Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#61


__ADS_3

...****************...


Jam pun berlalu dengan sangat cepat, Kaira juga sudah mulai bisa menyesuaikan dirinya, ia juga cukup cepat dalam mempelajari pekerjaan yang diberikan Berlin kepada nya.


Pukul 12.00…


“ Sudah jam makan siang, apa kau ingin memesan makanan atau kau ingin makan siang di luar? “ Tanya Berlin yang sebenarnya ia ingin makan siang bersama dengan Kaira.


“ Hmmmppp, tapi saya belum begitu hafal daerah sekitar kantor tuan, apa sebaiknya saya memesan makan saja? Tuan ingin makan di luar atau mau sekalian saya pesankan makanan.? “ Jawab Kaira lalu kemudian kembali bertanya kepada Berlin.


“ Pesankan aku makan siang juga, menu yang sama dengan yang kau pesan. “ Jawab Berlin lalu mengalihkan pandangannya.


Berlin terlihat gugup berhadapan dengan Kaira, namun Berlin juga melihat sedikit perbedaan pada diri Kaira. Baginya Sandara adalah wanita pemberani yang akan melontarkan kalimat-kalimat yang selalu tidak terduga kepada nya. Sedangkan Kaira, Kaira adalah sosok wanita yang ceria dan terlihat sangat antusias dalam pandangan Berlin saat ini.


“ Ternyata dia berbeda, Sandara bukanlah wanita yang lembut dan ceria seperti Kaira. “ Gumam Berlin lalu kemudian Kaira yang samar-samar mendengar gumaman Berlin pun langsung menoleh ke arah Berlin.


“ Ada apa tuan? “ Tanya Kaira yang kurang mendengar dengan jelas apa yang baru saja di katakan oleh Berlin.


“ Tidak, aku hanya sedang berbicara pada diriku sendiri, kau lanjutkan saja memesan makanan. “ Jawab Berlin yang sedikit terkejut dan khawatir jika Kaira mendengar gumaman nya itu.


Lalu Kaira pun lanjut memesan makanan. Dan tidak lama kemudian makanan yang di pesan oleh Kaira pun datang. Kaira berjalan ke lobi dan mengambil makanan pesanannya, lalu ia kembali keruangan Berlin dengan membawa dua kantong besar yang berisikan makanan.


Berlin terlihat terkejut melihat kantong makanan yang dibawa Kaira, karena kantong makanan itu terlihat begitu besar untuk Berlin.


“ Apa yang kau beli? “ Tanya Berlin sambil menatap kedua kantong yang ada di kedua tangan kaira.


“ Dua paket ayam goreng dan nasi, dua spaghetti, dua hotdog, dua cone ice cream, dua puding dan dua minuman dingin. “ Jawab Kaira sambil menyebutkan apa yang dipesannya.


“ Apa kau akan menghabiskan semua itu? “ Tanya Berlin lagi dengan heran.


“ Tentu tidak, saya memesan dua porsi, karena tadi tuan Berlin bilang kalau tuan memesan apa yang saya pesan. “ Jawab Kaira lalu meletakkan salah satu kantong tersebut di atas meja kerja Berlin.


Berlin pun hanya menatap Kaira dengan tatapan bingung dan juga heran. Ia masih tidak menyangka Kaira bisa memesan makanan sebanyak itu.


“ Apa selera makan mu selalu seperti ini? “


“ Tidak juga tuan, saya hanya terlalu lapar hari ini. “

__ADS_1


“ Apa kau bisa menghabiskan makananmu? “


“ Ya…tentu saja tuan…” Jawab Kaira lalu membuka satu persatu makanan yang sudah di pesannya itu.


Lalu kemudian Berlin membawa kantong makanan tersebut dan meletakkannya di meja yang berada di depan sofa ruangan kerjanya. Berlin hanya memakan paket ayam dan kemudian meminum minuman dinginnya, sedangkan sisanya ia letakkan di atas meja dan membiarkannya begitu saja.


Lalu Kaira yang melihat Berlin tidak menghabiskan makanannya itu pun langsung beranjak dari duduk nya dan melihat makanan yang tersisa di atas meja tersebut.


“ Kenapa tuan tidak menghabiskannya? “ Tanya Kaira, lalu Berlin mendongakkan kepalanya ke arah Kaira yang saat ini berdiri tepat di hadapannya.


“ Apa kau sudah menghabiskan makananmu? “ Tanya Berlin lalu melirik meja kerja Kaira yang sudah bersih dan tidak menyisakan makanan di atas meja nya.


“ Sudah tuan, tapi kenapa tuan tidak menghabiskan makanan tuan, apakah tuan tidak menyukainya? “ Tanya Kaira menyelidik.


“ Aku sudah sangat kenyang, apa kau ingin memakan sisanya? “ Jawab Berlin kemudian Berlin menawarkan sisa makanannya kepada Kaira.


Kaira pun mengangguk sambil tersenyum ke arah Berlin, lalu Berlin membelalakkan kedua mata nya, sebenarnya ia tidak bersungguh-sungguh menawarkan sisa makanannya. namun reaksi yang didapat nya itu membuat Berlin merasa heran.


“ Apa kau serius? Tubuhmu kecil, tapi selera makan mu benar-benar mengagumkan. “


Kaira hanya tertawa kecil lalu meraih sisa makanan Berlin dan membawanya ke meja kerja nya. Dan Berlin pun tersenyum simpul melihat tingkah Kaira yang cukup menggemaskan bagi nya.


