Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#33


__ADS_3

*****


Sandara masih termenung dan terdiam, ia mulai merasa gelisah. Sandara takut jika yang dikatakan nenek Maria benar adanya dan terjadi kepadanya.


Kemudian tiba-tiba saja nenek Maria beranjak dari duduk nya dan mencari sesuatu di dalam kotak p3k. Dan setelah ia menemukan apa yang sedang di carinya, nenek Maria dengan segera memberikan nya kepada Sandara.


" Dara...cobalah, siapa tau apa yang nenek pikir kan benar. " Ujar nenek Maria sambil memberikan Sandara testpack.


" Apa ini nek? " Tanya Sandara bingung karena ini adalah kali pertama nya Sandara melihat testpack.


" Itu alat untuk mengecek kandungan, kau taruh urine mu di dalam wadah ini dan masukkan testpack itu. Lalu, jika keluar garis merah dua, itu berarti kau positif hamil, namun jika tanda garis merah itu hanya satu, itu berarti kau negatif dan tidak sedang hamil. " Jelas nenek Maria kepada Sandara.


Dan Sandara pun akhirnya menuruti perkataan nenek Maria. Sandara masuk ke dalam kamar mandi dan ia langsung mempraktekkan apa yang sudah di jelaskan oleh nenek Maria kepadanya.


Setelah menunggu sekitar 5 detik, akhir nya hasilnya pun keluar. Sandara awalnya tidak berani untuk melihat hasil nya, namun karena dirinya juga penasaran dengan hasil nya, kemudian Sandara mengumpulkan keberaniannya dan melihat hasil testpack tersebut.


" Ini? " Sandara menutupi mulutnya, ia amat sangat terkejut melihat hasilnya.


" Tidak...tidak mungkin, aku tidak mungkin hamil, lalu bayi yang ada di dalam kandungan ini? Dia? Tidak...tidak..." Gumam Sandara sambil menggeleng-gelengkan kepala nya dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


Tok...tok...tok...


" Dara?? Kenapa lama sekali sayang? Nenek ingin segera tau hasil nya. " Ujar nenek Maria dari luar toilet.


Dan Sandara pun keluar dari toilet, lalu wajah nya sudah terlihat semakin pucat. Air mata nya sudah menetes tanpa henti. Rasa sakit yang teramat menyelimuti diri nya. Sandara bahkan merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri.


Semua yang menunggu Sandara pun terkejut dengan reaksi Sandara saat keluar dari toilet. Berlin yang sudah mengira ini akan terjadi hanya bisa menarik nafas panjang dan memejamkan matanya sejenak.


" Bagaimana Dara? Kenapa kau menangis? " Tanya nenek Maria yang mulai sangat penasaran dengan jawaban Sandara.


Lalu Sandara memberikan hasil testpack tersebut kepada nenek Maria. Nenek Maria terlihat begitu gembira saat melihat hasil testpack tersebut. Nenek Maria tidak mengetahui jika anak yang di kandung Sandara bukanlah anak Berlin, melainkan anak dari putra kandungnya sendiri, yaitu Remon.


" Terimakasih tuhan, akhirnya engkau memberikan apa yang sudah aku nanti-nantikan selama ini. " Ujar nenek Maria dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


Hati Sandara semakin hancur berkeping-keping mendengar apa yang di katakan oleh nenek Maria. Tubuh dan kaki nya pun menjadi begitu lemas, Sandara seperti sudah lelah dengan kondisi yang kini menimpanya.


Berlin menyadari tatapan mata Sandara yang kini sudah kosong itu. Lalu kemudian Berlin melingkarkan tangan Sandara di leher nya dan membopong Sandara lalu membawanya ke kamar nya.


Nenek Maria, Sarah, bahkan Devan juga terlihat senang, dan menangis haru. Namun Frans, ia cukup curiga dengan reaksi Sandara dan juga perhatian dari Berlin yang cukup tiba-tiba itu.


*****


Sesampainya di kamar, Berlin langsung membaringkan tubuh Sandara di atas tempat tidurnya. Dan saat Berlin ingin pergi dan memberikan Sandara waktu untuk merenung sendiri, tiba-tiba saja Sandara meraih pergelangan tangan Berlin.


