
...****************...
Devan pun mencari keberadaan Kaira hingga ia mengelilingi Mall tapi tetap saja Devan tidak menemukannya. Devan hanya mengingat nama Kaira dan tidak meminta nomor ataupun alamat rumah nya.
" Sial...kenapa aku harus kehilangan jejaknya...wanita itu mirip sekali dengan Sandara. " Gumam Devan masih dengan pandangan mata yang terus mencari sekelilingnya.
Sedangkan Kaira, ia sudah berada di tempat parkir bersama dengan Frans. Dan mereka pun pergi dengan mobil Frans meninggalkan mall tersebut.
" Bagaimana perasaan mu? " Tanya Frans sambil menatap Kaira.
" Aku sangat senang...terimakasih Frans..." Jawab Kaira sambil melemparkan senyuman yang mengembang di wajah nya.
" Syukurlah...apa kau sudah lapar? " Tanya Frans lagi lalu melihat Kaira sekilas dan kembali fokus mengendari mobil nya.
" Sedikit, tapi aku belum begitu lapar..." Jawab Kaira sambil mengelus-elus perut nya.
Frans yang melihat tingkah Kaira pun hanya tersenyum kecil.
" Kita langsung pulang atau kau ingin makan di luar? "
" Mmmppphhh...kita pulang saja, aku ingin makan masakan rumah. " Jawab Kaira yang sangat menyukai masakan Natara.
Dan mereka pun akhirnya kembali pulang ke rumah Frans. Dan benar saja, setibanya mereka di rumah Frans, Natara sudah memasak begitu banyak menu makanan untuk Kaira dan juga Frans.
" Untung saja aku ajak Frans untuk makan di rumah. " Ujar Kaira lalu membasuh tangannya.
__ADS_1
Natara hanya tersenyum lalu kembali sibuk untuk menyiapkan makanan di meja makan. Dan kemudian Frans dan juga Kaira pun duduk lalu mencicipi masakan buatan Natara.
" Wahhh...masakan ibu memang yang terbaik...aku sudah belajar dan terus berusaha, tetapi masakan ku tidak ada perkembangan. Kenapa ibu begitu pintar memasak? " Ujar Kaira yang selalu memuji masakan Natara.
" Kaira...kau harus terus belajar dengan ibu sampai kau benar-benar bisa membuat masakan yang enak untukku. " Goda Frans sambil tersenyum jahil pada Kaira.
" Aku pasti bisa...iya kan bu? Pokok nya ibu harus terus mengajariku..." Rengek Kaira kepada Natara.
" Iya sayang...kau harus pintar memasak, biar nanti ketika kalian sudah menikah dan punya anak, masakan mu pasti akan menjadi masakan favorit anak-anak kalian. " Ujar Natara yang membuat Frans langsung tersedak.
Biar bagaimana pun Kaira tetap lah istri sah Berlin, dan Frans juga tidak tau bagaimana caranya ia harus menjelaskannya kepada ibu nya. Natara hanya tau bahwa Kaira selama ini di buang oleh keluarga nya, dan keluarganya sendiri lah yang hampir membunuh nya.
Sedangkan Kaira, ia bahkan belum bisa mengetahui bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadap Frans. Kaira merasa nyaman dan rasa terimakasih dan rasa bersyukur nya lah yang membuat Kaira begitu menyayangi Frans dan juga Natara.
" Kenapa? Kaira sudah terlihat sehat, kau juga sudah lama berhubungan dengannya, kalau soal wali kau tenang saja, biar paman mu yang menjadi wali untuk Kaira. " Natara terlihat begitu serius dengan apa yang baru saja di katakan nya.
" Tapi ibu...Kaira belum benar-benar mengingat ku...dan aku tidak bisa memaksanya begitu saja, dia masih harus meyakinkan dirinya bu. Tunggu beberapa waktu lagi ya? " Frans pun mencoba memberikan pengertian kepada ibu nya.
Natara terlihat sedikit kecewa dengan jawaban yang di berikan Frans kepada nya. Lalu Natara menatap Kaira dan juga meraih tangan Kaira lalu menggenggam nya.
