Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#65


__ADS_3

...****************...


Frans memang sedikit terkejut ketika Kaira menyebutkan nama Devan dan bukan nama Berlin. Frans sangat berharap jika Kaira belum bertemu dengan Berlin sampai saat ini.


“ Ah begitu rupanya…Kaira, sudah malam…aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat, kau kembalilah ke kamarmu. Dan istirahatlah, besok kau juga harus bangun pagi-pagi.” Ujar Frans kemudian menghentikan percakapannya.


Kaira pun langsung beranjak dari duduknya tanpa sepatah kata pun, ia meninggalkan kamar Frans dengan perasaan yang sudah cukup kesal karena Frans tidak memberitahukan kepadanya soal kebenarannya.


Keesokan harinya…


Kaira sudah berada di ruangan Berlin, dan saat ia sedang mengerjakan beberapa file, tiba-tiba saja Devan masuk ke dalam ruangan Berlin, Devan meminta Berlin untuk ikut dengannya, sedangkan Kaira, pandangan matanya hanya tertuju kepada Devan.


Kaira mengamati gerak gerik Devan dan juga gestur tubuh Devan. Ia masih belum percaya jika Devan adalah suaminya, namun setelah Kaira mengingat-ngingat beberapa kali Devan sempat memberitahunya bahwa wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang dikenalnya. Bahkan di saat pertemuan pertama mereka Devan memberitahukan foto Sandara kepada Kaira. Dari situ Kaira mulai yakin jika Devan masih berusaha mencarinya sampai detik ini.


“ Maaf tuan Devan…” Sapa Kaira yang menghentikan langkah kaki Devan dan juga Berlin yang saat ini sedang ingin keluar dari ruangan Berlin.


“ Ya…ada apa Kaira? “ Tanya Devan dengan senyuman yang selalu mengembang di wajahnya.


“ Jika anda punya sedikit waktu luang, saya ingin mentraktir tuan Devan minum kopi. “ Jawab Kaira yang juga membalas senyuman dari Devan.


Berlin yang saat ini berada di tengah percakapan Kaira dan juga Devan pun menjadi kesal karena Kaira secara terang-terangan di hadapannya mengajak Devan untuk minum kopi bersama dengannya.


“ Apa kau hanya ingin minum kopi bersama dengan Devan? Bagaimana dengan ku? Apa itu tidak berlaku? Aku adalah bos mu, tetapi yang kau tawarkan hanya Devan. “ Protes Berlin yang merasa sedikit cemburu dan kesal karena Kaira lebih memperhatikan Devan dibanding dirinya.


“ Kenapa tuan Berlin sangat tidak peka? Seharusnya dia tau kalau wajahku mirip dengan istri tuan Devan. Seharusnya tuan Berlin juga membiarkan ku bersama dengan tuan Devan. Aku hanya ingin mengenal lebih dekat secara langsung bagaimana karakter suamiku, hanya itu saja. “ Batin Kaira.


“ Kenapa kau hanya diam saja? “ Tanya Berlin lagi yang kemudian Kaira pun tersadar dari lamunannya.


“ Maaf tuan Berlin, saya pikir tuan Berlin tidak menyukai hal-hal seperti itu, karena selama saya bekerja di sini, tuan Berlin tidak pernah mendatangi tempat-tempat seperti itu, dan tuan juga selalu menghabiskan waktu tuan di kantor. “ Jawab Kaira yang menjelaskan secara terperinci kegiatan Berlin selama ini.


Devan hanya tertawa kecil melihat Berlin dan juga Kaira yang kini tengah memperdebatkan dirinya dan juga kopi.


“ Kalau begitu kalian berdua sepertinya harus minum kopi bersama-sama. “ Celetuk Devan yang berpikir jika Berlin harus sering-sering melakukan hal-hal kecil secara intens dengan Kaira.


Devan memang belum memberitahu Berlin mengenai Kaira, dan rencananya hari ini Devan ingin memberitahukannya kepada Berlin. Tapi, karena Kaira tiba-tiba saja berkata seperti itu, jadi Devan pun secara tiba-tiba mengusulkan Berlin dan juga Kaira untuk minum kopi berdua.


“ Tapi tuan, saya hanya ingin minum kopi bersama dengan tuan Devan. Maaf tuan Berlin…” Ujar kaira, lalu kemudian Berlin yang mendengarnya pun terlihat semakin kesal, lalu kemudian Berlin berjalan begitu saja meninggalkan Devan dan juga Kaira.

__ADS_1


Devan hanya menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah Berlin yang saat ini sudah keluar dari ruangannya. Lalu kemudian Devan kembali melihat ke arah Kaira dan kembali tersenyum kepada Kaira.


“ Kaira, maafkan aku…tapi aku tidak bisa untuk beberapa waktu ini, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kalau begitu aku pergi dulu, sampai nanti. “ Ujar Devan lalu berjalan pergi meninggalkan Kaira sendirian di dalam ruangan Berlin.


“ Apa aku baru saja ditolak oleh suamiku? Apa dia tidak mencintaiku selama ini? Kenapa dia hanya tersenyum dan berkata lembut? Kenapa perhatiannya tidak menunjukan jika dia merindukan istrinya.? “ Gumam Kaira yang dibuat bingung dengan sikap Devan.


Dan Kaira pun melanjutkan pekerjaannya kembali, sedangkan Devan, ia mengajak Berlin untuk berbincang di ruangannya sebentar untuk menjelaskan tentang Kaira yang ternyata adalah Sandara.


“ Ada apa kau memintaku kemari? “ Tanya Berlin dengan raut wajah yang masih terlihat kesal.


Berlin masih saja mengingat apa yang tadi di katakan Kaira kepada nya dan juga Devan. Berlin berpikir bahwa mungkin saja saat ini Kaira mulai menyukai Devan.


