
*****
" Nenek mengira kalau kau sedang hamil, kalimat seperti itu saja kau tidak mengerti. "
" Jadi seperti itu, baiklah...karena kau sudah memberitahu ku, silahkan keluar...aku ingin istirahat. "
Sandara dengan wajah masam nya itu langsung berbaring dan menutupi tubuh nya dengan selimut. Dan Berlin pun berlalu pergi meninggalkan kamarnya. Tapi sebelum Berlin membuka pintu kamar nya, ia mengatakan sesuatu kepada Sandara.
" Malam ini aku akan tidur di sini. "
Ujar Berlin kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya. Sandara langsung membuka selimut yang menutupi wajah nya itu.
" Arrgghhhh...!!! Aku hanya ingin istirahat sejenak, dan pria aneh itu malah mengatakan hal seperti itu. Menyebalkan!! Aku jadi tidak bisa tidur, mood ku menjadi jauh lebih buruk. Aku sangat membencinya, dasar Berlin menyebalkan. "
Sandara pun beranjak dari tempat tidur nya, lalu kemudian ponsel nya berdering. Sandara sempat terkejut mendengar dering ponsel nya itu.
" Astaga...mengejutkan ku saja. "
Sandara melihat layar ponselnya, namun di layar tidak ada nama Berlin. Melainkan hanya nomor saja. Dan kemudian Sandara mengangkat telfon tersebut.
" *Halo..."
" Dara..."
" Anda siapa? "
" Ini ayah..."
" Ah...ayah...apa Berlin yang memberikan nomor ku pada ayah? "
" Ya...ayah meminta nya. "
" Ada apa ayah menghubungi ku? Bukankah setelah aku menikah dengan Berlin, ayah sudah mendapatkan segala nya saat ini? Apa ayah masih perlu bantuan dari ku? "
__ADS_1
" Tidak Dara...ayah hanya ingin meminta maaf kepada mu...tolong jangan pernah memaafkan ayah. Dan jangan pedulikan ayah mu ini. Hiduplah dengan layak, jangan temui ayah."
" Tidak perlu ayah, tidak ada guna nya juga kau meminta maaf. Semua sudah terjadi, dan aku hanya bisa menikmati kehidupan yang sudah kau berikan kepada ku ayah. Setidaknya selama ini kau tidak meninggalkan ku. Kau masih membiayai ku, bahkan saat aku masih di rumah sakit jiwa. Hanya saja, aku tidak bisa melupakan kehidupan pahit yang selama ini sudah kau berikan kepada ku. "
" Da..ra..."
Tiba-tiba saja suara Dion terdengar berat, lalu kemudian ada suara yang tidak asing, mengambil alih percakapan Dion dan juga Sandara.
" Halo gadis kecilku...bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja bukan? "
" Remon? Kau?? Bagaimana kau bisa dengan ayah ku? "
" Aa...itu pertanyaan yang bagus, beberapa hari lalu aku ingin mengunjungi mu, tapi sayang nya...Berlin sangat keras kepala dan melarang semua orang untuk mengizinkanku masuk ke dalam rumah singgah itu. Jadi...aku berniat ingin membuatmu keluar dari rumah itu dengan sendiri nya. Bagaimana? Apa kau senang? Kau pasti juga sangat merindukan ku. "
" Apa yang kau lakukan? Kenapa kau harus menemui ayah ku? "
" Karena itu satu-satunya cara, supaya kau bisa menghampiri ku dengan sendiri nya. "
" Apa mau mu? "
" Baiklah, aku harus kemana? "
" Wah ternyata kau memang anak yang berbakti, kau hanya perlu menunggu di depan gerbang rumah singgah itu. Anak buah ku sudah standby untuk menjemput mu*."
Dan kemudian panggilan telepon tersebut berakhir. Sandara dengan tangan dan kaki yang sudah bergetar itu pun berjalan keluar dari rumah singgah itu. Ia bahkan tidak sadar dengan apa yang sudah ia lakukan saat ini.
