
*****
Sandara berniat untuk kembali ke rumah singgah Berlin. Namun saat ia melewati taman, entah mengapa Sandara ingin duduk bersantai dan menikmati udara sejuk dengan pemandangan bunga-bunga yang indah di taman.
Sandara pun duduk di sebuah bangku panjang, ia sangat senang melihat tanaman yang cukup subur di taman tersebut. Sandara tersenyum simpul lalu mengeluarkan ponsel nya.
Cekrek...
Sandara mengabadikan sebuah gambar, dan menyimpannya. Sandara terus menatap layar ponsel nya. Ia begitu senang melihat bunga yang tadi di foto nya itu.
" Cantik nya..."
Gumam Sandara...
" Iya...bunga yang kau potret cantik, sama seperti mu. "
Tiba-tiba saja terdengar suara berat seorang pria, Sandara seperti tidak asing dengan suara tersebut. Lalu Sandara menoleh ke arah suara tersebut.
" Tuan Frans..."
Dan ternyata Frans, Frans yang baru saja kembali dari kantor Berlin itu tidak sengaja melihat Sandara ketika ia sedang melajukan mobil nya menuju rumah singgah Berlin.
Entah kenapa, saat melihat Sandara duduk sendiri di taman. Tiba-tiba saja Frans ingin menghampiri Sandara.
" Boleh aku ikut duduk dengan mu? "
" Ah...silahkan tuan Frans..."
Dan Frans pun duduk di samping Sandara.
" Sedang apa kau diluar sendirian? Dan kaki mu bagaimana? Tadi saat kita bertabrakan sepertinya aku melihat kaki mu agak sedikit lebam. "
" Oh, aku sedang menikmati pemandangan indah...dan kaki ku...tidak apa-apa tuan, kemarin kaki ku sempat terkilir, tapi sekarang sudah jauh lebih baik. "
" Begitu rupanya, kau tidak bekerja? Apa akan baik-baik saja kau berkeliaran di luar seperti ini? Jika kepala pelayan tau, kau bisa kena marah. "
Lagi-lagi kalimat yang keluar dari mulut Frans membuat Sandara ingin tertawa. Sandara ingin menyudahi sandiwara nya itu, tapi ini sangat menyenangkan melihat Frans yang berbicara santai dengannya saat ini.
" Emmpphhh...tidak apa-apa tuan, saya sudah meminta izin. "
Sandara pun kembali membohongi Frans, dan Frans dengan polos nya mengangguk dan tersenyum kepada Sandara.
__ADS_1
" Oh ya...aku belum sempat bertanya, kalau boleh tau...siapa nama mu? "
Saat Frans menanyakan tentang nama Sandara, Sandara sempat berpikir sejenak. Ia takut jika ia menyebutkan namanya, kemungkinan Frans akan tau nama istri tuannya itu.
" Emmmmppp...nama ku...Dara..."
Dan akhirnya Sandara memberikan nama singkat nya kepada Frans.
" Nama yang indah, cocok sekali dengan mu, nama dan yang punya nama sama-sama cantik. "
Frans terus saja memuji Sandara, sepertinya Frans sudah jatuh hati kepada Sandara dari sejak pertemuannya tadi saat ia bertabrakan dengan Sandara.
" Kau terlalu memujiku tuan...jangan seperti itu. "
Sandara terlihat tersipu malu, ini adalah pertama kali nya Sandara mendengar pujian dari seseorang. Wajah Sandara pun sampai memerah karena terlalu malu menghadapi pujian dari Frans.
" Wajah mu merah..."
Ujar Frans lalu menunjuk wajah Sandara yang sudah merona itu.
" Aku sangat malu mendengar pujian dari tuan Frans. Baru kali ini ada seseorang yang memujiku dengan tulus. "
" Kau pasti berbohong, tapi sejujurnya...aku juga jarang sekali memuji wanita cantik. Tapi kau berbeda, tatapan mata mu sangat indah, dan entah mengapa itu membuatku berdebar. "
Kalimat yang dilontarkan Frans membuat Sandara terkejut. Awalnya ia hanya iseng dan tidak terlalu serius menanggapi Frans. Namun, tidak di sangka-sangka oleh Sandara, ternyata Frans tertarik kepada diri nya. Dan itu membuat Sandara kebingungan harus berkata apa kepada Frans.
" Tuan Frans ..."
Drtttt...drttt...drttt...
