Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#23


__ADS_3

*****


Frans membuka pintu ruangan Berlin, sedangkan Sandara, ia hanya bisa duduk terpaku di sofa yang ada di ruangan Berlin.


Frans berjalan melewati Sandara, dan kemudian ia memberikan informasi dan juga beberapa nomor kolega kepada Berlin. Setelah selesai melaporkan apa yang sudah ia kerjakan, Frans pun berjalan keluar dari ruangan Berlin tanpa melihat ke arah Sandara.


" Hufftt ...."


Sandara merasa lega karena Frans sudah tidak di ruangan Berlin. Dan untung nya saja Frans tidak menyapa diri nya.


" Kau kenapa? "


Tanya Berlin yang melihat reaksi Sandara ketika Frans menutup pintu ruangan Berlin.


" Ah tidak..."


" Kau aneh sekali hari ini. "


" Aneh? Tidak...aku merasa biasa-biasa saja, sama seperti kemarin-kemarin. "


" Dan kau juga belum menjawab pertanyaan ku, kenapa kau mengabaikan panggilan telefon ku? Kau berhutang penjelasan padaku. "


Sandara hampir saja lupa, ah... lagi-lagi ia harus memutar otaknya dan mencari sebuah alasan yang masuk akal.


" Emmppphh...aku...tadi aku lupa harus menekan tombol apa. "


" Dasar bodoh.! "


Lagi-lagi kata-kata yang keluar dari mulut dingin Berlin adalah bodoh. Sandara sangat kesal jika Berlin selalu saja menyebut diri nya bodoh.


" Apa tidak ada kata-kata yang lebih halus? Kenapa harus bodoh? Apakah aku sebodoh itu di matamu? Kau pikir menjadi diri ku yang seperti ini mudah? Kau pikir aku tidak merasa tertekan selama ini? Kau selalu saja memaki ku dengan kata bodoh andalan mu itu. Ya...aku memang bodoh, tapi apakah harus sejelas itu kau mengatakannya di hadapan ku? Apa kau tidak memiliki hati nurani sedikit pun? Aku memang tidak pernah bersekolah, dan kehidupanku sangat lah menyedihkan. Tapi aku tidak bisa membiarkan mu yang terus saja mengatakan bahwa aku bodoh. Aku juga memiliki perasaan, dan kata-kata mu itu benar-benar membuatku sakit hati. "


Sandara meluapkan semua kekesalannya kepada Berlin. Lalu dengan wajah yang sudah sangat masam Sandara berjalan keluar dari ruangan Berlin.



Berlin hanya bisa menatap Sandara, sebenarnya setelah Sandara meluapkan semua kekesalannya, Berlin sedikit merasa tidak enak hati kepada Sandara. Tapi apa boleh buat, Berlin dengan segala keangkuhannya itu tidak akan pernah meminta maaf kepada Sandara, kecuali ada sebuah keajaiban.

__ADS_1


Dan saat Sandara selesai menutup pintu ruangan Berlin dan berbalik. Lagi-lagi Sandara di kejutkan oleh Frans yang saat ini sedang berdiri tepat di hadapannya.


" Astaga!! Frans..?? Kau? Kenapa kau masih di sini? Apa kau mendengar percakapan ku dengan Berlin? "


Sandara sangat terkejut, dan ia takut jika saja Frans mendengar apa yang dikatakannya kepada Berlin barusan.


" Ah...aku sengaja menunggu mu, aku khawatir jika tuan Berlin memarahi mu dan memecat mu karena kau berkeliaran di saat jam kerja mu. Apa kau dimarahi? "


Sandara menghela nafas lega karena Frans tidak mendengar percakapan nya dengan Berlin barusan.


" Lah? Kenapa aku merasa lega? Seharusnya aku memberitahukan kepada Frans yang sebenarnya. Tapi...jika aku memberitahu nya, Frans pasti akan menjaga jarak dengan ku, sama seperti para pelayan yang tidak mau berteman dengan ku. Tidak apa-apa Dara...untuk saat ini, yang kau butuhkan adalah teman. Tidak ada salah nya jika kau berteman dengan Frans. " Batin Sandara.


" Tidak tuan Frans...Berlin tidak memarahiku. "


" Berlin? Dara...kau harus hati-hati, aku tau kau mungkin kesal karena tuan Berlin yang begitu tegas. Tapi tidak sepantasnya kau menyebut nama nya seperti itu. "


Sandara tidak sadar kalau ia menyebut nama Berlin begitu saja dihadapan Frans. Lalu kemudian Sandara menutupi bibir nya dengan kedua tangannya.


