Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#46


__ADS_3

*****


Sandara dan Frans pun melanjutkan sarapan, sedangkan Devan...ia masih duduk di samping Sandara sambil mengutak-atik ponsel nya.


" Kau sedang free hari ini? " Tanya Sandara sambil melirik Devan yang masih mengutak-atik ponselnya itu.


" Tidak...setengah jam lagi aku ada pemotretan, dan aku akan pergi lima menit lagi. " Ujar Devan lalu melihat ke arah Frans.


" Kau tidak sarapan? "


" Sudah, tadi ibu membuatkan ku nasi goreng..." Jawab Devan dengan santainya.


Lalu kemudian Sandara meletakkan sendok nya dan berhenti makan. Sandara teringat kenangan di masa-masa saat keluarganya belum hancur berantakan.


Dulu hampir setiap hari Sarah membuatkan nasi goreng untuknya dan juga ayah nya. Dan kenangan itu terasa begitu manis, tapi sekarang...bahkan Sandara sudah tidak ingat lagi bagaimana rasa nasi goreng buatan ibu nya itu.


" Apakah nasi gorengnya lezat? " Tanya Sandara lagi sambil menyandarkan bahu nya.


" Hmmm...sangat lezat...tangan ibu ku selalu ajaib, apapun yang di masaknya pasti terasa lezat. " Jawab Devan yang belum menyadari kalau Sandara terlihat merindukan masakan ibu nya itu.


" Ahh...begitu..." Ujar Sandara lalu ia meminum air putih yang ada di hadapannya.


" Nona? Ada apa? Kenapa nona tidak menghabiskan makanan nona? " Tanya Frans yang tidak tau jika selera makan Sandara jadi hilang karena perkataan Devan.


Lalu kemudian Devan menoleh ke arah Sandara dan memperhatikan raut wajah Sandara. Dan disitulah Devan menyadari bahwa perkataannya sudah membuat Sandara sedih.


" Dara...maafkan aku...aku tidak bermaksud..."


" Tidak...tidak apa-apa Devan, aku hanya sedikit sensitif saja hari ini. " Ujar Sandara lalu kembali meminum minumannya.


Devan pun merasa sangat bersalah kepada Sandara. Tapi Devan juga bingung harus berbuat apa, sedangkan di hadapannya ada Frans yang kini sedang memperhatikan mereka.


" Kenapa aku harus melupakan kenyataan bahwa Dara adalah putri kandung ibu. Aku sangat bodoh!! Pasti saat ini Dara merasa sedih karena ucapan ku...sial...aku sangat bodoh berbicara seperti itu di depan Dara. " Batin Devan.


" Frans...aku ingin kembali ke kamar ku, tolong antar aku. " Pinta Sandara kepada Frans, dan kemudian Devan meminta Frans untuk memberinya waktu untuk berbicara berdua dengan Sandara.

__ADS_1


" Sebentar Dara...Frans tolong tinggalkan kami sebentar, ada yang ingin aku bicarakan dengan Dara. " Ujar Devan yang meminta Frans untuk meninggalkannya sebentar saja.


" Tapi tuan..."


" Baiklah, hanya lima menit...Frans...tolong tinggalkan kami. " Ujar Sandara yang setuju berbicara dengan Devan.


Dan Frans pun pergi meninggalkan Sandara dan juga Devan di ruang makan.


" Apa yang ingin kau bicarakan? "


" Dara...aku benar-benar minta maaf...seharusnya aku tidak mengatakannya kepada mu...aku benar-benar bodoh karena sudah melupakan kalau kau adalah putri ibu. " Ujar Devan yang meminta maaf kepada Sandara.


" Tidak apa-apa...ini bukan salah mu, lagi pula apa yang kau katakan memang benar. Aku baik-baik saja...tidak perlu berlebihan seperti itu. " Jawab Sandara berbohong, ia mengatakan dirinya baik-baik saja. Padahal di dalam hatinya yang sebenarnya adalah...Sandara sangat merindukan masakan buatan ibu nya itu.


" Kau benar-benar baik-baik saja? " Tanya Devan kembali untuk memastikan kalau Sandara memang baik-baik saja.



Sandara pun mengangguk sambil tersenyum samar ke arah Devan. Lalu kemudian Frans datang dan membawa Sandara naik ke atas kamar nya.


Devan pun dengan lesu meninggalkan kediaman Berlin dan melakukan pekerjaannya hari ini.


