Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#69


__ADS_3

...****************...


“ Tidak bi, kau tidak bermimpi…”


“ Apa ini Dara putri ku? “ Tanya Sarah yang kemudian menjatuhkan air matanya.


Rasa haru dan juga perasaan bersyukur karena bisa kembali melihat putrinya itu membuat Sarah menangis, lalu Sarah pun langsung memeluk Kaira dan membelai lembut rambut Kaira.


“ Kau benar putriku? “ Tanya Sarah lagi yang kini masih memeluk tubuh Kaira dengan air mata yang sudah mengalir begitu deras.


Kaira yang merasakan pelukan hangat seorang ibu itu pun tak kuasa menahan air matanya, dan Kaira juga akhirnya menangis di pelukan Sarah. Apa yang dibayangkan Kaira selama ini akhirnya ia bisa merasakannya. Tangis kebahagiaan pun menyelimuti Kaira dan juga Sarah. Mereka berdua terlihat seperti sedang melepas rindu.


“ Sudah bi, apa kau tidak akan mempersilahkan ku dan Dara masuk? “ Tanya Berlin yang tidak ingin melihat hal-hal yang menyedihkan di hadapannya.


Dan Sarah pun menghentikan tangisnya, lalu ia meminta Berlin dan juga Kaira untuk segera masuk ke dalam rumahnya.


Sarah dengan hangat menyambut kedatangan Berlin dan juga Kaira, Sarah terus saja memandangi wajah putri yang sangat di rindukannya itu.


“ Dara? Kau kemana saja selama ini? Ibu sangat merindukanmu, setiap hari ibu selalu saja teringat denganmu. Kenapa kau harus pergi meninggalkan ibumu ini? Ibu selalu menyalahkan Berlin atas kepergianmu nak. “ Ujar Sarah masih dengan isak tangisnya.


Kaira juga bisa merasakan kesedihan ibunya itu, ia juga meneteskan air matanya ketika melihat ibunya yang menangis terisak di hadapannya. Kaira saat ini sangat bersyukur karena ia bisa menemui sosok ibu yang sudah lama di rindukannya itu.


“ Ibu…” Panggil Kaira dengan penuh haru.


“ Kau memanggilku ibu nak…kau putriku Dara” Jawab Sarah lalu kembali memeluk putrinya.


Berlin yang melihat keharuan di hadapannya itu pun hanya bisa tersenyum sambil menatap Kaira dan juga Sarah secara bergantian.


“ Dara…kau pasti belum makan, ibu buatkan makanan untuk mu ya…”


“ Biar aku bantu bu…” Ujar Kaira yang menawarkan dirinya untuk membantu Sarah di dapur.


“ Apa kau sudah bisa memasak? Lebih baik kau temani suamimu, ibu masih meragukan kemampuan memasakmu. “ Ujar Sarah lalu tersenyum ke arah Kaira.


“ Ahh, dari mana ibu tau kalau aku tidak pandai memasak? “ Tanya Kaira dengan wajah nya yang sudah terlihat heran.


“ Kau putri ibu satu-satunya, dan bagaimana ibu tidak tahu…kau sangat buruk dalam hal itu. “ Jawab Sarah lalu kemudian Kaira dan Sarah pun tertawa bersamaan.

__ADS_1


Kaira pun akhirnya membiarkan Sarah untuk menyiapkan makan malamnya sendiri tanpa bantuan dari nya. Dan kemudian ia berjalan menghampiri Berlin lalu duduk di depan Berlin.


“ Bagaimana perasaanmu? Sudah sangat jelas jika kau Sandara kan? Kau bukan Kaira, nama mu adalah Sandara, dan mulai hari ini kau harus menghapus data dirimu dan nama Kaira yang diberikan oleh Frans kepada mu.” Tanya Berlin lalu meminta Sandara untuk melupakan nama Kaira dan kembali menggunakan nama aslinya yaitu Sandara.


Sandara terlihat sedang berpikir dan mempertimbangkan perkataan Berlin. Lalu kemudian ia akhirnya menyetujui jika mulai saat ini dirinya akan kembali menjadi Sandara, dan akan melupakan nama Kaira yang saat ini sudah melekat pada dirinya.


*


*


*


*


*


Frans dengan perasaan kecewa, sedih, marah dan juga kesal dengan dirinya sendiri itu pun pulang kerumah dengan wajah yang sudah sangat murung. Natara yang melihat Frans kembali ke rumah tanpa Kaira itu pun langsung menghampiri Frans dan menanyakan keberadaan Kaira.


“ Dimana Kaira? Kenapa kau sendirian? “


“ Maaf ibu, aku gagal membawa Kaira kembali, masa lalu nya telah merebut Kaira dari ku ibu. Dia lebih memilih bersama dengan Berlin dibandingkan dengan ku ibu. “ Jawab Frans lalu kemudian ia jatuh terduduk dan mulai menangis di pelukan Natara.


“ Kebaikanmu selama ini sia-sia, kau tidak perlu menangisi wanita sepertinya. Dia lebih memilih masa lalunya karena masa lalu nya bisa menghidupinya dan memberinya banyak kemewahan. Tidak seperti keluarga sederhana yang kita miliki ini Frans. Lebih baik kau lupakan Kaira dan mencari wanita yang jauh lebih baik darinya. “ Ujar Natara yang sudah salah paham dengan Sandara.


