
*****
" Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. "
Devan langsung menggendong Sandara dan membawanya masuk ke dalam mobil nya. Frans pun mengikuti Devan dan ikut masuk ke dalam mobil Devan.
Mereka membawa Sandara ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai di rumah sakit, Sandara langsung di tangani oleh para perawat dan juga dokter yang bertugas.
Devan dan juga Frans pun menunggu di ruang tunggu.
" Apa kau bekerja dengan Berlin? "
Tanya Devan kepada Frans, dan Frans hanya mengangguk. Frans masih berpikir dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Apa Berlin ada di rumah? Apa kau punya nomornya? Ponsel ku tertinggal di dalam mobil. Jika kau bisa menghubungi Berlin, segera hubungi dia. Aku khawatir jika Berlin akan mencari Dara. Dia harus tau kalau istri nya sedang di rumah sakit. "
Ketika Devan memberitahu Frans bahwa Sandara adalah istri dari Berlin. Frans pun terlihat sangat terkejut, Frans langsung menatap Devan dengan tatapan bingung.
" Maksud mu, Dara adalah istri tuan Berlin? "
Frans pun kembali memastikan apa yang di katakan oleh Devan barusan.
" Ya...Dara istri Berlin, ada apa? Apa kau belum tau? Kau pegawai barunya atau apa? "
Devan pun membalas tatapan Frans, ia juga heran karena Frans tidak tau kalau Sandara adalah istri Berlin.
" Ah...ya...aku asisten pribadi tuan Berlin yang baru, aku baru dua hari bekerja dengannya. Dan kalau boleh tau kau ini siapa nya tuan Berlin? "
Frans pun memberitahukan kepada Devan bahwa diri nya adalah asisten pribadi Berlin yang baru. Dan kemudian Devan tersenyum menyeringai ke arah Frans.
" Pantas saja...perkenalkan, aku Devan...sepupu Berlin. "
" Ah...maaf...saya tidak mengira kalau tuan adalah sepupu tuan Berlin. "
Frans terlihat canggung ketika mengetahui jika Devan adalah sepupu dari tuannya itu.
" Ya...tidak apa-apa, jadi tolong segera hubungi Berlin ya. Supaya dia bisa cepat kemari dan tau keadaan istrinya. "
" Baik tuan. "
Dan Frans pun langsung menghubungi Berlin.
__ADS_1
*****
Di tempat lain...
Berlin masih dalam perjalanan menuju rumah Remon, dan beberapa menit lagi ia akan sampai. Lalu kemudian ponsel nya berdering, Berlin melihat siapa yang menelepon nya. Berlin pun dengan segera menjawab panggilan dari Frans tersebut.
" Ada apa Frans? "
" Tuan, saat ini nona Dara sedang berada di rumah sakit. "
" Apa? Sandara di rumah sakit? Baiklah aku akan segera kesana. "
Berlin langsung menutup telfonnya, dan ia kemudian menepi sejenak. Beberapa menit lagi ia sampai di kediaman Saw, ia merasa sia-sia jika tidak menghampiri Remon terlebih dahulu. Lalu Berlin pun memutuskan untuk ke kediaman Saw terlebih dahulu.
Berlin melajukan mobil nya lagi dan setelah sampai di kediaman Saw. Berlin langsung turun dari mobil nya. Ia membuka pintu rumah dengan sangat kasar.
" AYAH...!!! DIMANA KAU? "
Teriak Berlin, namun tidak ada jawaban sama sekali. Dan kemudian salah satu pelayan menghampiri Berlin.
" Tuan muda..."
" Dimana ayah ku? "
" Tuan muda...Tuan Remon baru saja pergi tuan, dan saya tidak tau kemana perginya tuan Remon. "
" Ah sial..."
" Tuan...maaf jika saya lancang, tapi tuan...saya sangat mengkhawatirkan keadaan nona muda. "
Suara pelayan itu terdengar bergetar dan lirih, kemudian Berlin menatap pelayan tersebut lalu bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
" Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ayah ku bisa membawa Sandara? Apa kau mengetahuinya? "
Pelayan itu menggelengkan kepala nya...
