
*****
Sandara terlihat geram melihat Berlin yang tidak menghiraukan nya. Sandara menggigit sebagian bibir bawah nya hingga mengeluarkan sedikit darah. Lalu kemudian Sandara berjalan menghampiri Berlin.
Brakkk...
Sandara menggebrak meja kerja Berlin, Berlin masih terdiam tanpa reaksi apapun. Lalu Sandara menarik kerah baju Berlin dan menatap wajah Berlin dengan tatapan penuh kemarahan, bahkan mata Sandara pun sudah berkaca-kaca.
" Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku? Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada ayah ku. Kau..."
Berlin membalas tatapan Sandara, lalu kemudian ia memegangi tangan Sandara dan melepaskan cengkraman tangan Sandara yang dari tadi sudah memegangi kerah baju Berlin.
" Lakukan sesukamu, jangan menggangguku. "
Setelah mengeluarkan kalimat yang singkat, Berlin beranjak dari duduk nya dan berjalan melewati Sandara. Berlin keluar dari ruangannya dan kemudian menutup pintu ruangannya dengan sangat keras.
Sandara semakin kesal, ia mengepalkan kedua telapak tangannya. Dan saat Sandara keluar dari ruangan Berlin, Sandara bertemu dengan Sarah.
" Dara..." Ujar Sarah kemudian mendekati Sandara.
Sandara hanya berdiri mematung dan terdiam, Sandara sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. Jadi ia tidak ingin berbicara sepatah kata pun.
" Dara..." Sarah kembali memanggil Sandara, namun Sandara masih tetap diam.
" Kau tidak menemui nenek Maria? Dia terus mencari mu, dan bagaimana keadaan mu? "
Sandara sedikit bingung dengan pertanyaan yang di berikan oleh Sarah kepada nya. Dan benar, Sandara melupakan nenek Maria. Sandara tidak terpikir kalau nenek Maria sudah tau tentang apa yang terjadi pada Sandara.
" Dimana nenek? "
" Dia ada di kamarnya, bagaimana keadaan mu? Dan bagaimana dengan ayah mu? Devan bilang..."
" Cukup, aku sedang tidak ingin membicarakan hal ini. Tolong pergi dari hadapan ku. "
" Tapi Dara..."
Belum selesai Sarah berbicara, Sandara sudah pergi berjalan melewatinya. Sarah hanya menghela nafas panjang, ia bahkan tidak bisa berbicara santai dengan putrinya itu.
Sandara masuk ke dalam kamar nenek Maria, dan ia mendapati nenek nya itu sedang berbaring lemah tidak berdaya di atas tempat tidur nya.
__ADS_1
" Nenek..." Panggil Sandara dengan lembut, dan kemudian nenek Maria menoleh ke arah nya.
" Dara..."
Saat nenek Maria ingin bangun Sandara langsung meraih bahu nenek Maria dan membantunya untuk duduk dan bersandar di papan tempat tidur nya. Sandara juga memasangkan bantal di belakang punggung nenek Maria.
" Dara...maafkan nenek, ini semua karena ketidaktahuan nenek, nenek tidak mengira Remon akan berbuat seperti itu kepada mu. " Ujar nenek Maria yang kini sudah berurai air mata.
" Nenek...bagaimana nenek bisa tau? "
" Nenek tidak sengaja mendengar percakapan Berlin, saat itu nenek sedang mengunjungi rumah Remon. Dan nenek mendengar semua nya."
" Nenek..."
Sandara mulai berkaca-kaca, lalu ia memeluk nenek Maria. Hati nya benar-benar hancur berkeping-keping. Sandara masih terus membayangkan apa yang ia lihat saat itu.
Ayah nya terbunuh tepat di depan mata nya, Sandara merasa tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa-apa di saat kematian ayah nya.
Rasa sakit yang di deritanya semakin dalam, Sandara sudah berusaha sangat keras untuk selalu menutupi rasa sakit itu. Tapi saat ini, semua terasa sulit, ia sudah tidak bisa menahan air mata yang selalu ingin terjatuh di pipi nya.