" Kaira? Apa kau masih belum yakin dengan perasaan mu? Apa kau tidak melihat betapa Frans sangat mencintai mu nak? Ibu yakin, dan ibu pastikan kau akan selalu bahagia jika bersama dengan Frans. Apa yang perlu kau yakinkan lagi? Ibu sudah tidak muda lagi, dan ibu sangat ingin segera menimang cucu. " Ujar Natara yang membuat Kaira tidak bisa berkata-kata dan menjadi terbebani dengan kalimat-kalimat yang dikatakan oleh Natara kepada nya.
" Ibu...jangan seperti itu..." Frans merasa ibu nya terlalu memaksa Kaira, dan Frans pun berusaha mencoba untuk menghentikan ibu nya.
" Baiklah-baiklah...terserah kau saja, ibu yakin jika Kaira juga memahami apa yang ibu katakan barusan. Kalian lanjutkan makan kalian, ibu masih harus membereskan beberapa pakaian. " Ujar Natara lalu beranjak dari duduk nya dan pergi meninggalkan Frans dan juga Kaira di meja makan.
__ADS_1
Frans sedikit merasa tidak enak hati kepada Kaira, ia sesekali melirik ke arah Kaira sambil memakan makanannya, dan terlihat begitu jelas jika raut wajah Kaira seperti sedang terbebani akan suatu hal.
" Jangan terlalu kau pikirkan apa yang baru saja di katakan ibu. Kau tenang saja, aku tidak akan memaksamu, kau bisa memintaku untuk menikahi mu jika kau sudah siap. " Ujar Frans yang berusaha membuat Kaira untuk tidak terlalu khawatir dengan apa yang baru saja di bahas oleh Natara.
Kaira hanya tersenyum kecil sambil mengangguk, ia bahkan tidak tau harus berkata apa. Perasaannya jadi campur aduk dan tidak karuan. Kaira juga merasa jika dirinya sudah banyak merepotkan dan menyusahkan Frans dan juga ibu nya.
Dan setelah mereka menyelesaikan makanannya, Kaira tanpa sepatah katapun langsung pergi meninggalkan Frans dan masuk ke dalam kamar nya.
Kaira membuka jendela kamarnya, lalu ia duduk termenung di atas kursi yang ia letakkan tepat di samping jendela kamar nya. Kaira menatap ke arah langit yang kini sudah berubah warna menjadi oranye, karena matahari sudah mulai tenggelam.
" Kenapa aku masih belum bisa mengingat tentang Frans? Dan kenapa perasaanku kepada Frans tidak ada kemajuan? Benarkan dulu aku mencintainya? Namun mengapa semua nya terasa kosong? Sebenarnya apa yang terjadi dengan ku? " Gumam Kaira masih dengan menatap langit.
Kaira sangat bingung dengan apa yang kini dirasakannya. Kaira memang sangat menyayangi Frans, namun rasa sayang yang dimilikinya tidak bisa di sebut sebagai cinta. Saat dirinya bersama dengan Frans, tidak ada getaran apapun di dalam hati Kaira, semua tampak biasa saja.
Kaira selalu mempertanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi selama ini kepada nya. Ia bahkan sering mencoba untuk mengingat kenangan di masa lalunya, namun usaha nya sia-sia, yang ia dapatkan hanyalah rasa sakit kepala yang teramat saat ia mencoba untuk mengingat masa lalunya.
" Maafkan aku Frans...mungkin kau harus menunggu beberapa waktu lagi sampai aku benar-benar yakin akan segala nya tentang mu. " Gumam Kaira lagi lalu menutup jendela kamar nya.
Sedangkan Frans, ia masih merenung di meja makan. Frans berharap jika Kaira benar-benar sudah tidak bisa mengingat masa lalunya dan melupakan semua kenangan buruk nya di masa lalu.
Frans selalu saja di selimuti rasa takut selama ini, ia takut jika suatu saat Kaira bertemu dengan Berlin, dan Berlin mengenali Kaira. Ia benar-benar tidak ingin itu terjadi. Frans berharap jika ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Berlin.
__ADS_1