Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#45


__ADS_3

*****


Dan setelah beberapa saat, Sandara mulai tenang dan kemudian melepaskan pelukannya dari Berlin. Sandara menjauhkan tubuhnya dari Berlin, lalu kemudian ia terlihat sedikit malu dan wajah nya pun memerah.


" Apa kau sudah jauh lebih baik? " Tanya Berlin yang sedang memastikan keadaan Sandara.


Sandara hanya mengangguk perlahan sambil menundukkan kepalanya. Sandara terlalu malu untuk mengangkat kepala nya dan menatap Berlin. Ia bahkan tidak mengerti kenapa diri nya bisa menangis di pelukan Berlin seperti itu.


" Baiklah kalau kau sudah jauh lebih baik, apa kau mau mandi dulu? " Tanya Berlin lagi yang kini menawarkan Sandara untuk membersihkan tubuh nya.


" Kau dulu saja...aku masih ingin berbaring sebentar. " Ujar Sandara lalu ia membaringkan tubuh nya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Dan Berlin pun beranjak dari tempat tidur nya, ia masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh seluruh tubuh nya. Setelah selesai mandi, Berlin baru teringat kalau ia lupa membawa pakaian ganti nya.


" Ah, sial...baju ku..." Gumam Berlin sambil menepuk kepala nya.


Lalu Berlin pun membuka pintu kamar mandi dengan perlahan, ia mengendap-endap dan mengintip keluar lalu memastikan apakah Sandara masih menutupi tubuh nya dengan selimut.


Setelah memastikan bahwa sudah aman dan Sandara masih menutupi wajah dan tubuh nya dengan selimut, Berlin pun melangkahkan kaki nya dengan perlahan. Ia keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang kini hanya menutupi bagian bawah tubuh nya.


Berlin membuka lemari baju nya perlahan, lalu Berlin kembali menoleh ke arah Sandara. Dan ternyata masih aman, lalu Berlin menarik baju dan juga celana dari dalam lemari nya.


Dan saat Berlin membalikkan badannya untuk kembali ke kamar mandi. Tiba-tiba saja Sandara membuka selimut nya dan melihat ke arah Berlin.


Berlin yang terkejut itu pun hanya berdiri mematung sambil membalas tatapan mata Sandara dan di waktu yang bersamaan, handuk yang dikenakan Berlin pun terperosot ke bawah.


" Ahhh Berlin kau..." Teriak Sandara sambil menutupi mata nya dengan kedua tangannya.


" Maaf aku lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. " Ujar Berlin yang juga terkejut karena teriakan Sandara. Namun Berlin belum sadar kalau handuknya sudah jatuh ke lantai.


" Cepatlah kembali ke kamar mandi, dan kenakan handuk mu. " Ujar Sandara masih menutupi kedua mata nya.


" Handuk? Aku sudah makainya..." Ujar Berlin lalu ia melihat ke arah bawah bagian tubuh nya dan mata nya pun terbelalak melihat handuk nya sudah menyentuh lantai.


Saat Berlin bilang kalau ia sudah mengenakan handuk Sandara pun membuka mata nya dan...


" Ahhh...kau belum memakainya..." Sandara kembali menutupi mata nya dengan kedua tangannya.


" Maaf...maaf aku tidak tau kalau handukku sudah tidak menutupi bagian adikku. " Ujar Berlin sambil membenahi handuk nya.


Kemudian Berlin dengan segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengenakan pakaiannya.

__ADS_1


" Ah...kenapa ini terlalu akward...tapi kenapa aku harus malu? Dara istri ku, dan apa salahnya? " Gumam Berlin sambil membenahi baju nya.


Lalu setelah itu Berlin keluar dari kamar mandi nya. Dan saat itu juga Berlin melihat Sandara yang sedang berusaha untuk naik ke atas kursi rodanya. Berlin dengan segera menghampiri Sandara dan menggendong Sandara lalu menaruh Sandara di atas kursi roda nya.


" Terimakasih..." Ujar Sandara.


Lalu Sandara masuk ke dalam kamar mandi, dan tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamara nya.


Tok...tok...tok...


" Tuan...apa anda sudah bangun? " Tanya seseorang dari luar kamar Berlin.


Berlin pun dengan segera membuka pintu kamar nya dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamar nya.


" Ada apa Frans? Ini masih terlalu pagi..." Tanya Berlin sambil mengerutkan dahi nya.