" Nek...apa salahku? Kenapa semua hal buruk selalu terjadi kepada ku? Kenapa hati ku terasa sakit? "
Setelah hampir lima belas menit Sandara menangis di pelukan nenek Maria. Berlin yang sedang ingin melihat keadaan nenek nya itu pun masuk ke dalam kamar nenek Maria.
Berlin melihat Sandara yang sudah berada di pelukan nenek nya saat ini. Berlin hanya berdiri dan melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya itu. Lalu kemudian nenek Maria melihat nya.
" Berlin..." Ujar nenek Maria, dan Sandara pun melepaskan pelukannya itu dari nenek Maria.
Sandara menoleh ke arah Berlin, ia menatap Berlin masih penuh dengan kebencian.
" Dara, kau harus terus bersama dengan Berlin ya sayang...nenek tidak ingin melihat mu terluka lagi. Tolong maafkan putra nenek Remon. " Ujar nenek Maria lalu menggenggam kedua tangan Sandara.
" Maaf nek, ini terlalu menyakitkan untukku. Saat ini aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, hidupku sudah tidak bergantung kepada siapapun. Dan aku ingin lepas dari semua hal yang bersangkutan dengan keluarga ini. Maafkan aku nek..."
" Tapi Dara...kau cucu nenek...jangan mengorbankan cinta mu hanya karena Remon, nenek hanya ingin melihat mu bahagia. "
" Aku dan Berlin tidak pernah benar-benar saling mencintai nek. "
" Apa maksudmu? "
__ADS_1
Kemudian Berlin menarik lengan tangan Sandara dan membawa Sandara keluar dari kamar nenek Maria. Setelah itu Berlin menghempaskan Sandara hingga tubuh Sandara membentur tembok.
Saat itu sangat kebetulan, Frans sedang berjalan ke arah mereka dan berniat ingin memberikan laporan tentang perusahaan kepada Berlin.
Frans melihat apa yang sedang di lakukan oleh Berlin, dan saat ia ingin menghampiri Sandara dan Berlin...
Bugghhhh...!!!
Berlin menghempaskan tinjunya ke tembok hingga tangannya mengeluarkan sedikit darah.
" Apa kau sudah gila? Kenapa kau berbicara seperti itu dengan nenek? Apa kau ingin balas dendam? Apa kau ingin membunuh nenek di tempat? "
Tinju Berlin masih menempel di tembok, tepat di samping wajah Sandara, Sandara hanya memalingkan wajahnya tanpa menatap mata Berlin. Ia berpikir bahwa tinju Berlin itu akan mendarat di wajah nya bukan di tembok.
" Aku tidak ingin melanjutkan nya, mari kita hentikan...aku tidak ingin menjadi jahat dan terus menerus membohongi nenek. Nenek terlalu baik, dan aku tidak bisa melakukannya lagi. "
" Baiklah, lakukanlah semau mu...tapi, jika sesuatu terjadi pada nenek, aku tidak akan pernah memaafkan mu. Ingat itu..."
Kemudian Berlin pergi meninggalkan Sandara, Sandara sedikit tertekan, dan kemudian ia menjatuhkan tubuh nya ke lantai. Dan Frans pun berjalan menghampiri Sandara. Frans berdiri tepat di depan Sandara.
Sandara mendongakkan kepala nya, dan ia menatap wajah Frans yang saat ini sedang melihat ke arah nya itu.
" Maaf aku juga sudah membohongi mu, kau juga berhak membenci ku tuan Frans. "
Ujar Sandara lalu kembali tertunduk, dan Frans pun memegangi bahu Sandara dan membantu nya untuk berdiri.
" Berdirilah...kau tidak bersalah, aku lah yang cepat menyimpulkan, dan tidak memberimu kesempatan untuk berbicara. " Ujar Frans dengan lembut.
" Kau tidak marah dengan ku? "
Frans menggelengkan kepala nya dan tersenyum ke arah Sandara. Lalu Frans menyilakan beberapa helai rambut Sandara yang menutupi mata Sandara, Frans juga menyentuh kening Sandara yang terluka.
" Pasti sakit sekali..." Ujar Frans yang masih menatap luka di kening Sandara itu.
Terus dukung karya ku ya...
Bantu like, comment dan vote ya...jangan lupa klik tombol favorit juga ya ☺️🙏❤️❤️
__ADS_1