Sandara yang melihat Frans kembali menghampiri nya itu pun terlihat cukup bingung dan memandang Frans dengan tatapan herannya.


" Ada apa? " Tanya Sandara yang masih bingung dengan Frans.


" Dara...apa kau hanya menganggap ku sebagai teman? " Tanya Frans dengan begitu tiba-tiba.


" Apa maksudmu? Aku memang hanya menganggap mu teman. Memang kau menginginkan apa? " Jawab Sandara, lalu kemudian ia kembali bertanya kepada Frans dengan wajah yang sudah sangat terheran-heran.


" Tapi aku ingin lebih..."


Ucapan Frans sangat mengejutkan Sandara, selama ini Frans memang sangat baik kepada nya. Bahkan Frans selalu ada di saat-saat Sandara benar-benar membutuhkan bantuan.


" Apa yang kau bicarakan Frans? Jangan melewati batas, aku tidak ingin kehilangan satu-satunya teman ku. Jadi aku mohon, bersikaplah seperti biasa. Dan jangan menganggap ku lebih dari teman. " Ujar Sandara sambil menundukkan wajah nya.

__ADS_1


Sandara terlihat sedikit kecewa dengan Frans yang tiba-tiba saja meminta hubungan yang lebih dari Sandara.


" Aku ingin melihat mu bahagia, aku tidak bisa terus menerus melihat mu menderita di samping Berlin. " Ujar Frans yang memang sangat tidak bisa melihat Sandara sedih atau pun menderita di kediaman Berlin.


" Terimakasih Frans karena kau sangat perduli dengan ku, tetapi...untuk apa yang terjadi pada ku saat ini dan seterusnya, aku lah yang bertanggung jawab atas diriku sendiri. Karena aku juga yang memilih dan memutuskan untuk hidup bersama dengan Berlin. "


" Apa kau bahagia? "


Pertanyaan yang di lontarkan oleh Frans benar-benar sangat menyayat hati Sandara. Sampai detik ini Sandara sama sekali tidak tau bagaimana rasanya menjadi bahagia. Yang ia tau hanyalah kesedihan dan kemalangan di dalam hidup nya.


" Kenapa kau diam saja? " Tanya Frans yang masih menunggu jawaban dari Sandara.


" Apa yang harus aku katakan? Aku bahkan tidak tau bahagia itu seperti apa. Lalu apa yang kau inginkan dari wanita seperti ku Frans? " Jawab Sandara dan kemudian Sandara juga melontarkan pertanyaan yang cukup membuat Frans sulit untuk menjawab nya.



Frans pun terdiam, ia masih menatap Sandara dengan mata sendunya itu. Ingin sekali rasanya Frans memeluk Sandara, tetapi ia selalu menahannya. Frans tau, jika ia memaksakan kehendaknya maka Sandara akan semakin menjauh dari nya.


" Dara...apa kau ingin merasakan kebahagian? "


" Berhentilah membahas kebahagian Frans, aku tidak membutuhkannya. "


" Tapi Dara...aku ingin membuat mu bahagia..."



" Frans...tolong keluar dari kamar ku, aku tidak ingin melihat mu untuk sementara waktu. Pergilah..." Pinta Sandara yang kini sudah terlihat kesal karena pertanyaan yang di lontarkan Frans membuat dirinya semakin sadar bahwa kehidupan nya memang sangat jauh dari kebahagiaan.


" Maaf Dara...tapi tolong pertimbangkan apa yang baru saja aku katakan. Jika kau ingin merasakan kebahagian, datang lah pada ku, dan aku akan memberikan kebahagiaan seutuhnya kepada mu. Aku janji Dara...aku mengatakan hal seperti ini karena aku sangat mencintai mu. Dan aku yakin, Berlin tidak akan bisa memberi mu kebahagian...saat ini memang Berlin menyayangimu, namun jika Berlin tau kau sudah membuat nenek nya meninggal. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan di lakukan Berlin. " Ujar Frans yang tanpa sadar memberitahu Sandara soal kebenaran yang terjadi atas kematian nenek Maria yang telah di lupakan oleh Sandara.


Sandara pun terdiam, ia sangat terkejut mendengar ucapan Frans. Lalu ia mengingat kembali kejadian di saat nenek Maria meninggal. Dan Sandara pun kembali menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah terjadi kepada nenek Maria.


Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️


Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️


Sayang kalian banyak-banyak ❤️❤️❤️


__ADS_2