
*****
Keesokan harinya....
Langit terlihat begitu cerah...matahari pun bersinar sangat terang, Sandara dan Berlin masih tertidur dengan lelap. Lalu sinar matahari masuk dari celah-celah gorden dan menyilaukan mata Berlin.
Berlin menutupi mata nya dengan tangan kiri nya, namun kini rasa kantuk nya sudah hilang. Berlin pun membuka matanya dan melihat ke arah samping.
Di pandangnya wajah Sandara yang masih tidur dengan lelap. Lalu Berlin menyentuh helai rambut Sandara. Dan tiba-tiba saja Berlin...
" Issabel..." Ujar Berlin sambil membelai lembut rambut Sandara.
Sandara yang masih tertidur itu mendengar suara Berlin dengan samar-samar, suara Berlin seperti sedang masuk ke dalam mimpi nya. Lalu kemudian Sandara membuka kedua matanya dan ternyata Berlin sedang memandangi diri nya.
" Apa kau memanggilku Issabel? " Tanya Sandara kepada Berlin, Sandara hanya memastikan apakah diri nya hanya bermimpi atau memang benar Berlin memanggilnya Issabel.
" Issabel? Tidak...apa kau bermimpi? " Jawab Berlin yang malah kembali bertanya kepada Sandara.
Ya...kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Berlin tanpa Berlin sadari. Kejadian semalam benar-benar membuatnya teringat dengan mendiang Issabel.
Berlin sangat menyesal karena ia terlambat mengetahui kebenaran nya, dan kali ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi istrinya dan tidak ingin kejadian yang menimpa Issabel terjadi kepada Sandara.
" Ah...ya...mungkin aku hanya mimpi...tapi aneh sekali...suara mu terasa nyata...apa mungkin karena semalam kau membahas Issabel? " Ujar Sandara lalu kembali menatap Berlin.
" Mungkin saja..."
" Berlin...apakah foto wanita yang terpajang di dinding kamar ini saat kita pertama kali datang itu Issabel? " Tanya Sandara menyelidik...
__ADS_1
" Ya...dia Issabel. " Berlin menjawab dengan ekspresi wajahnya yang sudah sedikit berubah menjadi murung.
" Maaf jika aku membahas nya...Issabel sangat cantik, tapi kenapa kau bisa tidak menyukainya? " Tanya Sandara yang selama ini ia sudah sangat penasaran dengan hubungan diantara Berlin dan Issabel dahulu.
" Kami menikah karena aku dan Issabel saling mencintai satu sama lain. Namun...setelah aku dan Issabel menikah, aku disibukkan dengan pekerjaan ku yang sangat menumpuk, sehingga waktu yang aku habiskan hanyalah di kantor dan mengurus semua hal yang berkaitan dengan pekerjaanku. Issabel adalah gadis yang sangat baik, dia tidak pernah mengeluh karena aku selalu sibuk bekerja dan hanya sedikit waktu yang aku berikan untuk Issabel. Aku tidak pernah sekalipun tidak mencintai Issabel...hingga pada suatu hari Issabel mencelakai diri nya sendiri, dia tewas karena bunuh diri. Dan Issabel meninggalkan secarik surat, dan isi surat tersebut menjelaskan bahwa dia melakukannya karena dia kecewa kepada ku yang selama ini tidak menyukai wanita. Dulu aku sangat terkejut saat melihat surat tersebut. Dan sekarang aku sudah paham kenapa Issabel menulis surat seperti itu. "
Lalu tiba-tiba saja Berlin berhenti bercerita, dan kemudian ia menatap dalam Sandara. Sandara terlihat heran dan masih belum bisa memahami apa yang baru saja di ceritakan oleh Berlin.
" Lalu? Kenapa kau berhenti? Lanjutkan cerita mu Berlin...apa alasan sebenarnya Issabel menulis surat itu untuk mu? Aku terlalu penasaran untuk mendengar yang sebenarnya darimu. " Ujar Sandara yang terlihat sudah tidak sabar mendengarkan kelanjutan ceritanya.
" Aku hanya ingin melihat wajah mu sebentar, aku butuh kekuatan untuk menceritakan segalanya kepada mu Dara..." Ujar Berlin lalu sedikit memberi senyuman kepada Sandara.
