Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#25


__ADS_3

*****


Remon berjongkok, lalu memegang wajah Sandara yang kini sudah penuh lebam. Sandara masih meringkuk sambil memegangi perut nya yang tadi sempat di tendang oleh Remon.


" Apa ini yang kau inginkan? Sebenarnya aku tidak ingin menyakiti tubuh indah mu. Tapi kau yang terus saja membuatku melakukannya. "


Ujar Remon...


Sandara menatap Remon lalu menopang tubuh nya dengan kedua tangannya. Sandara berusaha untuk duduk, lalu ia melepaskan tangan Remon dari wajah nya.


" Lepaskan ayah ku...kau hanya membutuhkan ku, jadi biarkan ayahku pergi dari sini. "


" Tidak semudah itu..."


" LALU APA MAU MU?? "


Sandara sudah cukup geram, ia sudah tidak bisa menahan diri nya lagi. Sandara mulai berteriak di hadapan Remon.


Plakkk...


Tamparan yang cukup keras menghantam pipi Sandara lagi. Sandara memegangi pipi nya lalu kembali tersenyum sambil menatap Remon.


" Dasar bajingan sampah!!! Lakukan apa yang ingin kau lakukan kepada ku. Tapi lepaskan ayah ku. "


Remon berdiri dan kemudian mendekat ke arah Dion.


" Aku ingin kau menderita...kau sudah membuat hidup ku hancur, karena pernikahan mu dengan putra ku. Aku jadi bertengkar hebat dengan nya. "


" Cuihh...pecundang seperti dirimu hanya bisa menyalahkan orang lain. Kau tidak pernah berpikir kalau semua yang menimpamu adalah sebuah karma. Kau pantas mendapatkannya..!! "


Sandara meludahkan darah yang ada di mulut nya. Kemudian Sandara beranjak dan mencoba untuk berdiri. Dan ketika di saat Sandara ingin mencoba mendekat ke arah Remon yang saat ini sedang berada di samping Dion itu...


Doorrr...


Terdengar suara tembakan, Sandara pun menghentikan langkah nya.


Sebuah peluru yang ada di dalam pistol yang saat ini berada di tangan Remon itu pun mendarat tepat di kepala Dion.


Sandara tercengang, Remon terlihat tersenyum senang. Sedangkan Sandara masih belum bisa menerima jika peluru itu sudah menembus kepala ayah nya.


Sandara masih menatap ke arah Dion dengan tatapan kosong. Tangan dan kaki nya bergetar, dan saat ia ingin melangkahkan kaki nya. Tiba-tiba saja kaki nya terasa berat dan Sandara pun jatuh berlutut.


" A..yah..."

__ADS_1


Air mata mulai menetes di pipi Sandara, rasanya seperti tidak nyata melihat ayahnya yang sudah berlumuran darah tepat di hadapannya.


" Tidak...tidak...ayah...tidak..."


Sandara kembali bangkit, lalu ia merangkak ke arah Dion yang kini sudah tergeletak tak bernyawa itu.


" Tidak ayah...ayah...buka matamu...ayah...tidak...ayah...!!! "


Sandara memangku kepala Dion sambil menangis histeris. Hati nya hancur berkeping-keping melihat ayahnya di bunuh tepat di hadapannya.


" Ayah... maaf kan aku ayah...ayah...aku mohon bangun ayah...jangan seperti ini...ayah...a...yah...aaaakkk...a...yah..."


Air mata terus mengalir, sesak di dada Sandara sampai membuat nya tidak bisa menahan diri nya untuk memukul-mukul dada nya.


" Bawa dia..."


Remon memerintahkan beberapa anak buah nya untuk membawa Sandara. Sandara pun di seret dengan paksa, Sandara masih memberontak dan menangis histeris.


" Tidak...jangan...ayah...ayah...tidak...lepaskan aku...ayah...lepaskan aku...ayah...a..."


Bughhh...


Sebuah batang kayu pun mendarat di kepala Sandara. Remon dengan segera meminta anak buah nya untuk membawa jasad Dion dan membuangnya ke tengah laut.


Saat Sandara tersadar, Sandara melihat ke sekelilingnya. Dan ia kembali teringat kejadian saat Remon menembak kepala ayah nya tepat di hadapannya.


