Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#56


__ADS_3

...****************...


Sedangkan di tempat lain...


Devan pun akhirnya menghentikan pencarian nya, ia kembali ke mobil nya dan kemudian segera menemui Berlin. Namun, tiba-tiba saja di tengah perjalanan menuju kantor. Devan mengurungkan niatnya untuk memberitahu Berlin mengenai Kaira yang terlihat begitu mirip dengan Sandara.


Devan ingin menyelidiki sendiri, ia ingin memberi Berlin kejutan nanti nya jika ia dapat menemukan Kaira.


" Bahkan suaranya sangat mirip dengan Sandara..." Gumam Devan yang terus saja mengingat pertemuan dan percakapan yang dilakukannya tadi dengan Kaira di mall.


Dan Devan pun memutar arah lalu kembali ke rumah nya, Devan juga sudah menghubungi sekretaris pribadinya, ia meminta sekretaris nya untuk mencari seseorang yang bernama Kaira dan Devan juga sudah mengirimkan foto Sandara kepada sekretaris nya itu.


Lalu keesokan hari nya, seperti biasanya, rutinitas Devan di pagi hari selalu saja berkaitan dengan Berlin. Devan masuk ke dalam ruangan Berlin dan melihat ke arah Berlin yang saat ini sudah terlihat rapih dan kini sedang duduk di kursi kerja nya.


" Kalau pagi-pagi kau sudah terlihat rapih, itu tandanya semalam kau tidak meminum minuman mu. " Celetuk Devan lalu duduk di depan Berlin.


" Ya...semalam sedikit terasa lelah, jadi aku bisa tidur lebih awal. " Ujar Berlin sambil melihat-lihat beberapa proposal di hadapannya.



" Berlin, sepertinya kau memang harus memiliki sekretaris, aku akan mencarikan sekretaris untuk mu. "


" Untuk apa? Aku tidak membutuhkannya, yang aku butuhkan hanyalah kau, dan kau juga sudah memiliki sekretaris. " Tolak Berlin yang tidak ingin ada orang asing yang berada di sampingnya.


" Pekerjaan ku sudah terlalu banyak, dan aku tidak bisa terus membantu mu, apalagi dalam hal-hal yang mendesak, dan sekretaris ku juga sudah banyak aku berikan pekerjaan yang menumpuk. Ayolah...cobalah sekali ini saja, jika kau tidak menyukainya, kau boleh memecatnya nanti. Bagaimana? " Bujuk Devan yang kini memiliki sebuah rencana besar untuk Berlin.


" Biar aku pertimbangkan..."


" Oke...besok kau sudah harus memberikan jawaban. Bagaiman? " Ujar Devan yang kini membuat kesepakatan dengan Berlin.

__ADS_1


Berlin pun mengangguk dan menyetujui apa yang barusan di katakan oleh Devan. Lalu Devan beranjak dari duduk nya dan pergi untuk keluar dari ruangan Berlin. Ia kembali mengerjakan pekerjaannya dan juga memberi beberapa pekerjaan kepada sekretaris pribadi nya.


Devan menghampiri sekretaris pribadi nya lalu menanyakan tentang bagaimana perkembangan tentang pencarian wanita yang bernama Kaira.


" Ariana...bagaimana? Apa kau sudah menemukan petunjuk soal wanita yang bernama Kaira? " Tanya Devan sambil sedikit berbisik kepada Ariana.


" Maaf tuan, saya masih dalam pencarian...beberapa rekan saya sedang mencari keberadaan wanita tersebut. Tuan harap bersabar sebentar lagi. " Jawab Ariana dengan suara yang memang cukup tegas sebagai seorang sekretaris pribadi Devan.


" Baiklah, cepat kau kabari aku jika kau sudah menemukannya. " Devan pun berpesan kepada Ariana lalu ia kembali berjalan menuju ruangan pribadinya.


......................


Rumah Frans...


Pagi ini Kaira berjalan ke arah dapur, ia melihat keadaan dapur yang masih terlihat kosong, dan Kaira juga membuka tudung saji, namun ia juga tidak menemukan sedikit makanan pun di dalam nya.


" Apa ibu tidak memasak pagi ini? " Gumam Kaira lalu kembali menutup tudung saji tersebut.


" IBU!!! " Teriak Kaira lalu berlari ke arah Natara.


Kaira langsung memangku kepala Natara dan menepuk pipi Natara perlahan. Ia mencoba untuk menyadarkan Natara, namun semua sia-sia.


