Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#47


__ADS_3

*****


" Apa yang kau bicarakan? Jadi itu bukan mimpi? Aku benar-benar penyebab nenek meninggal? Aaahhhhh...ini salah ku...aku penyebab nenek meninggal, nenek sangat baik kepada ku...tidak...aku tidak ingin menjadi pembunuh...aku...aku..." Ujar Sandara sambil memegangi kepala nya.


Frans pun menjadi panik dan bingung, semua karena ucapan Frans yang tidak berhati-hati. Kini Frans harus berusaha untuk mencari cara agar Sandara bisa kembali tenang dan tidak mengingat kejadian di rumah sakit yang membuat nenek Maria meninggal.


" Dara...bukan begitu maksud ku...aku tidak bermaksud seperti itu...Dara...tenangkan diri mu dulu, aku akan jelaskan...jangan seperti ini. "


Frans memegangi bahu Sandara dan mencoba untuk membuat Sandara tenang. Namun usahanya sia-sia, Sandara pun menjadi sangat histeris...tangis nya semakin pecah. Sandara masih memegangi kepalanya, lalu tiba-tiba saja Sandara mulai terlihat kesakitan dan sulit untuk berbicara.


" Dara...kau baik-baik saja? Dara? Ada apa dengan mu? " Tanya Frans yang masih memegangi tubuh Sandara, lalu tiba-tiba saja...


Sandara memejamkan matanya, ia jatuh pingsan di pelukan Frans. Frans pun langsung mengangkat tubuh Sandara dan membawa Sandara ke mobil nya.


Frans membawa Sandara ke rumah sakit, lalu ia memeriksakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Sandara. Dan setelah dokter memeriksa keadaan Sandara, dokter tersebut memberitahu Frans apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Sandara seperti itu.


" Maaf tuan, ini adalah salah satu efek samping akibat benturan di kepala dan bagian tubuh nona Sandara. Beberapa saraf nona Sandara belum sepenuh nya pulih, maka dari itu kemarin kami mengusulkan untuk menjalani terapi. Namun ini benar-benar tidak terduga...nona Sandara mengalami syok yang berlebih sehingga memori ataupun ingatan dari pada nona Sandara bisa saja hilang. Atau mungkin saat nona Sandara sadar nanti, kemungkinan besar nona Sandara akan mengalami kebisuan. " Jelas dokter tersebut dengan sangat rinci.


Frans yang terkejut hanya bisa menutupi mulut nya dengan tangannya. Ia benar-benar amat sangat merasa bersalah atas apa yang menimpa Sandara saat ini.


Frans sama sekali tidak membayangkan dampak yang terjadi akibat kata-kata nya itu. Frans begitu menyesali segala nya, dan kemudian dengan hati yang sudah hancur berkeping-keping, Frans mencoba menghubungi Berlin dan memberitahu Berlin keadaan Sandara saat ini.


*****


Di tempat lain...


Berlin sudah sampai di kediaman Saw, lalu dengan penuh kemarahan Berlin mendobrak pintu kamar Remon. Remon yang sedang menikmati secangkir kopi hangat nya itu pun sampai terkejut dan menumpahkan sedikit kopi nya itu.

__ADS_1


" Berlin!! Ada apa dengan mu?? Kenapa kau menjadi tidak sopan seperti ini kepada ayah mu?? " Tanya Remon dengan nada suara yang sudah meninggi.


" Apa yang sedang kau rencanakan? Suruh para anak buah mu untuk menjauh dari rumah ku. Atau kalau tidak, aku tidak akan tinggal diam. " Ancam Berlin pada Remon.


" Sikap mu sangat berlebihan Berlin, anak buah ku tidak akan berbuat macam-macam. Mereka hanya aku perintahkan untuk menjaga rumah mu. " Ujar Remon lalu kembali meminum secangkir kopi nya itu.


" Baiklah...jika itu mau mu...lihatlah...besok kau tidak akan melihat para anak buah mu itu. " Berlin pun kembali mengancam Remon.


" Baiklah...aku akan memerintahkan mereka untuk menjauhi rumah mu. " Ujar Remon yang kemudian menyerah pada Berlin.


