
*****
" Berlin...kenapa kau hanya diam saja? Cepat bawa ayah ku kemari. "
Sandara semakin histeris, lalu kemudian ia melepas selang infus yang ada di tangannya dengan kasar, dan kemudian Sandara beranjak dari tempat tidur nya.
Berlin dengan segera menarik tangan Sandara, sedangkan Devan dan Frans, mereka ingin menghampiri Sandara, namun langkahnya terhenti karena Berlin sudah lebih dulu menarik tangan Sandara.
" Apa yang sedang kau lakukan? KENAPA KAU KELUAR DARI RUMAH TANPA IZIN KU??!! SIAPA YANG MENYURUHMU TERLUKA??!! "
Berlin pun meninggikan suara nya hingga tiba-tiba saja Sandara meringkuk dan menutupi kedua telinganya.
" Berlin...kenapa kau berteriak? "
Devan dengan segera menghampiri Berlin dan meraih bahu Sandara, lalu Devan membantu Sandara untuk kembali ke ranjang nya.
Sandara hanya bisa terpaku, ia terdiam sejenak...lalu tiba-tiba saja Sandara mulai menangis kembali.
" Ayah...apa yang harus aku lakukan? Arrrgghhhh...!!!! Kenapa kau memberi ku ponsel? Kenapa Berlin? Ini semua karena mu!! Andai saja aku tidak menerima ponsel itu dari mu, andai saja..."
Sandara menangis sambil memegangi kepalanya, ia mulai mengingat apa yang sudah terjadi. Dan ia sadar, kalau ayah nya sudah meninggal karena Remon sudah membunuh ayah nya tepat di depan mata nya.
Saat Berlin mendengar apa yang di lontarkan Sandara kepadanya, Berlin teringat bahwa Dion sempat meminta nomor ponsel Sandara.
" Apa yang terjadi? Ayah mu sempat meminta nomor mu, apa yang sebenarnya terjadi? "
Berlin pun bertanya kepada Sandara dengan tatapan mata yang tajam.
Sandara hanya tertunduk dan menangis terisak, hati nya seperti hancur berkeping-keping. Ia tak sanggup untuk menceritakan apa yang di alami nya. Sandara *******-***** rambut nya, ia terlihat amat sangat tertekan dan juga frustasi.
Kemudian, Berlin yang menyadari bahwa Sandara tidak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini karena masih ada Devan dan juga Frans di ruangan itupun langsung meminta Devan dan juga Frans untuk meninggalkan Berlin dan juga Sandara di dalam ruangan itu berdua saja.
Devan dan juga Frans pun menuruti permintaan Berlin tersebut. Lalu mereka berdua meninggalkan kamar rawat Sandara, dan membiarkan Berlin berbicara empat mata dengan Sandara.
" Mereka sudah pergi, kau boleh menceritakan semuanya pada ku. "
__ADS_1
Kemudian Sandara mendongakkan kepalanya dan memastikan bahwa Devan dan juga Frans tidak ada di ruangan itu.
" Remon...dia sudah membunuh ayah ku...di...dia...dia sudah membunuh ayah ku...di...dia, dia...dia menembak kepala ayah ku...sam...pai...mati...dia membunuh ayah...ku..."
Sandara berkata sambil terus terisak, dada nya terasa sesak. Bayang-bayang wajah terakhir ayahnya pun terekam jelas dalam ingatannya.
Berlin terdiam, Berlin sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Berlin tidak bisa berbuat banyak, apa yang di lakukan ayah nya membuat diri nya sangat malu. Berlin bahkan tidak tau harus berbuat apa kepada ayah nya itu.
" Ber...lin...to...long...carikan jasad ayah...ku..."
Pinta Sandara masih dengan isak tangis nya...
Berlin masih terdiam, ia mengepalkan kedua telapak tangannya. Kemudian ia berlalu pergi begitu saja. Devan yang melihat Berlin keluar dari kamar rawat Sandara itu pun langsung menghampiri Berlin yang saat ini sudah tergesa-gesa ingin menemui Remon.