“ Ada apa dengan wajahmu? Apa kau cemburu? “ Tanya Devan sambil tersenyum jahil ke arah Berlin.


“ Sedikit, sepertinya Kaira menyukaimu. “


“ Tidak mungkin, dia hanya ingin berterima kasih saja kepada ku. “


“ Aah begitu…apa yang ingin kau bicarakan kepada ku? “ Tanya Berlin lagi kemudian Devan pun duduk di samping Berlin dan kemudian mulai memasang wajah serius.


Devan menarik nafas panjang dan kemudian ia kembali menatap Berlin.


“ Apa? Jangan bertele-tele, cepat katakan. “ Ujar Berlin yang sudah sangat tidak sabar ingin mendengar apa yang ingin disampaikan oleh Devan kepadanya.


“ Ini soal Kaira…”


“ Ada apa dengan Kaira? Bukankah kita memang sedang membahasnya barusan. “


“ Dia adalah Sandara. “


Berlin terdiam sejenak, ia masih belum mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Devan kepada nya. Dan kemudian ia kembali melihat ke arah Devan dan memberikan Devan tatapan heran, Berlin mengerutkan dahi nya dan meminta Devan untuk mengulangi apa yang baru saja dikatakannya.


“ Coba kau ulangi apa yang barusan kau katakan. “


“ Kaira adala Sandara…”


“ Kau yakin? “

__ADS_1


“ Sangat yakin, Ariana sudah menyelidiki semua tentang Kaira, bahkan ia menemukan banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Kaira adalah Sandara. Dan kemarin saat aku mendatangi rumahnya, aku sangat terkejut…selama ini yang membawa dan menyembunyikan Sandara dari mu adalah orang yang kita kenal. “ Jelas Devan lalu menggantung kata-katanya sehingga Berlin semakin penasaran.


“ Siapa maksudmu? “


“ Kau harus bertanya kepada Kaira siapa nama kekasihnya, dan ketika dia menyebutkan nama kekasihnya itu, aku sangat yakin kau akan sangat terkejut. “ Jawab Devan yang tidak memberitahukan tentang Frans, dan Devan sengaja ingin supaya Berlin bertanya langsung kepada Kaira.


“ Kenapa kau harus mempersulitnya, kau hanya harus mengatakan siapa kekasih Kaira, itu saja, dan untuk apa aku bertanya kepada Kaira sementara kau tahu siapa kekasihnya. “ Ujar Berlin yang merasa bahwa Devan hanya mempersulitnya saja.


“ Kau harus mengetahuinya sendiri Berlin. Sekarang kembalilah keruanganmu dan tanyakan kepada Kaira siapa kekasihnya itu. “ Pinta Devan, lalu kemudian Berlin tanpa berkata-kata lagi langsung beranjak dari duduknya dan kemudian berjalan menuju ruangannya.


Dan saat Berlin masuk ke dalam ruangannya, Berlin sedikit bingung, ia tidak tahu harus memulai percakapan nya bagaimana. Suasananya pun menjadi sangat canggung, namun Berlin cukup penasaran dengan kekasih Kaira itu.


Lalu, setelah cukup lama Berlin mempertimbangkannya, dan kini ia sudah amat sangat penasaran, akhirnya Berlin memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Kaira mengenai kekasihnya.


“ Kaira…” Panggil Berlin, lalu kemudian Kaira menghampiri meja Berlin.


Dan setiap Kaira menghampiri meja Berlin, Berlin selalu menutup bingkai foto pernikahannya, ia masih merasa tidak nyaman jika ada orang lain selain dirinya yang menatap bingkai foto pernikahannya itu.


“ Ada apa tuan? “


“ Apa aku boleh bertanya mengenai hal pribadi kepada mu? “ Tanya Berlin dengan cukup hati-hati.


“ Apa tuan Devan tadi meminta tuan Berlin ikut dengannya untuk meminta tolong tuan Berlin agar tuan Berlin mau menanyakan tentang kehidupan pribadiku? Ahh mungkin saja iya…baiklah aku akan menjawabnya dengan sangat jujur. “ Batin Kaira.



“ Tentu saja tuan, apa yang ingin tuan ketahui tentang saya? “ Jawab Kaira lalu kemudian Kaira kembali bertanya kepada Berlin.


“ Apa aku boleh tau siapa nama kekasihmu? “


“ Aaahhh…nama kekasih saya adalah Fransisco Lim. “ Jawab Kaira dan kemudian Berlin cukup terkejut mendengar nama Frans.



“ Bagaimana kalian bisa berpacaran? “ Tanya Berlin lagi yang kini sudah amat sangat penasaran bagaimana Kaira bisa menjalin hubungan dengan Frans, sedangkan Frans tahu bahwa Kaira adalah Sandara dan Kaira masih menjadi istri sah Berlin.


“ Maaf tuan, sebenarnya saya sudah lama kehilangan ingatan saya, dan saya juga tidak tahu bagaimana saya bisa berpacaran dengan kekasih saya. Frans bilang bahwa saya dan dirinya sudah berpacaran jauh sebelum saya kehilangan ingatan saya, tapi saya masih belum mengingatnya sampai sekarang. Saya sempat mengalami kecelakaan dan akibat kecelakaan itu saya menjadi kehilangan ingatan saya dan saya juga sempat lumpuh dan tidak bisa berjalan. “ Jelas Kaira yang kini sudah tidak lagi menutup-nutupi tentang hal-hal pribadinya.

__ADS_1


Kaira juga menatap Berlin dengan tatapan menyelidik, ia mengamati raut wajah Berlin dan respon yang diberikan oleh Berlin ketika ia menceritakan segalanya kepada Berlin.


__ADS_2