“ Tidak ibu, Kaira bukanlah wanita seperti itu…”


“ Jika dia bukan wanita yang seperti itu, kenapa dia lebih memilih masa lalu yang sudah jelas-jelas membuangnya. Seharusnya dia memilihmu, kau sudah menyelamatkan nyawanya, dan kau juga yang sudah berbuat banyak untuk nya selama ini Frans. Kaira sungguh tidak tau terimakasih. “


Natara terlihat sangat geram karena Sandara meninggalkan putranya yang menurutnya sudah sangat berbuat banyak untuk kehidupan Sandara sampai saat ini.


Frans yang masih larut dalam kesedihannya itu pun hanya bisa membiarkan ibunya berkata seperti itu. Ia tidak ada tenaga untuk menyangkal perkataan ibunya yang juga cukup menyakitkan karena menjelek-jelekkan wanita yang dicintainya.


Lalu Natara membantu Frans untuk masuk ke dalam kamar nya dan kemudian membaringkan tubuh Frans di atas tempat tidurnya.


“ Aku tidak rela Frans menjadi seperti ini hanya karena wanita yang tidak tau diri seperti Kaira. Bisa-bisanya dia menyakiti putra ku seperti ini. Wanita itu hanya mementingkan harta kekayaan. “ Gumam Natara sambil menutup pintu kamar Frans.


Kemudian Natara pergi ke kamar Sandara dan ia membongkar seluruh isi lemari Sandara. Semua pakaian dikeluarkannya dari dalam lemari Sandara. Bahkan barang-barang Sandara dimasukkannya ke dalam sebuah kotak, lalu Natara membawa seluruh barang-barang Sandara ke halaman depan rumahnya.

__ADS_1


Semua barang-barang Sandara itu pun langsung dibakar oleh Natara sampai tidak ada yang tersisa satupun. Semua foto yang sudah dipajang pun dibakar oleh Natara. Natara benar-benar merasa kecewa dan juga ia merasa sudah dikhianati oleh Sandara yang sudah dirawatnya seperti anak kandungnya sendiri selama ini.


Dan keesokan harinya, Sandara yang merasa dirinya harus berpamitan dan ingin menjelaskan kepada Natara apa yang sudah terjadi padanya itu pun datang ke rumah Frans bersama dengan Berlin.


Sandara membunyikan bel rumah Frans, dan karena hari ini hari libur, Frans pun kebetulan ada di rumah dan tidak bekerja. Natara yang mendengar bunyi bel rumahnya itu pun langsung membukakan pintu rumahnya.


Dan saat Natara membuka pintu rumahnya dan melihat bahwa yang datang adalah Sandara, ia terlihat begitu marah, terlebih lagi Sandara datang dengan membawa Berlin.


“ Ibu…” Panggil Sandara lalu saat ingin memeluk Natara, Natara pun langsung mendorong tubuh Sandara, namun Berlin dengan sigap menangkap tubuh Sandara yang hampir saja terjengkal.


“ Untuk apa kalian datang kemari? Apa kau sudah puas menyakiti putraku? Pergi dari sini aku tidak ingin melihat wajahmu.!!! “ Bentak Natara lalu kemudian ia menutup pintu rumahnya.


Dan Frans yang mendengar suara Sandara dengan samar-samar itu pun beranjak dari tempat tidurnya dan kemudian kembali membuka pintu rumahnya.


“ Frans? Apa yang kau lakukan? “ Tanya Natara yang terlihat kesal karena Frans kembali membuka pintu rumahnya.


“ Frans…aku hanya ingin menemui ibu, aku hanya ingin menjelaskan…”


“ Tidak perlu, aku tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari mu. “ Ujar Natara yang memotong pembicaraan Sandara.


" Lebih baik kita pergi, kau sudah tidak di terima di rumah ini Dara. " Ujar Berlin yang sudah sangat kesal dengan perlakukan Natara kepada Sandara.



Perasaan Sandara cukup hancur mendengar perkataan Natara yang selama ini sudah dianggapnya seperti ibu nya sendiri. Sandara tidak menyangka jika Natara akan semarah itu kepadanya. Dan Frans, dia hanya berdiri mematung sambil melihat ke arah Sandara, berharap Sandara akan berbalik dan kembali kepadanya.



Tapi Sandara sama sekali tidak berbalik menoleh ke arah Frans, Bahkan Sandara pun sampai meneteskan air mata, ia tidak kuasa membendung air matanya. Perlakuan Natara benar-benar sudah melukai perasaanya. Lalu saat Sandara membalikkan badan dan ingin pergi dari rumah Frans, ia melihat ke halaman rumah Frans, dan melihat beberapa pakaiannya yang sudah setengah terbakar. Bahkan barang-barang berharga yang sudah lama ia kumpulkan pun terlihat sudah hangus terbakar.



Sandara pun semakin tidak bisa menahan tangisnya, lalu ia dengan segera berlari ke mobil Berlin sambil memegangi dadanya yang sudah terasa sesak. Sandara tidak berhenti menangis selama di dalam mobil Berlin.


Dan Berlin juga terlihat bingung menghadapi Sandara yang kini menangis tanpa henti itu. Berlin mencoba untuk menghibur Sandara dengan menghentikan mobilnya dan kemudian ia membelikan Sandara ice cream, tapi Sandara malah membuang ice cream darinya dan ia semakin menangis histeris.


Lalu Berlin membawa Sandara pergi ke taman dan mengajaknya untuk melihat beberapa bunga yang berada di taman. Namun lagi-lagi Sandara menangis dan tangisnya membuat Berlin dan Sandara menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di taman.

__ADS_1


Berlin yang sudah sangat kebingungan itupun hanya bisa berdiam dan menunggu Sandara sampai Sandara menghentikan tangisnya.


__ADS_2