" Apa kau sudah puas melihat wajah ku? Sekarang kekuatan itu pasti sudah pulih...lanjutkan Berlin, aku sudah sangat penasaran. "
" Baiklah-baiklah...kau sangat tidak sabaran...jadi, ternyata setelah aku menemukan kebenaran nya, kini aku paham, Issabel hanya ingin menjaga nama baik keluarga ku. "
" Kisahnya sedikit mirip dengan kisah mu, apa yang kau alami setelah menikah dengan ku, Issabel juga mengalami nya. Dia bunuh diri setelah dia mengetahui kalau dirinya hamil, dan dia sadar jika yang di kandungnya bukanlah anak ku. "
" Maksud mu? Ayah mu? "
" Ya...dan bodohnya aku...aku mengetahui kebenaran nya tidak lama setelah aku menikah dengan mu. Ayah Issabel yang memberitahuku, awalnya dia tidak ingin memberitahu ku, namun...setelah dia mengetahui pernikahan kita, dia menghampiriku dan memberitahuku segalanya, dia tidak ingin kau mengalami apa yang Issabel alami. " Jelas Berlin yang sedikit terasa sakit dada nya karena mengingat kenyataan bahwa kedua istrinya sudah ternodai oleh ayah nya sendiri.
Raut wajah Sandara pun mulai berubah setelah mendengar cerita dari Berlin. Dan kemudian tanpa sadar ia meneteskan air mata yang selalu di tahannya itu.
__ADS_1
" Apa kau menangis? " Tanya Berlin yang saat itu melihat Sandara meneteskan air matanya.
" Ah...tidak...aku hanya..."
Lalu kemudian Berlin memeluk tubuh Sandara...
" Menangis lah jika kau ingin menangis, jangan kau sembunyikan lagi dari ku Dara...tidak apa-apa, kau tidak akan terlihat lemah hanya karena kau pernah sekali menangis di depan ku. " Ujar Berlin sambil membelai lembut rambut Sandara.
Mendengar perkataan Berlin tersebut, Sandara sudah tidak bisa lagi untuk menahan tangisnya itu. Luka di hati nya sangat dalam, ia selalu berusaha untuk tegar dan kuat...namun apa daya, Sandara sama dengan wanita pada umumnya...ia juga bisa menangis.
Di dalam tangis nya ia selalu membayangkan andai saja ia terlahir kembali, Sandara benar-benar tidak ingin melalui jalan hidup seperti jalan hidupnya saat ini.
Sandara ingin terlahir dengan kehidupan yang normal, dia ingin dikelilingi orang-orang yang selalu menyayangi dan memperhatikannya. Semua yang di alami Sandara sampai detik ini membuatnya berpikir, kalau mungkin lebih baik kehidupan itu tidak ada di dalam dirinya.
Memang terlalu menyakitkan, Sandara selalu ingin merasakan apa yang di rasakan orang lain. Sandara begitu merindukan kehangatan dari keluarga yang seharusnya menyayanginya sejak ia kecil sampai ia tumbuh menjadi dewasa.
" Kenapa semua ini terjadi kepada ku? " Ujar Sandara dalam isak tangis nya.
Berlin tidak bisa berkata-kata, dan tidak ada kalimat yang dapat menghibur Sandara untuk saat ini.
" Aku hanya membutuhkan mereka...aku tidak ingin apapun...yang aku butuhkan hanyalah kedua orang tuaku. Apakah keinginanku itu sangat berlebihan? Aku hanya ingin mereka Berlin...aku tidak meminta apapun...aku hanya ingin merasakan seperti apa hidup normal, sepeti apa hidup dengan kedua orang tua ku...andai saja mereka tidak berpisah, semua hal buruk ini tidak akan menimpaku...saat itu aku hanyalah gadis berusia sepuluh tahun...aku belum bisa menjaga diri ku sendiri. Dan...hal yang menjijikkan itu harus terjadi kepada ku Berlin...aku hanya ingin kehidupan yang normal. Apa itu salah? Apa itu permintaan yang sulit? Kenapa aku tidak bisa mendapatkannya? Kenapa? Dada ku terasa sesak jika aku mengingat setiap hal yang merusak diri ku. Rasa nya aku ingin pergi dari kehidupan ini Berlin...tolong selamatkan aku..."
Sandara pun meluapkan segalanya...ia menangis histeris di pelukan Berlin. Kehidupannya begitu pilu sehingga Sandara tidak tau lagi perasaan apa yang kini ia miliki.
Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️
Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️
Sayang kalian banyak-banyak ❤️❤️