Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#54


__ADS_3

...****************...


" Kenapa wajah mu selalu muncul? Kenapa aku sangat merindukan mu?...dan kenapa semua ini masih terasa menyakitkan bagi ku? Dara...kenapa kau pergi seperti itu? Kenapa kau meninggalkan luka yang begitu dalam di hati ku? Aku merindukan mu..." Gumam Berlin sambil terus meneguk minuman keras yang sudah berserakan di meja nya.


Berlin terus saja memanggil-manggil Sandara, dia sudah tidak sadar dan sudah dibawah pengaruh alkohol. Berlin terus saja melihat bayangan wajah Sandara di hadapannya, hingga ia benar-benar sudah tidak sadarkan diri dan pingsan di tempat.


Dan keesokan harinya, seperti biasa...Devan sengaja berangkat lebih awal untuk memastikan keadaan Berlin. Dan sesuai dugaannya, Berlin sudah tergeletak di lantai dengan botol minuman yang sudah berserakan di mana-mana.


Devan menyeret tubuh Berlin dan memindahkannya di sofa. Devan juga membawakan beberapa baju ganti untuk Berlin. Sebelum ke kantor nya Devan sengaja mampir ke rumah Berlin dan melihat apakah Berlin pulang ke rumahnya atau tidak.


Setelah mengetahui jika Berlin tidak berada di rumahnya, Devan langsung membawakan beberapa pakaian ganti untuk Berlin. Setiap hari itu sudah seperti rutinitas bagi Devan.


Devan membereskan semua botol-botol yang sudah berserakan lalu merapikan ruangan Berlin. Setelah itu Devan membangunkan Berlin dan meminta Berlin untuk segera membersihkan tubuh nya dan mengganti pakaiannya sebelum pegawai nya datang dan melihatnya dalam kondisi yang sangat buruk seperti ini.


" Berlin...bangunlah...bersihkan tubuh mu dan ganti pakaianmu...cepat...sudah jam delapan. " Ujar Devan sambil menggoyangkan tubuh Berlin.


Berlin pun membuka matanya lalu duduk sambil memegangi kepala nya yang terasa sakit karena ia semalam terlalu banyak meminum minuman keras.


" Ahhh kepalaku..." Gumam Berlin yang masih saja memegangi kepala nya.


" Kenapa kau selalu seperti ini? Apa kau tidak lelah? Cepatlah bersihkan tubuh mu, nanti aku pesankan sup pereda mabuk untuk mu. " Ujar Devan yang langsung memesankan sup untuk Berlin.


Dan Berlin pun beranjak dari duduk nya, ia berjalan menuju kamar mandi pribadinya lalu membersihkan tubuh nya dan berganti pakaian.


Setelah ia selesai, Berlin keluar dari kamar mandi dan sup pereda mabuk yang sudah di pesankan oleh Devan pun sudah menantinya.


" Kau yang terbaik. " Ujar Berlin sambil memberikan dua jempol nya kepada Devan.


" Aku tau...tapi kau yang terburuk..." Gerutu Devan sambil menatap Berlin kesal.


Berlin hanya tersenyum simpul lalu memakan sup pereda mabuk yang sudah disediakan oleh Devan tersebut.


" Untung saja aku selalu di sisi mu, jika tidak? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib mu. " Ujar Devan seraya menyombongkan dirinya di depan Berlin.


Berlin hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Devan yang seratus persen benar itu. Berlin amat sangat berterimakasih kepada Devan, karena berkat Devan dirinya bisa sedikit mengurangi kesedihannya dan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang selalu menumpuk.



Dan Devan juga selalu di sisi Berlin dan tidak pernah sedikitpun berpaling dari Berlin. Berlin selalu merasa beruntung karena memiliki Devan sebagai saudara nya.

__ADS_1


" Apa kau tidak ingin berterimakasih kepada ku? " Tanya Devan yang mencoba menggoda Berlin dan menghibur Berlin.


" Thanks..." Ujar Berlin tanpa menatap Devan.


" Apa itu terdengar tulus bagimu? " Tanya Devan lagi, laku kemudian Devan memeluk bahu Berlin.


" Apa yang kau lakukan? Jangan bertindak seperti itu, menjijikkan. " Ujar Berlin yang mulai bergidik karena ulah Devan.


Lalu Devan pun tertawa, ia sengaja karena Devan tau kalau Berlin pasti masih sering memikirkan Sandara. Namun selama ini Devan tidak pernah membahasnya, karena Devan tidak ingin jika Berlin terus berlarut dalam kesedihannya.