" Tidak...aku harus kembali ke tempat itu. Ayah...ini semua salah ku...a...yah...andai aku tidak keras kepala dan tidak membalas perkataan bajingan gila itu...ayah...a...yah..."


Sandara masih saja menangis karena mengingat kejadian mengerikan yang ia lihat itu. Dan kemudian Sandara mencoba membuka pintu kamar di mana ia di kurung itu. Tapi pintu itu terkunci, Sandara terus saja berusaha untuk mendobrak nya. Lalu...


Cekrek...


Remon membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalam kamar itu.


" Kau sudah bangun sayang? "


Tanya Remon lalu memeluk tubuh Sandara...Sandara memberontak dan mendorong tubuh Remon, hingga tubuh Remon menghantam tembok.


Remon terlihat kesal, lalu dengan kasar Remon menarik rambut Sandara dan menghempaskan tubuh Sandara di atas tempat tidur nya. Pukulan bertubi-tubi pun ia luncurkan pada tubuh Sandara, hingga Sandara menjadi lemas dan tidak berdaya.


Setelah ia puas memukuli Sandara, Remon pun memenuhi has*rat nya. Ia seperti pria yang sudah tidak punya akal sehat dan perasaan. Dengan kondisi Sandara saat ini, tega-teganya Remon melampiaskan naf*su bira-hi nya kepada Sandara.


Dan setelah ia selesai melakukan hal menjijikan itu kepada Sandara. Remon dengan segera memerintahkan anak buah nya untuk membawa Sandara, dan mengembalikan Sandara ke rumah singgah Berlin.

__ADS_1


Dan kemudian Remon mengirimkan wajah Sandara yang sudah babak belur itu kepada Berlin.


[ Ini peringatan untuk mu, segera kau ceraikan Sandara...atau aku akan membuat hidup mu hancur karena sudah berani menentang ku. ]


Dan itu adalah isi dari pesan yang di kirimkan Remon kepada Berlin.


*****


Saat Berlin membuka pesan dari Remon, yang pertama kali ia lihat adalah foto Sandara yang sudah penuh memar dan berlumuran darah, serta Sandara yang sudah tak berdaya kala itu.



Berlin begitu terkejut, ia bahkan sempat tidak mempercayai gambar yang telah dikirim Remon tersebut. Berlin langsung berlari ke kamar Sandara, dan saat membuka pintu kamar Sandara. Ternyata Sandara tidak ada di dalam kamar nya.


Dengan emosi dan juga amarah yang sudah bergejolak, Berlin langsung mengeluarkan mobil nya dan mengendarai mobil nya menuju rumah Remon.


Sedangkan, beberapa saat setelah Berlin meninggalkan rumah singgah nya. Beberapa anak buah Remon sampai di depan gerbang rumah singgah Berlin.


Mereka melemparkan tubuh Sandara yang sudah tidak berdaya itu, tepat di depan gerbang. Lalu mereka melajukan mobil nya meninggalkan Sandara yang kini sudah tergeletak di tanah.


Dan saat itu, kebetulan Frans yang berencana ingin membeli salah satu barang keperluan nya yang sudah habis itu pun berjalan keluar dari rumah singgah Berlin.


Dan betapa terkejutnya Frans ketika ia melihat tubuh Sandara yang sudah tergeletak tepat di depan gerbang dengan sudah penuh bekas lebam dan juga luka-luka.


Kemudian, Devan yang baru saja pulang dari pemotretan itu juga hendak ingin mampir ke rumah singgah Berlin. Devan juga terkejut saat melihat Sandara yang sudah tergeletak di tanah.



" Dara..?? "


" Dara..?? "



Frans dan Devan secara bersamaan memanggil Sandara, lalu mendekati tubuh Sandara yang sudah sangat lemah itu.


" Kau siapa? "


Tanya Devan yang curiga kalau saja Frans adalah pelaku nya.


" Bagaimana dengan mu? Kau siapa? Apa kau yang melakukan nya kepada Dara? "


Frans pun juga mencurigai Devan yang secara kebetulan mereka melihat Sandara dalam kondisi tersebut secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2