Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#41


__ADS_3

*****


Wushhhhh...wushhhhh...


Angin berhembus begitu kencang, Lalu Sandara mendongakkan kepalanya dan melihat ke atas langit.


" Seperti nya akan turun hujan..." Gumam Sandara, dan kemudian Berlin menoleh ke arah nya.


" Apa kau ingin masuk ke dalam? "


Lalu Sandara mengangguk dan mereka pun kembali masuk kedalam rumah. Berlin mengantarkan Sandara sampai ruangan televisi, dan kemudian Frans menghampiri Berlin lalu menyerahkan beberapa berkas kepada Berlin.


" Dara, kau di sini sendiri tidak apa-apa? Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan ku. " Ujar Berlin sambil memperlihatkan beberapa berkas di tangannya.


" Ya...aku tidak apa-apa, kembalilah ke ruangan bekerja mu. "


Dan kemudian Berlin dan Frans naik ke lantai dua dan mereka menuju ruangan Berlin. Mereka mendiskusikan beberapa pekerjaan. Dan setelah itu Berlin meminta Frans untuk kembali ke kantor dan mengecek bagaimana situasi di kantor saat ini.


Frans pun segera bergegas, dan saat Frans ingin melewati ruangan televisi, langkahnya pun terhenti. Frans menatap ke arah Sandara yang saat ini sedang asik melihat tayangan kesukaannya.



Frans berjalan ke arah Sandara, pandangan matanya hanya tertuju kepada Sandara. Dan kemudian Frans menyentuh bahu Sandara dengan perlahan, lalu Sandara pun menoleh dan melihat siapa yang menyentuh bahu nya.


" Frans?? "


" Bagaimana keadaan nona? " Tanya Frans yang sudah beberapa hari ini ingin menemui Sandara namun ia terlalu sibuk dengan pekerjaan yang di berikan oleh Berlin kepadanya.


" Aku baik-baik saja...tidak perlu memanggilku nona Frans, panggil saja seperti waktu kau belum mengetahui siapa diriku. "


" Tidak nona, biar bagaimanapun kau adalah istri tuan Berlin. "


" Kalau hanya ada kau dan aku, tidak perlu memanggilku nona. Kau sudah aku anggap sebagai teman ku Frans. " Ujar Sandara lalu mengembangkan senyuman lebar di wajah nya.


Frans pun membalas senyuman Sandara, hati Frans juga berbunga-bunga mendengar ucapan Sandara.


" Baiklah jika kau memaksa...jadi sekarang kita berteman? " Ujar Frans lalu memastikan soal pertemanan di antara mereka.


" Ya...kau temanku..."


" Ah, aku hampir saja melupakan pekerjaanku karena terlalu nyaman berbincang dengan mu Dara. Kalau begitu aku harus segera ke kantor, sampai nanti..." Ujar Frans lalu dengan segera berlalu pergi begitu saja.


Sandara hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dan kemudian ia kembali menonton acara televisi kesukaannya.

__ADS_1


Sudah selama dua jam Sandara berada di rungan televisi, Sandara merasa jenuh dan juga bosan. Kemudian Sandara menggerakkan kursi rodanya dan membuka gorden, ia melihat ke luar jendela.


Ternyata hujannya sangat awet, dan Sandara kembali menutup gordennya. Ia mengarahkan kursi roda nya ke dapur, dan kemudian ada seorang pelayan yang tiba-tiba saja menghampiri nya.


" Nona...ada yang bisa saya bantu? " Tanya pelayan tersebut sambil menawarkan bantuan kepada Sandara.


" Tidak, aku hanya sedang bosan saja...apa kau sedang memasak? " Ujar Sandara lalu bertanya kepada pelayan tersebut mengenai apa yang sedang di lakukan oleh pelayan tersebut.


" Iya nona...apa nona ingin di buatkan sesuatu yang hangat? "


" Mpphh...boleh, tolong buatkan aku coklat hangat. "


Dan setelah itu pelayan tersebut membuatkan Sandara coklat hangat. Sandara pun menikmati minuman yang di buatkan oleh pelayannya itu.


" Hangatnya..." Gumam Sandara sambil sesekali meminum coklat hangat tersebut.


" Sepertinya lezat..." Ujar seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi bagi Sandara dari belakang punggung Sandara.


Kemudian Sandara pun menoleh ke belakang dan melihat seseorang tersebut.


" Devan...ternyata kau..."


