
*****
Sudah satu minggu berlalu, namun Sandara belum juga terbangun dari koma nya. Dan sudah selama satu minggu juga Berlin menghabiskan waktu yang dimilikinya di rumah sakit.
Frans yang mengira Berlin tidak perduli dengan Sandara itupun tampak heran dengan perubahan sikap Berlin. Saat Sandara masih sadar dan belum koma, Berlin selalu saja memperlakukan Sandara semaunya.
Tapi, di saat kini Sandara tengah terbaring koma, Berlin seperti menyesali semua perbuatan yang sudah dilakukannya kepada Sandara.
" Berlin...bibi bawakan makanan, kau harus makan dengan teratur, jangan sampai kau juga nantinya jatuh sakit. " Ujar Sarah yang baru saja datang untuk membawakan Berlin sarapan.
Berlin hanya mengangguk lalu meraih kotak makanan yang di bawakan oleh Sarah untuk nya. Nafsu makan Berlin memang berkurang, tetapi Berlin sangat mementingkan kesehatannya, karena Berlin sangat memikirkan jika suatu saat Sandara siuman, dia harus selalu berada di samping Sandara.
Berlin selalu saja menyalahkan dirinya dengan apa yang terjadi kepada Sandara, ia bahkan mengancam ayahnya sendiri. Jika sampai terjadi apa-apa kepada Sandara, Berlin tidak akan segan-segan menghabisi Ayahnya.
Waktu terus berjalan, sudah berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan sudah berbulan-bulan Sandara belum juga Sadar. Dokter juga sudah mengusahakan segalanya, tapi Berlin tetap bersikeras tidak ingin melepas alat bantu pernafasan Sandara.
Berlin sangat yakin jika suatu hari nanti Sandara akan sadar dan kembali sehat seperti semula.
Seiring berjalannya waktu, rasa yang tumbuh di diri Berlin pun bertambah. Sandara kini menjadi prioritas utama baginya, Berlin juga rela mengeluarkan biaya berapapun hanya untuk kesembuhan Sandara.
Frans, Devan dan Sarah pun di buat takjub oleh perubahan sikap Berlin. Berlin tidak sedingin dulu, kini perasaannya jauh lebih lembut dari sebelum nya. Bahkan Berlin mulai memanggil Sarah dengan sebutan bibi.
*****
Siang ini hujan begitu deras, angin pun bertiup sangat kencang. Dedaunan pun berguguran satu persatu. Di jalanan pun menjadi macet karena ada pohon yang tumbang di tengah jalan.
Berlin sesekali melihat jam di tangannya, ia baru saja selesai meeting dan ingin segera bergegas ke rumah sakit. Namun kemacetan semakin parah. Dan sudah hampir satu setengah jam Berlin terjebak macet.
Lalu, setelah melewati kemacetan yang begitu panjang dan melelahkan, akhirnya Berlin pun sampai di rumah sakit. Berlin membawa beberapa baju ganti dan kemudian membersihkan tubuh nya di kamar mandi yang berada di dalam ruang perawatan Sandara.
Kemudian, setelah selesai membersihkan tubuh nya, seperti biasa...Berlin duduk di kursi yang berada di samping ranjang Sandara, Berlin membelai rambut Sandara, lalu mengelap tangan hingga wajah Sandara dengan handuk basah.
__ADS_1
Dan di saat Berlin ingin membersihkan telapak tangan Sandara, tiba-tiba saja jari telunjuk Sandara bergerak. Berlin sangat terkejut, lalu Berlin langsung menemui dokter dan meminta dokter tersebut untuk segera ke ruang perawatan Sandara.
Dokter tersebut memeriksa kelopak mata Sandara dan juga memastikan tanda vital Sandara. Lalu dokter tersebut memberitahu Berlin bahwa Sandara sudah mulai mengalami banyak kemajuan. Dan kemungkinan besar Sandara bisa segera siuman dan sadar.
Berlin terlihat sangat lega sampai ia tidak sadar sudah meneteskan air matanya. Dan dua hari setelahnya, akhirnya Sandara membuka matanya kembali.
" Dara..." Ujar Berlin lalu membelai lembut Sandara.
Sandara hanya terdiam dan terlihat bingung, kemudian ia melihat ke sekelilingnya. Sandara melihat ke arah Sarah, Devan dan juga Frans secara bergantian.
" Nona Sandara..." Panggil dokter yang menangani Sandara.