Lalu setelah mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Berlin pun pergi meninggalkan Remon. Dan saat dirinya ingin menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba saja Berlin mendapat telfon dari Frans.


" Halo Frans? Ada apa kau menelfon ku? Sandara baik-baik saja kan? "


" Tuan...maaf tuan...saya sudah lalai...ini salah saya...nona Sandara saat ini sedang berada di rumah sakit. Kondisi nya memburuk tuan. "


" Nona Sandara berada di rumah sakit saat ini tuan. "


Berlin pun langsung menutup telfonnya dan kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal menuju rumah sakit dimana Sandara di rawat saat ini.


Setelah sampai rumah sakit, Berlin langsung mencari Frans. Dan saat ia sudah menemukan Frans, Berlin langsung menghampiri Frans dan meraih kerah baju Frans.


" Apa yang terjadi? " Tanya Berlin masih mencengkram kerah baju Frans.


" Maaf tuan...ini salah saya tuan, saya lalai dalam menjaga nona Sandara. " Jawab Frans sambil menundukkan kepalanya.


" Aku tidak butuh kata maaf mu, aku bertanya kepada mu, apa yang terjadi? "

__ADS_1


Frans tidak menjawab Berlin dan masih tertunduk di hadapan Berlin. Lalu kemudian Berlin melepaskan cengkeraman nya dan meminta Frans untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sampai Sandara harus di bawa ke rumah sakit.


" Aku harus memberitahu Berlin yang sebenarnya, dia harus tau penyebab kematian nenek nya. Jika dia mengetahui nya mungkin saja Berlin bisa memaafkan Sandara. " Batin Frans.



" Tuan...sebenarnya...saya membicarakan perihal meninggal nya mendiang nyonya Maria. Dan saya tidak sengaja memberitahu kebenaran di balik kematian nyonya Maria kepada nona Sandara. " Jelas Frans yang sedikit gugup di hadapan Berlin.


" Apa maksudmu? Kebenaran soal apa? Apa ada yang aku tidak ketahui selama ini? " Tanya Berlin yang mulai sangat penasaran dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Frans.


" Sebenarnya...sebelum nyonya Maria meninggal, beliau mengetahui jika nona Sandara hamil dan itu anak dari tuan Remon. Lalu nyonya Maria terkejut dan meminta penjelasan dari nona Sandara. Tetapi saat nona Sandara menjelaskan semua nya dan memberitahu kebenarannya kepada nyonya Maria, tiba-tiba saja nyonya Maria mengalami serangan jantung dan tekanan darah nya menjadi tinggi. Lalu setelah itu nyonya Maria sudah kehilangan nyawa nya. " Jelas Frans yang berharap Berlin akan memaklumi Sandara dan bisa memaafkan Sandara.


" Apa kalian sengaja menyembunyikan kebenaran ini dari ku? Apa bibi Sarah dan Devan juga mengetahuinya? " Tanya Berlin yang kemudian sudah mulai terlihat marah dan juga emosi.


" Iya tuan, kami sangat mengkhawatirkan nona Sandara saat itu, dan saat itu keadaan nona Sandara juga benar-benar sangat mengkhawatirkan tuan. "


" Kenapa kalian harus menyembunyikan hal sebesar ini?? Dan Sandara...kenapa dia harus memberitahu segalanya kepada nenek. Aku sudah memperingatkannya...kenapa dia begitu bodoh. " Ujar Berlin lalu Berlin mengayunkan tinju nya dan mendaratkan kepalan tinjunya itu pada dinding di samping nya.


" Tuan...tolong maklumi nona Sandara, saat itu nona Sandara benar-benar sedang tidak stabil. Saat itu pertama kalinya nona Sandara mencoba untuk bunuh diri. Dan saya yakin, nona Sandara tidak ingin hal ini terjadi. " Ujar Frans yang tidak ingin melihat Berlin menyalahkan Sandara.



Berlin hanya terdiam sambil menjernihkan pikirannya. Ia benar-benar tidak tau harus berbuat seperti apa sekarang. Perasaannya sedikit berubah kepada Sandara, kini rasa kecewanya sudah mengalahkan kepeduliannya terhadap Sandara.


Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️


Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️


__ADS_2