
*****
Sandara masih menangisi kepergian nenek Maria, ia bahkan sampai tidak memperdulikan jahitan yang ada di leher nya. Darah segar pun kembali mengalir di lehernya. Frans yang melihat nya pun langsung menghampiri Sandara dan membujuk Sandara untuk kembali ke ranjang pasiennya.
" Nona, leher nona mengeluarkan darah lagi, tolong nona kembali ke ranjang. " Ujar Frans lalu memegangi bahu Sandara.
Sandara masih menangis sambil memeluk tubuh nenek Maria. Ia tidak ingin melepaskan pelukannya itu, Frans masih terus berusaha membujuk Sandara. Hingga Sandara yang sudah kelelahan karena menangis histeris serta menahan rasa sakit akibat luka yang sudah di jahit terbuka kembali itu pun pingsan.
" Nona..."
Frans dengan segera mengangkat tubuh Sandara, dan membaringkan Sandara di ranjang pasiennya.
*****
Di tempat lain...
Berlin sudah sampai di kediaman Saw, Berlin sudah tidak bisa mengontrol emosi nya lagi. Amarah nya bahkan sudah meledak-ledak sampai-sampai ia mendobrak pintu rumah Remon.
" AYAH!!! DIMANA KAU?? " Teriak Berlin, dan kemudian Remon keluar dari balik pintu kamarnya.
" Ada apa kau ribut-ribut? "
Saat Berlin melihat wajah Remon, Berlin dengan segera berjalan ke arah Remon dan...
Bughhh!!!!
Satu pukulan mendarat di pipi Remon, Remon terlihat terkejut, ia jatuh tersungkur di lantai sambil memegangi bibir bawahnya yang sudah mengeluarkan darah akibat pukulan keras dari Berlin.
" Apa yang sedang kau lakukan? " Tanya Remon yang sudah mulai emosi karena terkena pukulan dari putranya.
Saat Berlin ingin melayangkan tinju nya kembali kepada Remon, tiba-tiba saja ponsel nya berdering. Berlin pun meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Dan ternyata Devan yang menghubungi nya.
" Halo? Ada apa Devan? "
" Berlin, cepatlah ke rumah sakit...nenek..."
" Ada apa dengan nenek? "
" Nenek sudah tidak ada Berlin. "
" Kau jangan bercanda Devan, katakan dengan jelas. "
__ADS_1
" Nenek meninggal Berlin. "
" Nenek meninggal? Bagaimana mungkin? Nenek tadi terlihat baik-baik saja. Bagaimana bisa nenek meninggal, kau jangan mengada-ada Devan. "
" Cepat datanglah kemari dan kau bisa melihat sendiri Berlin. "
Kemudian Berlin mematikan ponsel nya, lututnya terasa lemas, lalu ia jatuh terduduk sambil meremas ponsel nya. Remon juga terlihat terkejut mendengar percakapan Berlin dan juga Devan lewat telepon tersebut.
" Ada apa Berlin? Ada apa dengan ibu? " Tanya Remon yang sudah mulai merasa penasaran dan mengkhawatirkan kondisi ibu nya.
Berlin tidak menjawab pertanyaan Remon, ia langsung berdiri dan meninggalkan Remon. Berlin segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Berlin sudah tidak bisa lagi menahan tangisannya. Ia berjalan menghampiri sebuah ranjang dengan pasien yang sudah di tutup tubuh dan wajah nya dengan kain putih.
Dan kemudian Berlin membuka kain putih tersebut, hati nya benar-benar hancur melihat orang yang sangat di sayangi nya sudah terbaring tak bernyawa.
" Nenek...!!! " Tangis Berlin pun pecah, Devan dan Sarah mendekati Berlin dan menepuk-nepuk bahu Berlin.
" Ada apa Devan? Kenapa nenek bisa menjadi seperti ini? " Tanya Berlin masih dengan isak tangisnya.
Devan dan Sarah hanya diam seribu bahasa, jika Berlin mengetahui penyebab kematian nenek nya, ia pasti akan sangat membenci Sandara. Dan Berlin pasti akan meninggalkan dan mengusir Sandara saat ini juga. Sarah tidak ingin itu terjadi, jadi ia meminta Devan untuk merahasiakan kejadian yang sebenarnya dari Berlin.
Dan kemudian, dokter yang menangani nenek Maria menghampiri Berlin dan memberikan penjelasan kepada Berlin.