Dalam pikiran Sandara saat ini adalah, ia tidak ingin kehilangan siapapun. Bahkan ayah nya, walau selama hidup nya Dion tidak memperlakukannya dengan baik. Setidak nya Sandara masih menganggapnya sebagai seorang ayah. Dan satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah ia keluar dari rumah sakit jiwa.
Tatapan mata Sandara sudah sangat kosong, dan setelah ia melewati gerbang rumah singgah tersebut. Sebuah mobil hitam pun berhenti di depannya.
Sandara menoleh ke arah belakang, berharap ada seseorang yang melihat nya. Namun tidak ada satu pun yang mengarahkan pandangan mata nya ke arah Sandara.
Dan kebetulan satpam yang sedang berjaga itu juga sedang sangat sibuk membantu salah satu tukang kebun yang sedang kesulitan karena alat pemotong nya tiba-tiba rusak.
__ADS_1
Sandara masuk ke dalam mobil, ia melihat siapa saja yang ada di dalam mobil itu. Dan ternyata hanya beberapa anak buah Remon. Tubuh Sandara bergetar, keringat dingin pun keluar dari kening nya.
Sebelum sampai di tempat tujuan, kedua mata Sandara di tutup dengan kain, sehingga Sandara tidak dapat melihat jalan yang di lalui nya. Dan setelah sampai, para anak buah Remon itupun langsung membawa Sandara masuk.
Ketika penutup mata itu di buka, Sandara melihat ke sekelilingnya. Dan ia mendapati ayah nya yang sudah berlumuran darah. Dan juga sudah terikat di sebuah bangku.
" Ayah..."
Sandara berteriak memanggil ayah nya, dan ketika ia ingin menghampiri ayah nya. Tiba-tiba saja Remon menarik tubuh Sandara.
" Apa kau juga ingin di ikat seperti ayah mu? "
Sandara terdiam, lalu ia memalingkan wajah nya. Sandara sangat jijik tubuh nya bersentuhan dengan Remon. Dan kemudian Remon mencengkram leher Sandara, hingga Sandar mendongak ke arah nya.
" Kau hanya perlu diam dan menikmati permainan ku sayang. Jangan banyak bergerak, atau aku akan menembakkan peluru ke kepala ayah mu. Bagaimana? Apa kau tertantang? "
Sandara menatap Remon tajam, tubuh nya bergetar namun ia tetap mencoba untuk memberanikan diri nya. Sandara tidak ingin menjadi lemah karena gertakan Remon.
" Kau iblis..!! Jadi ini permainan mu? Kenapa kau menjadi benar-benar seperti pecundang. Kau hanya berani mengancam ku, dan yang lebih menyedihkan adalah. Kau menggunakan ayah ku sebagai umpan. Cih..."
Ujar Sandara, kemudian Sandara meludah tepat di wajah Remon. Dan Remon pun menjadi geram setelah mendengar kata-kata Sandara. Remon menarik rambut Sandara, tetapi Sandara tidak bereaksi apapun.
" Kenapa sulit sekali membuat mu memohon kepadaku sayang. Jika kau mengatakan, tolong selamatkan aku...tolong lepaskan ayah ku...aku akan melakukan segalanya asal kau mau menyelamatkan ku dan ayah ku...aku mohon... Kau hanya perlu mengatakannya, maka semua nya akan menjadi sangat mudah. "
Remon masih menjambak rambut Sandara, dan saat ini ia semakin keras menjambak nya. Tapi...lagi-lagi Sandara hanya tersenyum disertai bibir yang sudah bergetar.
Dan Remon semakin kesal, lalu ia menampar wajah Sandara dengan sangat kasar, hingga Sandara mengeluarkan darah dari sudut bibir nya.
" Apa kau hanya bisa memukul wanita? Kenapa kau begitu menyedihkan...dasar pecundang. "
Buaghh...!! Bughhh...!! Bughhh...!!
__ADS_1
Remon pun memukuli Sandara dengan membabi buta hingga Sandara tergeletak di lantai. Remon sangat ingin melihat Sandara memohon kepada nya. Tetapi Sandara sangat angkuh dan benar-benar tidak melakukan apa yang di inginkan Remon.