" Maaf tuan, saya tidak tau pasti...tapi, tuan Remon saat membawa nona muda, nona muda dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri. Dan saat saya menggantikan pakaian nona muda. Sekujur tubuhnya sudah di penuhi memar. Dan setelah itu nona muda sadar, kemudian tuan Remon masuk ke dalam kamar nya, dan saya tidak tau lagi apa yang terjadi setelah nya. "
Pelayan tersebut memberitahu Berlin dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Pelayan tersebut teringat kejadian di saat dahulu ia juga menyaksikan apa yang di lakukan Remon kepada Issabel.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari pelayan tersebut, Berlin yang tidak ingin membuang-buang waktu nya lagi itupun langsung bergegas menuju rumah sakit.
Sesampai nya di rumah sakit, Sandara yang sudah berada di ruang perawatan itu pun masih berbaring lemah dan tidak sadarkan diri. Devan dan Frans pun masih setia menunggu dan menjaga Sandara di dalam ruang perawatan tersebut.
Berlin membuka pintu, lalu ia masuk dengan perlahan. Tatapan mata Berlin hanya tertuju pada Sandara, dan saat melihat Sandara yang berbaring lemah seperti itu, tiba-tiba saja wajah Sandara berubah menjadi wajah Issabel.
Berlin terlihat sangat merasa bersalah dan juga sedih. Kemudian ia menyentuh kening Sandara yang sudah di balut dengan perban.
" Issabel...maafkan aku..."
Kalimat itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut Berlin. Dan seketika itu juga Devan dan juga Frans terkejut mendengarnya.
" Berlin? Apa yang kau bicarakan? Dia Dara, bukan Issabel...apa kau masih belum bisa melupakan mendiang istri mu itu? Lihatlah...wanita yang ada di hadapan mu saat ini. Dia Sandara Wang istri mu saat ini, bisa-bisa nya kau menyebut Issabel dalam keadaan Dara yang seperti ini. "
Devan terlihat kesal karena Berlin menyebut nama Issabel. Devan merasa iba kepada Sandara setelah ia mengingat cerita dan kisah pilu dari kehidupan Sandara sampai saat ini.
Berlin tersadar, lalu kemudian ia menjauhkan tangannya dari kening Sandara. Devan semakin kesal melihat nya, dan Frans...ia tampak terlihat kebingungan dengan sikap Berlin kepada Sandara.
" Aku tau kau tidak mencintainya, tapi setidaknya... perlakukan lah Dara dengan layak. "
Devan berbicara sambil menggenggam tangan Sandara. Pandangan Devan tentang Berlin selama ini pun berubah dalam sekejap. Dulu Devan sangat mengagumi Berlin, namun...setelah Sandara menceritakan kisah hidup nya saat itu, Devan pun jadi meragukan kepercayaan nya kepada Berlin.
" Apa maksud tuan Devan? Apa tuan Berlin tidak mencintai Dara? Tapi kenapa? Dan mereka sudah menikah? Bagaimana bisa tuan Berlin tidak mencintai Dara? " Batin Frans.
Frans hanya bisa berdiri mematung sambil melihat Devan yang saat ini sedang kesal dengan Berlin itu. Dan tiba-tiba saja, Sandara menggerakkan jemari tangannya...lalu ia membuka matanya perlahan.
Sandara melihat ke sekelilingnya, dan kemudian pandangan matanya tertuju pada Berlin.
" Berlin...dimana ayah ku? "
Pertanyaan yang di lontarkan Sandara itu membuat Berlin, Devan dan juga Frans menjadi bingung. Mereka menatap Sandara dengan heran. Dan kemudian Sandara menangis dan meminta Berlin untuk segera menolong ayah nya.
" Berlin...cepat kau selamatkan ayah ku, ayah ku pasti masih hidup...tolong bawa dia kemari...Berlin, aku mohon..."
Sandara berkata sambil memohon kepada Berlin, dan Berlin masih menatap Sandara dan mencerna apa yang sedang di bicarakan Sandara saat ini.
Terimakasih atas dukungannya π
Jangan lupa like, comment and vote ya βΊοΈπ
__ADS_1
Klik tombol favorit juga ya βΊοΈπ