" Maaf tuan, nenek anda mengalami tekanan darah tinggi dan serangan jantung, pihak rumah sakit sudah mencoba melakukan yang terbaik, namun tuhan berkehendak lain, dan kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. "
Setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut, Berlin tertunduk masih dengan isak tangis nya. Perasaannya benar-benar kalut, ia belum bisa merelakan kepergian nenek Maria secepat ini.
Setelah itu, Berlin berjalan menuju ranjang Sandara yang berada tidak jauh dari ranjang nenek Maria. Berlin melihat ada beberapa perawat yang sedang kembali menjahit luka Sandara dan menutupnya kembali dengan perban.
" Frans..." Panggil Berlin pada Frans, dan Frans pun menoleh ke arah Berlin.
" Tuan..."
" Bagaimana kondisi Sandara? Kenapa para perawat itu menjahit kembali jahitan di leher Sandara? "
" Nona Sandara sangat histeris tuan, ia terus menangis karena kepergian nyonya Maria. "
" Aku sudah menduga nya, nenek sangat menyayangi Sandara, dan begitu pula sebalik nya, jadi aku tidak heran jika Sandara juga sulit untuk menerima kenyataan ini. "
__ADS_1
Frans sedikit terkejut dengan ucapan Berlin, lalu ia melihat ke arah Devan, dan Devan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat kepada Frans untuk tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Berlin.
Frans hanya mengangguk pelan, lalu kembali fokus pada Berlin yang kini tengah mengamati wajah Sandara yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
" Frans...aku harus mengurus pemakaman nenek, sebaiknya Sandara tetap beristirahat di rumah saja.Tolong kau urus Sandara, jangan sampai dia datang ke pemakaman. "
" Baik tuan..."
Dan Berlin pun segera mengurus pemakaman nenek Maria tanpa Sandara.
Lalu, setelah sekitar dua puluh lima menit, Sandara pun tersadar, ia melihat sekelilingnya dan terus mencari sosok nenek Maria.
" Frans? Apa aku bermimpi? Dimana nenek? Ah...nenek pasti sedang menunggu ku di rumah. Ayo Frans, aku harus segera pulang...aku tidak ingin nenek mengkhawatirkan ku. " Ujar Sandara lalu beranjak dari ranjang pasien dan berjalan meninggalkan ruang IGD.
Frans hanya diam saja dan menuruti kata-kata Sandara. Di dalam mobil, Sandara terus menerus mengigiti kuku jari telunjuk nya, sebenarnya Frans cukup khawatir, dan dengan riwayat masa lalu Sandara yang pernah masuk rumah sakit jiwa, Frans jadi semakin mengkhawatirkan mental Sandara.
Setelah sampai rumah, Sandara membuka pintu rumah nya dan langsung mencari keberadaan nenek Maria. Namun ia tidak dapat menemukan nenek Maria.
" Frans? Dimana nenek? Kenapa aku tidak bisa menemukannya? "
" Nona...nyonya Maria sudah tiada, tuan Berlin juga sedang mengadakan upacara pemakaman untuk nyonya Maria. "
Sandara terdiam, kemudian ia kembali mengingat kejadian yang terjadi di rumah sakit. Sandara mulai *******-***** rambut nya dan memukul-mukul dada nya.
" Semua karena diri ku...aku penyebab kematian nenek. " Ujar Sandara lalu mulai kembali menangis.
" Nona, jangan berbicara seperti itu, nyonya Maria meninggal karena tekanan darah tinggi dan serangan jantung. Dan itu semua bukan karena nona, nyonya meninggal di rumah ini. " Frans pun terpaksa mengarang cerita, dan mencoba membuat Sandara meragukan ingatannya.
Karena mental Sandara yang sedang tidak stabil, Sandara pun dengan mudahnya terpengaruh dengan cerita Frans dan percaya apabila nenek Maria meninggal di rumah, dan bukan di rumah sakit.
" Ternyata aku bermimpi buruk saat di rumah sakit, tapi mimpi buruk ku terasa nyata...dan nenek benar-benar sudah pergi meninggalkan ku. Frans...aku ingin hadir di pemakaman nenek. "
Frans terlihat lega karena Sandara percaya dengan cerita yang di karangnya. Namun, Frans juga cukup bingung jika Sandara bersikeras ingin hadir di pemakaman nenek Maria.
Terimakasih untuk pembaca setia ku...
Tinggalkan jejak ya, like, comment dan vote...
Jangan lupa klik tombol Favorit ☺️❤️
__ADS_1
Sayang kalian banyak-banyak ❤️❤️❤️😘