Ketika Sandara ingin memberitahu yang sebenarnya kepada Frans. Tiba-tiba saja ponsel nya bergetar. Sandara melihat ke arah ponsel nya, dan ia menjadi semakin bingung...Sandara bahkan lupa bagaimana cara mengangkat telfon, dan akhirnya ia memencet tombol merah.
Di tempat lain...
Berlin terlihat kesal ketika ia menelfon Sandara, tetapi Sandara malah tidak menjawab panggilan dari nya.
" Kemana sebenarnya dia pergi? Sudah hampir jam makan siang, jika nenek mencari nya bagaimana? Sungguh sangat merepotkan wanita gila itu. "
Gumam Berlin, dan kemudian Berlin pun mencari Sandara di setiap sudut rumah nya. Namun nihil, Berlin tidak menemukan Sandara, dan ia pun bertanya kepada salah satu pelayannya. Kemudian pelayan tersebut memberitahukan kepada Berlin, jika tadi ia melihat Sandara keluar rumah.
Berlin semakin kesal, dan ia pun bergegas keluar dari rumah singgahnya, dan melanjutkan mencari Sandara.
__ADS_1
*****
Sandara kembali ingin memberitahu kan kepada Frans yang sebenarnya. Tapi saat ia kembali ingin berbicara, lagi-lagi ada telfon masuk, namun kali ini ponsel Frans yang berbunyi.
Frans melihat siapa yang menelfon nya dan kemudian ia mengangkat telfon nya, lalu ia berdiri dari duduk nya dan mulai menjauh dari tempat duduk Sandara saat ini.
" Ah, kenapa jadi seperti ini? Jika Frans menyukai ku, ah itu gawat. " Batin Sandara.
Di tengah kebingungan yang saat ini sedang di hadapi Sandara. Tiba-tiba saja Berlin muncul dengan wajah yang sudah terlihat kesal.
" Ternyata disini kau rupanya, kenapa kau tidak menjawab panggilan telefon dari ku? "
Mendengar suara Berlin, Sandara pun dengan spontan berdiri dan mendekat pada Berlin.
" Mari kita pulang..."
Ujar Sandara, kemudian menarik tangan Berlin dengan kasar. Berlin merasa aneh dengan tingkah Sandara, dan kemudian ia melepaskan genggaman tangan Sandara dari pergelangan tangannya.
" Ada apa dengan mu? Kau tidak menjawab ku dan malah menarik tangan ku. "
Berlin bertanya masih dengan tatapan yang terheran-heran.
" Ah, itu...aku...nanti aku jelaskan, sekarang kita langsung pulang saja. "
Sandara tidak ingin jika Berlin mengetahui apa yang dia lakukan pada asisten pribadi nya itu. Sandara khawatir jika Berlin akan berpikiran macam-macam nanti nya. Padahal awalnya Sandara hanya iseng dan ingin menjahili Frans, namun tidak di sangka-sangka, Frans yang belum mengenal Sandara itu malah jatuh hati kepada nya.
Lalu, tanpa bertanya apapun lagi Berlin pun mengikuti langkah kaki Sandara. Sementara itu, Frans yang baru saja selesai dengan panggilan telfonnya itu kembali ke bangku di mana Sandara berada tadi.
Saat kembali, Frans terlihat bingung melihat bangku nya sudah kosong dan tidak ada Sandara di situ. Frans melihat ke sekelilingnya dan tidak menemukan keberadaan Sandara juga.
" Mungkin dia sudah kembali. "
Gumam Frans yang berpikir, jika saja Sandara sudah kembali ke rumah Berlin. Frans pun akhirnya meninggalkan taman tersebut dan berniat ingin memberikan laporan tentang investasi yang sudah ia kerjakan itu kepada Berlin.
Ketika Frans masuk ke dalam rumah Berlin, ia juga tidak melihat Sandara. Lalu Frans langsung menuju ruangan Berlin.
Tok...tok...tok...
Frans mengetuk pintu ruangan Berlin, dan terdengar dari dalam ruangan tersebut jika Berlin memintanya agar segera masuk.
Deg...
Jantung Sandara seperti berhenti berdetak, saat ini ia sedang bersama dengan Berlin, dan sebentar lagi Frans akan masuk ke ruangan Berlin.
__ADS_1
Bantu like, comment dan vote ya...
Jangan lupa juga klik tombol favorit...terimakasih banyak atas dukungan kalian. βΊοΈππβ€οΈ