Kemudian Sandara menoleh ke arah dokter tersebut. Dokter itu memeriksa Sandara dan menanyakan Sandara beberapa hal, kemudian saat dokter itu memeriksa kaki Sandara, ternyata kedua kaki Sandara tidak bereaksi sama sekali.
" Nona...coba gerakkan kaki nona lagi. " Pinta dokter tersebut, namun lagi-lagi kaki Sandara sama sekali tidak bergerak.
" Nona, apa kau bisa merasakannya? " Tanya dokter itu lagi sambil memukul-mukul kaki Sandara dengan sebuah alat.
Setelah memeriksa kondisi Sandara, dokter tersebut menjelaskan kepada Berlin, bahwa kemungkinan Sandara akan mengalami kelumpuhan, namun dokter tersebut juga mengusulkan untuk Sandara supaya rajin melakukan terapi, dan ada kemungkinan besar jika Sandara rajin melakukan terapi, ia bisa berjalan kembali seperti semula.
Berlin cukup lega karena Sandara sudah sadar dari koma nya, namun ia juga sangat khawatir karena Sandara tidak bisa berjalan dan harus melakukan terapi. Berlin masih sangat mencemaskan keadaan mental Sandara.
Lalu kemudian Berlin mendekati Sandara, ia mencium kening Sandara dan menggenggam tangan Sandara dengan lembut. Sandara terlihat bingung dan juga merasa asing dengan perlakuan yang di berikan oleh Berlin.
" Ad..a ap..a de..ngan..mu? " Tanya Sandara yang masih sulit untuk berbicara karena beberapa saraf nya masih belum sepenuhnya pulih.
" Jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi...aku tidak akan membiarkanmu menderita mulai saat ini. Kau harus pulih dan kembali menjalani kehidupan yang normal seperti wanita-wanita lain di luar sana. " Jawab Berlin lalu memberikan senyuman lebar pada Sandara.
Sandara hanya bisa menatap Berlin datar, ia bahkan tidak tau mengapa Berlin bisa berubah sikapnya seratus persen kepada Sandara.
Dan setelah satu minggu pemulihan, Sandara pun sudah bisa di bawa pulang. Sandara kembali ke rumah singgah yang kini sudah menjadi rumah utama Berlin.
__ADS_1
Selama Sandara di rumah sakit, Berlin sengaja meminta Frans untuk merenovasi rumahnya dan membuatnya terlihat berbeda. Berlin tidak ingin Sandara mengingat kejadian di saat dirinya merasa lelah dan ingin menyerah di rumah itu.
Sandara melihat sekeliling rumah nya dan kemudian ia menatap Berlin dan bertanya kepada Berlin.
" Berlin, rumah ini? Kenapa rumah ini tampak berbeda? " Tanya Sandara yang masih cukup bingung dengan keadaan yang ada.
" Ya...aku sudah merenovasi rumah ini. " Ujar Berlin lalu kembali tersenyum kepada Sandara.
Lalu Berlin mendorong kursi roda Sandara dan saat ingin menaiki tangga, Berlin menggendong Sandara sampai ia masuk ke dalam kamar nya. Dan kemudian Berlin membaringkan tubuh Sandara di atas tempat tidur nya.
" Istirahatlah, aku akan membawakan makan malam untuk mu. " Ujar Berlin dengan lembut, lalu saat Berlin ingin pergi, Sandara meraih tangan Berlin, dan Berlin menoleh ke arah Sandara.
" Ada apa? " Tanya Berlin masih dengan wajah nya yang kini terlihat lembut dan pandangan matanya juga begitu hangat.
" Ada apa dengan mu? " Sandara terus saja menanyakan hal yang sama selama seminggu ini.
Tetapi lagi-lagi Berlin tidak menjawabnya, dan Berlin hanya tersenyum kepada Sandara.
" Jangan seperti ini...bersikaplah seperti biasa, aku tidak ingin mendapatkan belas kasihan darimu. Seharusnya kau membiarkan ku mati saja, lihat sekarang? Aku terlihat semakin menyedihkan, dan itu semua karena mu...karena kau membiarkan ku hidup. " Ujar Sandara sambil menatap Berlin masih dengan penuh amarah dan juga kekesalan.
Berlin terdiam, dan wajahnya mulai berubah, senyuman hangatnya itu tiba-tiba saja pudar. Tatapan di wajah Berlin pun tampak begitu menyeramkan dalam sekejap saja.
Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️😘
Klik tombol favorit juga ya ❤️😘❤️
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️