" Maaf tuan Frans, aku kelepasan..."


" Kenapa hari ini terasa sangat melelahkan..."


Gumam Sandara, kemudian ia membaringkan tubuh nya. Dan belum sempat Sandara memejamkan mata nya. Seperti biasa, jam makan siang sudah tiba. Pelayan pun sudah mulai mengetuk-ngetuk pintu kamar Sandara.


Sandara menjawab suara pelayan itu, dan langsung bergegas menuju ruang makan.


" Kenapa semua orang tidak membiarkanku untuk beristirahat hari ini. "


Gumam Sandara sambil menutup pintu kamar nya. Sandara berjalan dengan perlahan dan kemudian tiba-tiba saja Berlin memegangi tangan Sandara dan berbisik di telinga Sandara.


" Jangan macam-macam dan bersandiwara lah di depan nenek. "


Bisik Berlin kepada Sandara, lalu Berlin menggandeng tangan Sandara sampai pada meja makan. Berlin pun memperlakukan Sandara bak seorang istri yang sangat beruntung memiliki suami seperti Berlin.


" Pemandangan yang indah...senang sekali nenek bisa melihat kalian yang saling memperhatikan satu sama lain seperti ini. "


Sandara dan juga Berlin hanya bisa membalas perkataan nenek Maria itu dengan senyuman paksa mereka. Lalu kemudian mereka melanjutkan makan siang mereka.

__ADS_1


" Nek, Berlin...aku duluan ke kamar ya...hari ini tubuhku terasa sangat lelah. "


Pamit Sandara kepada nenek Maria dan juga Berlin. Dan saat Sandara ingin beranjak, tiba-tiba saja tangan nenek Maria menghalangi langkah Sandara.


" Kau lelah? Apa kau juga merasa lemas? "


Tanya nenek Maria yang saat ini sedang ingin memastikan apakah Sandara sedang hamil, karena nenek Maria sangat ingin segera mempunyai cicit, dan mungkin saja itu efek dari hamil muda, pikir nenek Maria saat ini.


Sandara hanya mengangguk, dan kemudian ia menghentikan langkah nya. Tubuh Sandara memang terasa lelah dan lemas, tetapi itu di sebabkan karena ia hampir setengah hari berjalan mengelilingi kompleks dan belum sempat beristirahat.


" Apa kau juga merasa mual Dara? "


Tanya nenek Maria lagi, kali ini nenek Maria berharap kalau Sandara mengangguk dan mengatakan ya.


Sandara berpikir sejenak dan merasakan bagaimana kondisi tubuh nya saat ini. Namun ia tidak merasakan mual, Sandara hanya merasa lelah dan lemas.


" Sepertinya aku tidak mual nek, ada apa sebenarnya nek? Kenapa nenek bertanya seperti itu? Apa ada penyakit khusus dengan gejala seperti itu? "


Sandara kembali bertanya kepada nenek Maria, ia juga penasaran kenapa nenek Maria bertanya seperti itu kepada nya.


" Tapi walau kau tidak mual, coba saja kau tes Dara. "


" Tes? Tes apa nek? "


Sandara semakin bingung dan penasaran, lalu Berlin yang paham perkataan nenek nya itu langsung beranjak dari duduk nya dan berniat untuk segera mengantarkan Sandara ke kamar nya.


" Soal itu biar aku yang urus ya nek, nenek tidak perlu khawatir. Aku akan mengantar Sandara ke kamar dahulu. "


Dan Berlin langsung menarik tangan Sandara dan membawanya ke kamar nya. Sandara masih memikirkan apa yang di tanyakan oleh nenek Maria barusan. Setelah sampai di kamar nya, Sandara pun langsung menanyakan nya kepada Berlin.


" Berlin...apa maksud dari pertanyaan nenek barusan? Aku sungguh tidak mengerti. "


" Ck...bagaimana aku harus menyebutmu, kau tidak ingin aku mengatai mu bodoh, tapi sebenarnya kau memang bodoh. Apa kau benar-benar tidak mengerti? "


Sandara menggelengkan kepala nya, raut wajah nya juga mulai berubah menjadi kesal. Namun karena ia cukup lelah, jadi Sandara tidak membalas kata-kata Berlin.


__ADS_1


__ADS_2