
*****
Sandara hanya terdiam dan kemudian ia menatap wajah Frans yang saat ini sudah sangat dekat dengan wajah nya itu. Sandara merasa nyaman dengan perlakuan Frans yang begitu lembut kepada nya.
" Tuan Frans..." Panggil Sandara lirih, lalu kemudian Frans melihat ke arah Sandara.
" Ya..."
" Kenapa tuan begitu baik? " Tanya Sandara heran, Sandara merasa bahwa Frans bersikap terlalu baik kepadanya.
Lalu Frans tersenyum ke arah Sandara, ia masih menatap Sandara. Sandara pun semakin di buat bingung dengan apa yang Frans lakukan kepada nya.
Dan Sandara tersadar bahwa saat ini wajah nya dan wajah Frans sangat begitu dekat. Lalu Sandara menjauhkan wajah nya dari wajah Frans.
" Ah, maaf tuan...sepertinya kita berdiri terlalu dekat. " Ujar Sandara kemudian melangkahkan kaki nya mundur satu langkah dari Frans.
Dan Frans pun menegakkan tubuh nya, ia masih tersenyum sambil memperhatikan pergerakan Sandara.
" Panggil saja aku Frans..."
" Tapi...? "
" Tidak ada tapi-tapian, apa kau ingin mencari udara segar? " Tanya Frans kepada Sandara, Sandara terlihat berpikir sejenak, lalu...
" Apa yang sedang kalian lakukan? " Tanya Berlin yang tiba-tiba saja muncul di antara Frans dan juga Sandara.
Frans terlihat terkejut, begitu pula dengan Sandara...
" Ah...tuan...saya baru akan menyerahkan beberapa laporan dan juga beberapa berkas. Tapi dalam perjalanan saya bertemu dengan nona Sandara. " Jelas Frans yang kemudian menyerahkan beberapa berkas kepada Berlin.
Berlin masih menatap Frans dan juga Sandara secara bergantian. lalu kemudian Berlin meraih berkas yang sudah di serahkan oleh Frans kepadanya.
" Kalau begitu saya permisi tuan..." Pamit Frans dan kemudian ia berlalu pergi begitu saja.
Saat Sandara juga ingin pergi meninggalkan Berlin, tiba-tiba saja Berlin meraih tangan Sandara dan kemudian membawa Sandara masuk ke dalam kamarnya.
Sandara tidak memberontak dan hanya pasrah mengikuti Berlin. Setelah masuk ke dalam kamar nya, tatapan Berlin sudah berubah. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang marah dan ingin segera memberikan Sandara rasa penyesalan.
__ADS_1
" Ada apa? Kenapa kau menarik tangan ku seperti ini? " Tanya Sandara sambil memegangi tangan Berlin yang saat itu masih menggenggam pergelangan tangan Sandara.
" Apa yang kau lakukan? Kenapa Frans begitu perduli dan perhatian pada mu? " Tanya Berlin, yang kebetulan saja sempat mendengar dan menyaksikan percakapan Frans dan juga Sandara.
Sandara hanya diam, ia malas untuk memperdebatkan hal yang menurutnya tidak perlu untuk di debat kan.
" Kenapa kau tidak menjawab ku? Apa kau sudah tidur dengannya? "
Berlin bertanya seolah-olah Sandara adalah wanita yang senang menghibur laki-laki. Sandara merasa kesal dengan apa yang di lontarkan oleh Berlin, lalu ia mendorong tubuh Berlin dan langsung membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur.
Sandara menarik selimut nya, dan menutupi sebagian tubuh nya. Berlin pun hanya berdiri mematung, sambil mengamati pergerakan Sandara. Dan setelah itu Berlin keluar dari kamar nya.
*****
Satu minggu kemudian....
Nenek Maria sudah bisa beraktivitas seperti semula, Sandara juga mengurungkan niatnya untuk berpisah dengan Berlin. Dan soal Frans, Sandara dan juga Frans menjadi lebih dekat selama satu minggu ini.
Frans banyak menghibur Sandara, dan terlebih lagi...kini Frans sudah tau latar belakang Sandara, orang suruhannya bahkan memberikan informasi yang sangat detail tentang Sandara.