" Maaf tuan, ada beberapa hal mendesak yang harus tuan urus. " Ujar Frans sambil memberikan sebuah rekaman video kepada Berlin.


" Apa ini? " Tanya Berlin yang terlihat sedikit terkejut.


" Saya juga belum yakin tuan, tapi sepertinya ada seseorang yang ingin memata-matai kediaman tuan Berlin. " Jelas Frans masih dengan memperlihatkan beberapa video yang di dapatnya dari cctv rumah Berlin.


" Seperti nya ini ulah ayah ku, baiklah Frans...aku akan menanganinya sendiri, tolong kau tetap di rumah dan terus awasi Sandara. Jika ada hal yang mencurigakan segera hubungi aku. " Ujar Berlin lalu Berlin pun segera bergegas menuju kediaman Remon.


Dan setelah Berlin pergi meninggalkan kediamannya, Frans dengan sigap pun berjaga di depan pintu kamar Sandara. Frans juga tidak tinggal diam, dirinya juga meminta beberapa orang suruhannya untuk mengawasi orang-orang yang sedang mengintai kediaman Berlin.


Sedangkan Sandara, ia baru saja keluar dari kamar mandi dan Sandara tidak mendapati Berlin di dalam kamar nya.


" Kemana perginya? " Gumam Sandara masih melihat ke sekeliling kamar nya.


Dan kemudian Sandara membuka pintu kamar nya dan mendapati Frans yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


" Frans? " Panggil Sandara yang heran karena Frans sudah berdiri di depan kamar nya.


" Nona...ee...maksud ku Dara..."


" Kenapa kau berdiri di depan kamar ku? Dan dimana Berlin? "


" Sepertinya aku harus merahasiakannya dari Dara...aku tidak ingin jika Dara cemas dan mengkhawatirkan hal-hal yang belum pasti. Aku juga tidak ingin Dara merasa terancam dengan situasi saat ini. " Batin Frans.


" Maaf Dara, tuan Berlin memintaku untuk menjaga mu, karena tiba-tiba saja ada urusan yang sangat mendesak di kantornya. " Jawab Frans yang lagi-lagi ia harus membohongi Sandara.

__ADS_1


" Ah begitu..."


" Apa kau mau kebawah untuk sarapan? " Tanya Frans yang sudah memposisikan tubuhnya untuk menggendong Sandara.


" Ya...aku sudah lapar, apa kau sudah sarapan? "


" Ah...belum..." Jawab Frans sambil menggaruk-garuk kepala nya.


" Yasudah kau temani aku sarapan..."


" Tapi Dara..."


" Cepet aku sudah lapar...dan aku tidak ingin mendengar penolakan dari tawaranku ini. "


" Baiklah kalau kau memaksa. " Ujar Frans sambil menggendong tubuh Sandara dan membawa Sandara ke ruang makan.


Para pelayan pun dengan sigap menyajikan sarapan untuk Sandara. Lalu Sandara juga meminta para pelayan itu untuk melayani Frans juga.


" Tolong kau ambilkan piring dan gelas untuk Frans. " Perintah Sandara kepada pelayan tersebut.


" Baik nona..."


Dan di saat mereka tengah menikmati sarapan mereka. Tiba-tiba saja Devan datang dan Devan cukup terkejut melihat pemandangan yang sangat asing di depan matanya itu.


" Sejak kapan Berlin membiarkan bawahannya untuk makan bersama di meja makan utama? " Tanya Devan yang kemudian langsung duduk di sebelah Sandara.


" Maaf tuan..." Ujar Frans yang kini sudah ingin beranjak dari duduk nya namun di cegah oleh Sandara.


" Frans...kau kembali duduk, ini perintah..!! Devan...kau jangan seperti itu, aku yang meminta Frans untuk menemani ku sarapan. " Ujar Sandara yang tidak ingin suasananya menjadi canggung.


" Apa Berlin tau? " Tanya Devan yang sangat hafal dengan karakter Berlin.


" Berlin yang meminta Frans untuk menjaga ku, jadi apa salahnya dia hanya menemaniku sarapan.? Kau jangan terlalu melebih-lebihkan Devan. " Jawab Sandara sambil menatap Devan dengan kesal.



Lalu Devan pun terdiam sambil menganggukkan kepalanya dan mengangkat kedua alis nya.


Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️


Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️


Sayang kalian banyak-banyak ❤️❤️❤️


__ADS_2