
*****
Dan Berlin pun segera membawa Sandara ke sebuah restoran mewah. Sandara sedikit heran dengan Berlin, karena tidak biasa nya Berlin membawa Sandara ke tempat sebagus restoran yang di datanginya saat ini.
" Berlin? Ada apa dengan mu? " Tanya Sandara yang kini masih terheran-heran karena Berlin membawanya ke sebuah restoran mewah.
" Apa kau ingin langsung pulang? "
" Ah, tentu saja tidak...baiklah aku tidak akan bertanya lagi padamu. "
Dan mereka duduk lalu memesan berbagai macam makanan. Sandara sangat tergiur melihat makanan yang sudah di sajikan untuk nya dan juga Berlin.
" Waw...seperti nya sangat lezat..." Ujar Sandara yang terlihat senang dengan jamuan di restoran tersebut.
Berlin hanya menatap Sandara, lalu tanpa Sadar Berlin tersenyum kecil sambil menatap Sandara. Berlin terlihat gemas melihat tingkah Sandara yang begitu polos dan berbuat sesuai keinginannya itu.
Dan kemudian Sandara yang sudah sangat tidak sabar menyantap makanannya itu pun langsung melahap beberapa makanan yang sudah berada di hadapannya itu.
" Makanlah perlahan..." Ujar Berlin yang kemudian juga memakan makanannya.
Sandara tidak menghiraukan Berlin, dan ia masih fokus pada makanan yang ada di hadapannya. Dan saat Sandara sedang asik menikmati makanannya, tiba-tiba saja...
Sandara menutup mulutnya, lalu ia merasa ada yang aneh pada dirinya. Dan perut Sandara juga terasa aneh.
" Ada apa? " Tanya Berlin yang melihat Sandara menutup mulutnya.
" Tidak, mungkin aku terlalu terburu-buru mengunyah makanan ku, dan sepertinya pencernaan ku terganggu. " Jawab Sandara, dan Sandara meletakkan garpu dan juga sendok nya, ia menghentikan aksi makannya itu.
Lalu, tanpa berkata apapun, Sandara beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju toilet. Tapi, prannggg!!!!!
Sandara bertabrakan dengan seorang pelayan, sehingga ia terjatuh, dan makanan serta minuman yang di bawa pelayan itu menimpa tubuh Sandara.
" Maaf nona..." Ujar pelayan tersebut meminta maaf, tapi Sandara tidak menghiraukan nya, Sandara langsung berdiri dan lari ke toilet.
Berlin yang saat itu ingin menghampiri Sandara pun menghentikan langkahnya dan kembali duduk.
Setelah sekitar dua puluh menit Sandara berada di dalam toilet, Sandara keluar dari toilet tersebut dengan pakaian yang sudah basah, dan wajah nya terlihat sedikit pucat.
__ADS_1
" Kau baik-baik saja? " Tanya Berlin lalu memegangi bahu Sandara.
Sandara hanya mengangguk, dan mereka pun keluar dari restoran tersebut. Berlin yang melihat Sandara sudah kedinginan itu akhirnya membawa Sandara ke sebuah butik.
" Gantilah baju mu, aku akan menunggu mu di luar. " Perintah Berlin, lalu Berlin memberi Sandara sebuah kartu debit.
Sandara masuk ke dalam butik tersebut dan membeli sebuah baju, lalu setelah ia sudah mengenakan baju tersebut. Sandara kembali masuk ke dalam mobil Berlin.
" Langsung pulang saja. " Ujar Sandara, kemudian menyandarkan kepala nya.
Berlin tidak berkata apa-apa dan langsung melajukan mobil nya. Lalu, setelah sampai rumah...saat Sandara dan Berlin tiba dan membuka pintu rumah nya...
SURPRISE....!!!!
HAPPY BIRTHDAY..!!!
Sandara masih berdiri mematung, ia bahkan lupa dengan hari ulang tahunnya. Tapi...kejutan ini membuat Sandara sangat terharu, lalu Sandara meneteskan air matanya.
Sandara tidak bisa membendung kebahagian yang sedang berlangsung ini. Nenek Maria dengan segera memeluk Sandara dan kembali mengucapkan selamat ulang tahun kepada Sandara.
" Happy birthday sayang...semoga sehat selalu, dan selalu di berkati. "
Sandara masih menangis, ia benar-benar sangat terharu. Selama ini Sandara bahkan lupa bagaimana rasanya merayakan ulang tahun di tengah keluarga nya.