Ya, ternyata orang itu adalah Devan, Devan yang baru saja pulang dari pemotretan itu sengaja mampir dan ingin melihat kondisi Sandara, dan Devan tidak sendiri. Devan membawa Sarah bersama dengannya.


" Kau ini...selalu saja membosankan, candaan mu itu terlalu membosankan. " Ujar Sandara diiringi senyum di wajahnya.


" Tapi aku senang, berkat candaan ku yang membosankan ini. Aku bisa melihat mu tersenyum. " Ujar Devan lalu mengacak-acak rambut Sandara.


" Devan...apa yang kau lakukan? Rambutku jadi berantakan. " Keluh Sandara sambil merapihkan rambut nya.


Sarah yang sedari tadi memperhatikan tingkah putra sambung dan putri kandungnya itu hanya bisa tersenyum. Ia terlihat sangat lega bisa melihat Sandara bisa bercanda dengan Devan dan kembali tersenyum seperti sekarang.


" Di mana Berlin? Kenapa kau sendiri? "


" Aa...Berlin sedang menyelesaikan beberapa pekerjaannya, biarkan saja Berlin menyelesaikan pekerjaannya, kau tidak usah mengganggunya. "


" Aku kemari bukan untuk mengganggu Berlin, tapi saat ini target ku adalah kau. Dan aku akan mengganggumu. " Ujar Devan lalu mencubit kedua pipi Sandara.


" Aaww..." Rengek Sandara sambil meringis kesakitan.


" Apa yang kau lakukan pada istri ku? " Tanya Berlin yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Devan.


Devan pun menoleh ke arah Berlin, lalu ia menutup bibir nya dan menyipitkan kedua matanya sambil melihat ke arah Berlin dengan heran.

__ADS_1


" Waaaa...ini sangat langka, istri? Dara? Apa kau mendengarnya? Wahhhh aku sampai merinding..." Ujar Devan yang sengaja menggoda Berlin dan kemudian bertanya kepada Sandara dengan raut wajah yang sudah sangat terheran-heran.


" Kau ini..." Ujar Berlin sambil menepuk punggung Devan dengan kencang.


" Aaahhkk...tenaga mu, tapi aku sungguh sangat terkejut, ternyata Berlin sudah melunakkan dinding batu yang ada di dalam hati nya."


" Devan!! Hentikan!! Berhentilah menggodaku, apa kau ingin mati? " Ujar Berlin lalu memberikan tatapan menyeramkan kepada Devan.


" Waaahh...aku takut sekali...kenapa sepupu ku satu-satunya ini sangat menyeramkan? " Ujar Devan lalu kemudian Sandara terlihat tersenyum kemudian tertawa melihat tingkah Devan.



Berlin yang melihat Sandara bisa tersenyum dan juga tertawa seperti itu pun ikut senang. Lalu kemudian Berlin menepuk-nepuk bahu Devan dan melemparkan senyum nya pada Devan.



" Devan...jangan terlalu jujur seperti itu..." Ujar Sandara masih dengan senyuman yang mengembang di wajah nya.


Lalu tiba-tiba saja....


" Apa kalian bersenang-senang? "


" Suara itu? " Batin Sandara.


Lalu kemudian Sandara dan semua yang ada di situ melihat ke arah suara tersebut. Dan ternyata itu adalah suara Remon Saw, ia berjalan sambil melihat ke sekeliling rumah Berlin dan kemudian saat Remon ingin mendekati Sandara, Berlin dengan sigap menghalangi jalan Remon dan kemudian Berlin meletakkan tangannya di dada Remon.



" Kenapa kau bisa masuk ke rumah ku? " Tanya Berlin dengan tatapan mata yang sudah sangat menusuk.


" Ini adalah rumah putra ku, jadi bagaimana aku tidak bisa masuk? Tentu saja aku bisa masuk. " Jawab Remon sambil tersenyum menyeringai.


" Pergilah, kedatangan mu hanya membuat suasana rumah ini menjadi kacau. " Ujar Berlin lalu Berlin meraih tangan Remon, namun Remon menghempaskan tangan Berlin.


Dan dengan langkah yang cepat Remon berjalan ke arah Sandara. Remon mencengkram kursi roda Sandara sambil menatap Sandara tajam. Sandara sedikit gemetar, namun ia tidak ingin terlihat lemah. Jadi Sandara kembali membalas tatapan mata Remon dengan tajam.



Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️😘


Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️😘


Terimakasih banyak atas dukungan kalian semua ❤️❤️❤️😘😘

__ADS_1


Sayang kalian banyak-banyak ❤️❤️❤️😘


__ADS_2