Dan setelah Kaira selesai dengan makanannya, Kaira pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Sudah hampir satu jam dari setelah Kaira makan siang, dan karena perutnya yang sudah kenyang, Kaira pun mulai merasakan kantuk.


Kaira mencoba untuk menahan kantuk nya, tetapi matanya terasa lengket dan sulit untuk dibuka. Dan kemudian tanpa sadar Kaira memejamkan mata nya hingga kepala nya hampir terbentur meja kerja nya, namun dengan sigap Berlin yang memperhatikan Kaira dari tadi itu pun dengan sigap menangkap kepala Kaira dengan tangannya.


“ Hampir saja…” Gumam Berlin yang kini memegangi kepala Kaira yang sudah tertidur.


Lalu Berlin meletakkan kepala Kaira perlahan ke atas meja kerja Kaira. Dan Berlin kembali duduk di tempat duduk nya, ia hanya menggelengkan kepalanya sambil kembali mengingat Kaira yang hampir membenturkan kepala nya ke meja kerjanya itu.



Dua jam telah berlalu dan Kaira masih juga tidur, Berlin hanya menatap Kaira selama dua jam penuh. Dan kemudian Kaira membuka kedua mata nya perlahan, ia mengerjap-ngerjapkan mata nya dan kemudian melihat ke arah Berlin yang tanpa sadar Berlin masih menatap Kaira.



Kaira pun langsung membuka kedua mata nya lebar-lebar. Ia merasa malu karena Berlin masih menatap dirinya. Berlin yang masih saja menatap Kaira itu pun hanya tersenyum kecil lalu ia memalingkan pandangannya. Berlin tahu kalau Kaira pasti sangat malu karena ia tertidur di saat jam kerja.

__ADS_1


“ Maaf tuan…” Ucap Kaira sambil merapikan rambutnya yang terlihat berantakan.


Berlin hanya melirik Kaira sejenak lalu ia kembali menatap layar komputernya. Berlin sebenarnya sedang menahan tawa karena tingkah lucu Kaira. Lalu Kaira dengan kesalah tingkahannya pun mencoba untuk tetap tenang.


“ Kenapa aku bisa tertidur…memalukan sekali…” Gumam Kaira sambil kembali mengerjakan pekerjaan yang tadi sempat terbengkalai karena ia tertidur.


*******


Hari sudah semakin sore, dan jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kaira pun sudah mulai berkemas dan merapikan meja kerjanya. Dan Devan pun tiba-tiba masuk kedalam ruangan Berlin.


“ Kaira…sudah mau pulang? “ Tanya Devan sambil berjalan ke arah Kaira.


“ Iya tuan…” Jawab Kaira singkat.


“ Kalau begitu biar Berlin mengantarmu…” Usul Devan yang memang ingin mendekatkan Kaira dengan Berlin.


“ Aah…tidak terimakasih tuan, saya sudah di jemput. “ Tolak Kaira yang memang Frans sudah menunggu di depan kantor perusahaan nya.


“ Dijemput? Siapa yang menjemputmu? "Tanya Devan yang penasaran dengan sosok yang menjemput Kaira.


“ Kekasih saya tuan, kalau begitu saya permisi.. “Pamit Kaira lalu berjalan keluar dari ruangan Berlin.



Devan pun melihat ke arah Berlin sambil menaikkan satu alis nya. Ia sedikit merasa kecewa karena Kaira sudah memiliki kekasih.


“ Ada apa denganmu? “ Tanya Berlin yang tidak mengerti dengan sikap Devan.


“ Apa kau tidak merasa Kaira sangat mirip dengan Dara? Bahkan suara mereka pun sama. “ Seru Devan yang benar-benar memandang Kaira sama dengan Sandara.


Berlin terdiam sejenak lalu memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh Devan. Memang wajah dan suara yang dimiliki Kaira sangat mirip dengan Sandara. Namun kepribadiannya sangat bertolak belakang.


“ Apa masuk akal jika ada orang yang benar-benar mirip dengan Sandara? Apa aku harus menyelidiki latar belakang Kaira? Kebetulan dia belum memberiku resume data pribadinya. Kaira juga belum menyerahkan berkas-berkas persyaratan untuk melamar pekerjaan. “ Ujar Devan yang sangat antusias untuk menyelidiki latar belakang Kaira.


“ Apa itu perlu? Tapi kalau dipikir-pikir apa yang kau katakan ada benarnya juga. Tidak mungkin ada orang yang benar-benar mirip kecuali mereka kembar. Dan setauku Sandara tidak memiliki saudara kembar. “ Ujar Berlin yang juga mempertimbangkan apa yang dikatakan Devan kepada nya.


“ Baiklah, aku sudah menyimpulkan, dan menurutku memang lebih baik kita harus menyelidiki latar belakang Kaira. Aku akan urus semua nya, kau hanya perlu duduk manis dan tunggu saja hasil nya. “

__ADS_1


“ Baiklah, tapi ada yang ingin aku tanyakan pada mu Devan, ini mengenai pertemuan mu dan Kaira? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya dan menjadikan Kaira sekretaris ku? Aku masih sangat penasaran soal itu. " Tanya Berlin yang sudah ingin menanyakan soal hal tersebut sejak saat Devan membawa kaira.


Dan Devan pun menceritakan soal pertemuan pertamanya dengan Kaira saat di mall sampai ia meminta Ariana untuk mencari keberadaan Kaira dan membujuk kaira supaya Kaira mau bekerja di perusahaannya.


__ADS_2