Sandara bahkan tidak ingat kapan ia merayakan ulang tahun. Dan, Sarah pun ikut menangis melihat putrinya itu menangis dengan tersedu-sedu.
" Dara...selamat ulang tahun, semoga kebahagiaan selalu menyertai mu. " Ujar Sarah lalu saat Sarah ingin membelai rambut Sandara, tanpa sadar Sandara menepis tangan Sarah di depan nenek Maria.
Dan nenek Maria pun terlihat bingung dengan sikap Sandara pada Sarah.
" Dara...kenapa kau begitu pada Sarah? " Tanya nenek Maria dengan tatapan mata yang sudah kebingungan.
" Maaf nenek tapi aku.. "
Belum sempat Sandara menjelaskan, tiba-tiba saja perutnya kembali merasa tidak enak. Sandara berlari dengan terburu-buru menuju toilet.
" Ada apa Berlin? "
" Aku juga tidak tau nek, seperti nya Sandara terlalu banyak makan, jadi perutnya terasa penuh. " Jelas Berlin sambil menggelengkan kepalanya dan mengangkat sedikit bahu nya.
__ADS_1
Dan setelah sekitar sepuluh menit Sandara berada di dalam toilet, Sandara pun keluar dengan wajah yang sudah pucat.
" Sepertinya aku harus beristirahat, aku merasa pusing. Maaf semuanya...dan terimakasih untuk kejutan hari ini. " Ujar Sandara lirih dan masih memegangi perutnya serta kepalanya yang pusing.
Lalu ketika Sandara ingin berjalan meninggalkan ruang tamu yang sudah di hias dengan sedemikian rupa itu. Tiba-tiba saja pandangannya kabur, dan....
Brugghhh...
Sandara terjatuh tepat di hadapan Frans, lalu Frans pun dengan segera menghampiri dan mengangkat tubuh Sandara. Berlin juga sangat terkejut, lalu Frans membaringkan tubuh Sandara di sofa.
Semua terlihat panik dan juga khawatir, lalu Sarah memberikan minyak angin kepada Berlin, supaya Berlin mengoleskan minyak angin tersebut pada hidung Sandara.
Setelah Berlin mengoleskan minyak angin, Sandara membuka matanya perlahan lalu melihat ke sekeliling nya. Semua yang berada di situ sudah mengelilingi Sandara yang saat ini terbaring di sofa.
Dan Sandara mencoba untuk bangun dan duduk, kemudian Berlin dan Frans secara bersamaan memegangi bahu Sandara, Berlin pun menatap Frans kesal, dan akhirnya Frans yang paham arti tatapan mata Berlin itupun langsung melepaskan tangannya dari bahu Sandara.
" Maaf semua...aku jadi merusak acara yang sudah kalian siapkan. " Ujar Sandara masih dengan suara lirih nya.
" Tidak apa-apa sayang...nenek lebih khawatir dengan keadaan mu. "
" Iya Dara...kau sepertinya terserang flu, badan mu juga demam. " Ujar Devan lalu memegangi kening Sandara.
" Aku akan minum obat lalu beristirahat, perutku juga terasa mual...mungkin asam lambung ku naik. "
" Tunggu sebentar Dara...nenek pikir kau mungkin saja hamil. "
Darrrr....!!!!
Seperti tersambar petir, kalimat itu sangat amat menyayat hati Sandara. Sandara tidak pernah berpikir jika dirinya hamil, dan ia juga berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil. Karena selama ini, ia dan Berlin tidak pernah melakukan hubungan antar sepasang suami dan istri.
Tapi...ada yang janggal, kalau diingat-ingat... seharusnya minggu lalu Sandara sudah datang bulan. Tapi kenapa sampai saat ini ia masih belum juga datang bulan.
Sandara masih terdiam, sedangkan Berlin...ia juga memiliki firasat buruk. Terlebih lagi Remon mengatakan kepada Berlin, bahwa Remon sudah menanamkan benih nya pada Sandara.
Pikiran Sandara pun menjadi kacau, dan ia teringat di saat Remon membawanya ke kediaman Saw. Saat itu Remon berusaha untuk menyetubu hi nya. Dan ketika Sandara memberontak, Remon memukul nya dan ia sudah tidak ingat apa-apa lagi setelah nya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
Like, comment dan juga vote ya...❤️❤️❤️
__ADS_1
Klik juga tombol favorit nya...
Terimakasih banyak-banyak ❤️❤️❤️😘