" Frans..." Panggil Kaira dengan nada suara yang sudah cukup tinggi.


Frans pun dengan segera berjalan menuju suara yang di keluarkan oleh Kaira tersebut, setelah Frans masuk ke dalam kamar Natara, Frans juga terlihat sangat terkejut dengan apa yang kini di lihat nya.


Frans langsung mengangkat tubuh Natara dan membaringkan Natara di atas tempat tidur nya. Lalu Frans juga dengan segera menghubungi dokter yang sudah sering memeriksa keadaan ibu nya tersebut.


Tidak lama setelah Frans menghubungi dokter tersebut, dokter itu pun datang dan memeriksa keadaan Natara. Lalu, setelah selesai memeriksa, dokter tersebut menghampiri Frans dan memberitahukan kepada Frans jika ibu nya mengalami stroke ringan.

__ADS_1


Frans sangat terkejut, lalu Frans bertanya kepada dokter tersebut tentang apa yang harus dilakukannya, dan dokter tersebut hanya menyarankan untuk selalu menjaga makanan yang di konsumsi oleh Natara, karena saat ini gula darah Natara juga cukup tinggi.


Dokter tersebut juga memberitahu Frans jika beberapa bulan yang lalu saat ibu nya memeriksa kesehatannya, gula darah ibu nya juga sudah tinggi, dan dokter tersebut juga sudah meresepkan obat untuk di tebus oleh Natara, namun Natara malah tidak menebus obat nya itu.



Frans pun menghela nafas panjang, kini ibu nya harus selalu rutin memeriksakan kondisinya ke dokter, dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sedangkan pekerjaan Frans juga tidak terlalu menghasilkan banyak uang.


Frans pun menjadi sedikit khawatir dengan keadaan ekonomi nya saat ini. Obat yang harus di beli nya pun tidak main-main harganya. Kini Frans berpikir jika dirinya juga harus memiliki beberapa pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhannya dan dua wanita yang sangat di cintai nya itu.


Lalu setelah itu, dokter itu pun meninggalkan rumah Frans dan memberikan Frans beberapa resep obat yang harus di tebus nya. Dan Frans juga langsung menebus resep-resep obat yang sudah diresepkan oleh dokter yang memeriksa keadaan Natara tersebut.


Tidak lama kemudian Frans sudah kembali dengan beberapa obat di tangan nya. Natara juga sudah mulai sadar, lalu Frans memberikan obat tersebut kepda Natara.


" Frans...jangan terlalu memaksakan diri mu, ibu tau obat ini tidak murah...ibu tidak apa-apa, ibu akan mencari alternatif dan mencoba obat-obatan herbal. " Ujar Natara yang sebenarnya sudah mengetahui tentang penyakit yang di deritanya itu, selama ini ia menyembunyikan penyakitnya itu dari Frans.


Natara hanya tidak ingin menjadi beban untuk putra nya. Dokter juga sudah berkali-kali meminta Natara untuk mengonsumsi obat yang sudah diresepkan, tetapi Natara tidak pernah menebus obat-obat nya itu.


" Kenapa ibu tidak memberitahuku kalau ibu punya diabetes? " Tanya Frans sambil menatap ibu nya dengan penuh kesedihan.


" Tidak apa-apa, ibu hanya tidak ingin membuatmu khawatir Frans. " Jawab Natara lalu membelai pipi Frans dengan lembut.


" Apa ibu takut soal biaya untuk pengobatan ibu? " Tanya Frans lagi, yang secara tidak sengaja Kaira yang kini berada di depan pintu kamar Natara itu pun mendengarkan percakapan Frans dan juga Natara.


" Jangan khawatir kan ibu, kau harus terus merawat Kaira sampai dia benar-benar sembuh, ibu tidak apa-apa Frans...ibu bisa mencari obat-obatan herbal. "


" Ibu hanya perlu menjaga kesehatan ibu, tentang biaya pengobatan, aku bisa membiayai pengobatan ibu dan juga Kaira, ibu tidak perlu khawatir. " Ujar Frans yang sebenarnya ia juga cukup bingung dengan situasi nya saat ini.


Kaira hanya bisa mendengarkan dari balik pintu kamar Natara, Kaira juga merasa bersalah kepada Frans, karena dirinya berpikir jika selama ini ia hanya bisa menyusahkan Frans.

__ADS_1



__ADS_2