi, aku akan menyerahkan perusahaan kepada mu, dan aku akan mencabut semua saham ku. Kau bukan lagi keluarga ku, dan aku bukan bagian dari keluarga Saw lagi. Selamat tinggal Remon Saw. " Ujar Berlin lalu berjalan pergi dari kediaman Saw.


" Arggggghhhhhkkk!!!!! " Teriak Remon sambil melemparkan tinjunya ke lantai.


Bukan hal seperti ini yang Remon inginkan, ia hanya ingin memberikan Berlin pelajaran supaya Berlin tidak memberontak nya lagi dan mematuhi perkataan Remon seperti saat dulu ketika Berlin belum mengenal Sandara.


Remon benar-benar dibuat kesal oleh Berlin, semua yang telah di rencanakan Remon menjadi sia-sia. Putranya tidaklah kembali kepada nya melainkan sebaliknya, kini Remon benar-benar kehilangan satu-satunya putra yang di milikinya.


Remon juga tidak mungkin mencari Sandara dan menghidupkannya lagi. Mereka semua berpikir bahwa Sandara sudah meninggal di telan lautan.


Dan Berlin...hati nya begitu hancur, semangatnya untuk hidup bahkan sudah tidak ada lagi. Berlin benar-benar menutup dirinya dari siapapun.


Selama berhari-hari ia hanya mengurung dirinya di dalam kamar nya. Lalu Sarah, ketika Sarah mendengar jika putrinya telah tiada, ia begitu histeris sampai-sampai Sarah menyalahkan Berlin atas segalanya.


Berlin, Sarah dan juga Devan, mereka semua merasa kehilangan Sandara. Hanya ada kehampaan di hati mereka. Semua tenggelam dalam kesedihan.

__ADS_1


Sudah hampir tiga bulan Berlin mencari jasad Sandara, namun ia tak kunjung menemukannya. Berlin benar-benar menjadi kacau karena kehilangan Sandara.



Berlin kembali ke rumah nya, wajah nya bahkan sudah tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan. Jiwanya terasa kosong, semangat hidupnya sudah tidak ada lagi.


Lalu, Devan yang baru selesai pemotretan itu menghampiri Berlin yang saat ini sedang berbaring di sofa ruang tamu nya. Devan terus membujuk Berlin supaya ia bisa kembali bangkit dari keterpurukan nya.


" Berlin..." Panggil Devan sambil menyentuh lengan tangan Berlin yang menutupi wajahnya.


Dan kemudian Berlin pun duduk dan bersandar pada bantalan sofa.


" Ada apa? " Tanya Berlin masam.


" Jangan seperti ini, jangan menghancurkan diri mu sendiri seperti ini. Dara pasti akan sangat kecewa dengan mu. Apa kau mau mengecewakannya? Mungkin ini sudah jalan dari tuhan, dan mungkin saja Dara bisa menemukan kebahagiaannya di sana. " Ujar Devan sambil menepuk-nepuk bahu Berlin.


Namun Devan dengan segala tekad yang di punya nya mencoba menghentikan Berlin dan kembali membujuk Berlin.


" Berlin...kau harus meninggalkan kota ini, aku akan ikut bersamamu. Kita bisa membangun perusahaan bersama di sebuah kota yang jauh. Dan tinggalkan semua kenangan pahit mu di sini. Kau harus memulai kehidupan baru Berlin. Aku akan bersamamu, dan aku sudah merencanakannya dengan matang. Kau hanya perlu menyetujuinya saja. Bagaimana? " Bujuk Devan dengan penuh keyakinan.


Berlin terdiam sejenak...ia masih terus berpikir keras tentang kehidupan apa yang seharusnya ia jalani. Berlin merasa dirinya tidak pantas untuk merasakan kebahagiaan setelah kehilangan Sandara.


" Berlin...kau harus bangkit dan memulai hidup baru. " Bujuk Devan lagi, dan kemudian Berlin pun menyetujui nya.


" Baiklah...tapi aku hanya akan bekerja, dan tidak akan memikirkan hal lain. " Jawab Berlin yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan Devan.


Devan pun terlihat cukup lega mendengar persetujuan dari Berlin. Dan keesokan harinya, Devan dan Berlin pun mengemasi barang-barang mereka.


Sarah yang awalnya tidak ingin ikut pun kini bersedia untuk ikut dengan Devan. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pindah ke kota yang sudah di tentukan oleh Devan.

__ADS_1


Sudah tiga hari mereka berada di kota A, dan Devan juga sudah memberikan Berlin beberapa proposal perencanaan. Mereka juga sudah memilih gedung. Karena Devan adalah seorang model jadi Devan berencana untuk membangun sebuah perusahaan yang berjalan di bidang tekstil.


Berlin dan Devan pun terlihat bersungguh-sungguh dalam membangun usaha barunya itu. Semua saham yang di ambil Berlin dari perusahaan ayahnya, ia investasi kan semua pada perusahaan baru nya.


Dan hampir delapan puluh persennya adalah saham Berlin. Dan sisanya milik Devan dan juga Sarah. Mereka membentuk kerangka perusahaan dengan sangat teliti.


Dan kini sudah satu bulan perusahaan mereka berdiri dengan mengandalkan sepuluh karyawan di perusahaan nya. Semakin hari penjualan pun semakin meningkat, banyak investor yang juga menginvestasikan saham mereka kepada perusahaan Berlin.


Semakin hari semakin berkembang, setiap bulannya karyawan juga semakin bertambah. Berlin sudah mulai di sibukkan dengan pekerjaannya, dan Devan...ia sudah melepaskan karir model nya dan kini menjadi General manager di perusahaan yang mereka bangun itu.


Dan di tempat lain...


" Kaira!! " Panggil Frans kepada seorang gadis yang saat ini sedang berlari ke arah nya.



" Kenapa lama sekali? " Tanya Kaira kepada Frans yang sudah selama satu minggu ini di tugaskan keluar kota.


Frans hanya tersenyum lalu mencium kening Kaira...



Ya...Kaira adalah Sandara, Frans mengganti nama Sandara dengan Kaira Yuwei. Mereka berdua tampak begitu bahagia. Frans dan ibu nya lah yang merawat Kaira, ibu nya Frans...Natara Wei sangat menyayangi Kaira layaknya putri nya sendiri. Kaira juga sudah bisa berjalan normal karena ia secara rutin menjalani fisioterapi.


Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️


Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️


Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2