" Yasudah...hari ini aku harus menemui investor, kau kerjakan hal lain. Aku pergi dulu..." Pamit Devan lalu meninggalkan ruangan Berlin.


......................


Di tempat lain...


Hari ini Frans libur dan mengosongkan jadwalnya khusus untuk menuruti keinginan Kaira. Mereka berdua pun berkeliling dan mengunjungi beberapa pusat perbelanjaan.


Kaira terlihat sangat antusias, dan kemudian ia meminta Frans untuk membawa nya ke tempat yang ingin dikunjunginya setelah masuk ke dalam mall.


" Frans...aku ingin melihat layar besar dan menonton film di layar itu. " Pinta Kaira dengan wajah yang sudah sangat menggemaskan menurut Frans.




" Ah...iya...bioskop...iya Frans...aku ingin pergi ke bioskop..."


Dan kemudian Frans menuruti permintaan Kaira. Lalu mereka pun pergi ke bioskop untuk menonton film yang ingin di tonton Kaira.


Setelah menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam, akhirnya mereka pun keluar dari bioskop. Kaira terlihat sangat menikmati film yang di tonton nya.


" Frans...besok-besok kalau kau libur lagi, aku ingin melihat film seperti tadi. Sangat menyenangkan..." Ujar Kaira sambil merangkul lengan tangan Frans.


" Baiklah...Kaira kau duduk di sini dulu ya...aku ke toilet sebentar, jangan kemana-mana. " Ujar Frans yang tiba-tiba saja perutnya terasa mulas.


Kaira pun hanya mengangguk lalu duduk di sebuah kursi. Kaira melihat ke sekelilingnya sambil menikmati ice cream yang tadi di beli nya.


Dan di saat Kaira tengah asik memperhatikan orang-orang yang berjalan melewatinya. Tiba-tiba saja ada seorang pria yang menghampiri Kaira dan menatap Kaira dengan penuh rasa heran.

__ADS_1


" Dara?? " Panggil pria tersebut yang ternyata adalah Devan.


Kaira tidak menghiraukannya, ia masih sibuk dengan ice cream nya dan tidak memperhatikan Devan. Lalu Devan duduk di samping Kaira dan mencoba untuk mengobrol dengan Kaira.


" Permisi.. " Ujar Devan lirih, lalu Kaira menoleh ke arah Devan.


" Ya..." Jawab Kaira yang kini sudah melihat ke arah Devan.


" Kau sangat mirip dengan teman ku, kalau boleh tau siapa namamu? " Tanya Devan yang ingin memastikan identitas Kaira.


" Aku? Aku Kaira...siapa temanmu itu? Apa dia sangat mirip dengan ku? " Jawab Kaira lalu ia kembali bertanya kepada Devan.


" Namanya Sandara, Sandara Wang...apa kau ingin melihat fotonya? " Ujar Devan lalu ia mengeluarkan ponsel nya dan memperlihatkan foto Sandara kepada Kaira.


" Astaga!!! Kenapa wajahnya sama persis dengan ku? " Ujar Kaira yang begitu terkejut melihat foto Sandara yang sebenarnya adalah diri nya.


Dan ketika Kaira sedang serius menatap foto yang ada di ponsel Devan. Tiba-tiba saja ada panggilan masuk di ponsel Devan, Kaira dengan segera memberikan ponsel tersebut kepada Devan. Dan Devan pun mengangkat panggilan telfon tersebut.


Di saat Devan sedang mengangkat telfon, kebetulan sekali Frans sudah kembali dari toilet. Frans meraih tangan Kaira dan kemudian berjalan meninggalkan Devan yang sedang berbicara di telfon sambil membelakangi Kaira.


" Berlin? Aku yakin ini adalah keajaiban...kau harus segera datang kemari, ah tidak biar aku saja yang membawanya menemui mu. "


" Apa maksudmu? Siapa yang akan kau bawa menemui ku...?"


" Sebentar...kau harus mendengar suaranya. "


Lalu saat Devan menoleh, ternyata Kaira sudah tidak ada.


" Kemana perginya wanita itu? "


" Wanita? Siapa maksudmu? "


" Tidak, yasudah...aku tutup. "


Dan Devan mematikan panggilan telepon nya tersebut, Lalu Devan pun berkeliling dan mencoba mencari Kaira.


Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️


Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️


__ADS_2