Hari ini kebetulan adalah hari ulang tahun Sandara. Selama ini, Sandara tidak pernah merayakan ulang tahunnya. Ia bahkan tidak ingat tanggal ulang tahunnya.
Berlin bahkan tidak tau, yang mengetahui rencana nenek Maria hanyalah, Devan, Sarah serta Frans.
" Berlin, bisakah kau menemani Dara? " Tanya nenek Maria secara tiba-tiba. Berlin tidak pernah bisa menolak apa yang di perintahkan oleh nenek nya itu.
" Menemani Sandara? Kemana nek? " Berlin kembali bertanya, karena ia juga tidak tau harus menemani Sandara kemana.
" Kau ini...apa kau lupa? Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Apa kau tidak akan membawanya keluar untuk makan malam? "
Berlin pun terdiam, ia sama sekali tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Terlebih lagi, Berlin sama sekali tidak tau kalau Sandara berulang tahun pada hari ini.
" Berlin.. " Panggil nenek Maria yang sedang memperhatikan Berlin yang tengah melamun itu.
" Ah...iya nek..."
" Cepat kau hampiri Sandara, dia pasti sangat senang jika kau mengajaknya untuk makan malam di hari spesial nya ini. " Perintah nenek Maria kepada Berlin.
Berlin pun langsung naik ke atas dan berjalan menuju kamarnya. Berlin membuka pintu kamarnya dan melihat Sandara yang saat ini sedang duduk di sebuah kursi dekat jendela kamarnya sambil membaca sebuah buku di tangannya.
__ADS_1
" Cepat berganti pakaian. " Ujar Berlin, lalu membuka lemari pakaian dan memilih beberapa gaun untuk di kenakan oleh Sandara.
Sandara merasa aneh, dan ia masih tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Berlin.
" Untuk apa? Apa ada sebuah pertemuan atau acara penting? Tidak biasanya kau memintaku untuk menggunakan gaun? " Tanya Sandara, yang masih amat sangat terheran-heran dengan Berlin yang tiba-tiba saja memintanya untuk berganti pakaian
" Sudah, tidak usah banyak pertanyaan...kau hanya perlu memakai gaun ini, dan ikut denganku. "
" Ikut dengan mu..."
" Ya...cepatlah..."
Lalu Sandara pun menggunakan gaun yang di pilihkan oleh Berlin. Setelah menggunakan gaun tersebut Sandara keluar dari kamar mandi dan memperlihatkan gaun yang di pakai nya kepada Berlin.
" Bagiamana? " Tanya Sandara yang meminta pendapat kepada Berlin.
" Ya...lumayan, tapi kau perlu berdandan, wajah mu terlihat sangat jelek, dan itu merusak gaun tersebut. "
Sandara hanya menghela nafas panjang, ia mencoba untuk menahan dirinya agar ia tidak terpancing emosi karena mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Berlin.
" Cepatlah, aku tunggu di luar. "
Dan kemudian Berlin meninggalkan Sandara, dan keluar dari kamar nya. Sandara segera bergegas dan menggunakan riasan tipis-tipis di wajah nya.
Setelah selesai, Sandara segera menghampiri Berlin, saat ia turun dari tangga. Semua mata tertuju kepada nya, bahkan para pelayan tidak mengira jika yang di lihatnya itu adalah Sandara.
Sandara terlihat sangat berbeda, ia jauh lebih cantik di bandingkan hari-hari sebelum nya. Berlin pun sampai terpana dengan kecantikan Sandara.
" Kenapa kalian menatapku seperti itu? " Tanya Sandara yang sedang kebingungan dengan ekspresi orang-orang yang ada di sekeliling nya itu.
" Kau sangat berbeda, kenapa kau bisa secantik ini? " Jawab Devan yang juga masih memandangi Sandara dengan mata yang sudah berbinar-binar.
Sandara pun tersipu malu mendengar pujian dari Devan.
" Cantik? Kalian terlalu memuji nya...ayo cepat, nanti kita bisa kemalaman jika kau terus berdiri di situ. " Ujar Berlin, lalu menarik tangan Sandara.
__ADS_1