" Apa yang harus aku lakukan? " Tanya Sandara dan kemudian Sandara menatap ke arah Berlin.


Berlin pun membalas tatapan mata Sandara, lalu ia melepaskan genggaman tangan Sandara dengan perlahan.


" Terserah pada mu...aku tidak ingin ikut campur mengenai bayi yang sedang kau kandung itu. " Jawab Berlin dengan pasti dan tanpa keraguan sedikit pun.


" Kata-kata mu sangat melukai perasaan ku Berlin, aku...aku tidak menginginkan anak ini. Aku harus bagaimana? " Sandara kembali menangis terisak.


Tangisan Sandara semakin menjadi, ia bahkan sampai hilang akal dan memukuli perutnya. Berlin yang melihatnya langsung berusaha meraih kedua tangan Sandara dan mencoba menghentikan apa yang sedang di lakukan oleh Sandara.


" Sandara!!! Hentikan.!!! " Bentak Berlin, dan Sandara pun terdiam.


" Berlin...apa aku mati saja? Aku sangat jijik dengan diriku sendiri. Aku kotor, aku sudah tidak bisa memaafkan diriku sendiri. "


" Apa yang kau bicarakan? "


" Anak ini, bayi ini? Dia adalah darah daging ayah mu...dan jika aku melahirkan nya, dia akan di sebut apa? Anak mu? Atau adik mu? "


" Sandara!!! Cukup, hentikan...!! Sekarang tenanglah dan berpikir lah menggunakan akal sehat mu. "


" Akal sehat? Tidak Berlin, aku sudah tidak punya akal sehat lagi. "


Sandara meremas perut nya, dan ia menahan rasa sakit akibat remasan nya itu. Berlin tidak melihat apa yang sedang di lakukan Sandara itu, hingga saat akal sehat Sandara itu sudah benar-benar hilang, Sandara meraih sebuah pena dan menusukkannya pada leher nya sendiri.

__ADS_1



Jleb...syuuurrrr...


Darah segar pun mengalir deras, Berlin sangat terkejut dan langsung menarik pena tersebut dari tangan Sandara. Tatapan mata Sandara hanya kosong, ia seperti sudah kebal dengan rasa sakit.


Berlin segera membopong Sandara dan berlari menuju mobilnya. Semua yang masih berada di ruang tamu pun menjadi panik, lalu Frans dengan sigap mengikuti Berlin. Dan saat Berlin ingin masuk ke dalam mobilnya...


" Biar saya yang menyetir tuan, tuan temani nona Sandara duduk di belakang saja. " Usul Frans, dan Berlin langsung menuruti usulan Frans tersebut.


Sesampainya di rumah sakit, Sandara segera di larikan ke IGD, pihak rumah sakit juga langsung menangani Sandara. Dan setelah melakukan pemeriksaan dan juga menutup luka di leher Sandara, Sandara pun di bawa ke ruang rawat inap.


Berlin terlihat sedikit khawatir dengan kondisi Sandara saat ini. Terlebih lagi, Berlin tau bahwa kondisi mental Sandara pasti tidak akan stabil setelah kejadian ini.


Frans masih terus mengamati Berlin, lalu kemudian Frans mencoba untuk mengumpulkan keberanian dan bertanya kepada Berlin tentang kehamilan Sandara tersebut.


" Tuan...maaf sebelumnya, apakah bayi yang ada di dalam kandungan nona Sandara bukan anak tuan? " Tanya Frans sudah dengan penuh keberanian.


Berlin langsung menatap Frans dengan tajam, lalu ia mendekatkan diri nya, dan berbisik di telinga Frans.



" Tutup mulutmu dan jangan terlalu banyak ingin tahu mengenai diri ku dan juga Sandara. Jangan sampai melewati batas, ingat itu!! "


Frans mengepalkan kedua jemari tangannya, ia amat sangat kesal dengan ucapan Berlin. Terlebih lagi Frans juga punya banyak informasi mengenai Sandara dan juga Berlin.



Tinggalkan Like, comment dan vote ya ☺️❤️


Klik tombol favorit juga ya ☺️❤️


Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️😘

__ADS_1


__ADS_2