" Kau mau kemana? Bagaimana dengan Sandara? "
Tanya Devan yang menghentikan langkah kaki Berlin tersebut.
" Aku ada perlu..."
Saat Devan ingin masuk ke dalam kamar rawat Sandara, Frans yang penasaran dengan sikap Berlin itu pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Devan.
" Tuan Devan..."
" Ya..."
" Maaf jika saya lancang, tetapi...kalau boleh saya tau, ada apa dengan sikap tuan Berlin kepada nona Dara? Kenapa tuan Berlin begitu bersikap dingin? "
Pertanyaan Frans itu membuat Devan menghela nafas nya.
" Ya...mereka hanya menikah, sebatas menikah...itu saja, kau tidak perlu tau banyak hal. Lagi pula ini bukan urusan mu, lebih baik kau pulang, biar aku yang menjaga Dara. "
Devan hanya memberikan penjelasan yang sulit di mengerti oleh Frans. Kemudian Frans mengatakan sesuatu yang tidak terduga kepada Devan.
" Tuan...apa tuan menyukai nona Dara? "
__ADS_1
Pertanyaan Frans cukup menohok, sehingga Devan sangat terkejut.
" Apa yang sedang kau bicarakan? Dara sudah seperti adikku, bagaimana aku bisa menyukainya sebagai wanita? "
Pernyataan yang di berikan oleh Devan cukup membuat Frans lega. Frans merasa masih memiliki kesempatan untuk merebut hati Sandara. Walau ia tau, kalau Sandara adalah istri dari tuan nya, namun Frans tidak bisa melepaskan Sandara begitu saja. Terlebih lagi, saat ini ia tau bahwa Berlin tidak mencintai Sandara.
" Maaf tuan, saya hanya penasaran...karena sepertinya tuan Devan sangat perduli sekali kepada nona Dara. Kalau begitu saya pamit.."
Frans pun langsung meninggalkan Devan yang masih berdiri di depan pintu kamar rawat Sandara itu.
" Bagaimana aku tidak perduli kepadanya, dia adalah adik sambung ku, Dara adalah putri dari ibu sambung ku. Dan sudah jelas, pasti aku amat sangat begitu perduli kepadanya. " Batin Devan.
Setelah itu Devan kembali masuk ke dalam kamar rawat Sandara. Ia melihat Sandara masih duduk meringkuk, dan terlihat dengan jelas ada darah di tangan nya.
" Dara...tangan mu... sebentar aku panggil kan perawat. "
Devan pun segera memanggil perawat untuk segera memasang selang infus yang tadi sempat di lepas paksa oleh Sandara sampai tangannya berdarah.
Setelah perawat memasangkan kembali infus nya, Sandara pun berbaring. Devan masih setia duduk di samping ranjang nya. Ia terus memperhatikan Sandara. Devan ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun ia takut jika Sandara merasa tidak nyaman nanti nya dan akhirnya Devan tidak bisa berkata apa-apa saat ini.
*****
Di tempat lain...
Frans sangat ingin tau apa yang terjadi kepada Sandara hingga Sandara menjadi seperti itu. Kemudian ia menghubungi Berlin dan melacak nomor Berlin. Dan setelah itu Frans mengikuti Berlin secara diam-diam.
Dan ternyata...Berlin kembali ke kediaman Saw, Berlin sengaja kembali kekediaman Saw, dan ia bersedia menunggu Remon yang saat ini masih tidak tau dimana keberadaannya itu.
Sudah hampir seratus kali Berlin menghubungi Remon, tetapi Remon tidak mengangkat nya. Lalu kemudian saat Berlin sedang menunggu Remon, tiba-tiba saja asisten pribadi Remon datang ke ke kediaman Saw.
Saat asisten Remon itu masuk ke dalam kediaman Saw, asisten Remon itu tidak melihat Berlin, dan Berlin pun mengendap-endap mengikuti nya. Asisten Remon itu masuk ke dalam kamar Berlin. Lalu Berlin menunggu asisten itu keluar dari kamarnya. Berlin berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Jangan lupa klik like, comment and vote ya...
Dan klik tombol favorit juga ya βΊοΈπ
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya πβΊοΈ