
*****
" Apa kau tidak bisa sedikit saja menghargai orang lain? Percuma saja aku bersikap baik padamu. " Ujar Berlin lalu berlalu pergi meninggalkan Sandara.
Sandara hanya menatap punggung Berlin yang kemudian menghilang dari pandangannya. Tatapan mata Sandara masih sendu, ia seperti sudah tidak punya semangat untuk menjalani hidup nya.
Namun tiba-tiba saja muncul sebuah ide...
" Seperti nya sikap Berlin sudah mulai melunak padaku, apa aku harus memanfaatkannya? Ya...aku bisa balas dendam kepada Remon tanpa harus mengotori tangan ku. Aku akan menggunakan Berlin untuk membalas kan dendam ku. " Batin Sandara.
Dan lima belas menit telah berlalu, kemudian Berlin kembali masuk ke dalam kamar Sandara dengan membawa sebuah nampan yang sudah berisi makan malam untuk Sandara.
" Makanlah, dan cepatlah pulih..." Ujar Berlin sambil meletakkan nampan tersebut di meja samping tempat tidur mereka.
Nada suara Berlin kembali dingin, tatapan matanya pun kembali memancarkan aura yang mencekam.
" Berlin...maaf, tadi sepertinya kata-kata ku keterlaluan...aku hanya belum bisa menerima kondisi ku saat ini. Jadi aku melampiaskannya kepada mu. " Ujar Sandara yang mencoba untuk membuat Berlin kembali bersikap baik kepada nya.
Lalu Berlin menatap Sandara, perasaannya kembali luluh dan ia juga bisa memahami mengapa Sandara bersikap seperti itu. Berlin sangat menerima alasan yang di berikan oleh Sandara.
" Aku juga minta maaf, seharusnya aku paham situasi mu. " Ujar Berlin dan kemudian kembali tersenyum ke arah Sandara.
" Kenapa dia sering sekali tersenyum padaku akhir-akhir ini? Apa Berlin mulai menyukaiku? Atau dia hanya kasihan kepada ku? Ah...entahlah...jika dia menyukai ku itu malah lebih baik, karena aku akan semakin mudah membuat Berlin membalaskan dendam ku kepada Remon. " Batin Sandara.
Dan kemudian Sandara mengambil makanan yang ada di samping nya dan memakannya. Setelah itu Sandara dan juga Berlin pun istirahat bersama di atas tempat tidur yang sama.
Sandara memejamkan matanya, namun ia merasa ada yang aneh. Sandara merasa seperti sedang ada yang memperhatikan diri nya, lalu Sandara membuka kedua mata nya, dan betapa terkejutnya Sandara melihat wajah Berlin yang sudah sangat dekat dengan dirinya.
Berlin terus memandangi wajah Sandara, dan ketika Sandara membuka kedua matanya, Berlin pun melemparkan senyum nya. Sandara hanya bisa menatap Berlin tanpa berkata apapun.
Lalu Sandara kembali memejamkan kedua mata nya. Sandara menjadi risih karena sikap Berlin yang tidak biasa kepadanya itu membuat nya menjadi tidak nyaman.
" Apa kau tidak bisa tidur? " Tanya Berlin dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Dan Sandara kembali membuka kedua matanya, lalu kembali menatap Berlin.
" Kenapa kau menatap ku seperti itu? " Tanya Sandara heran.
" Aku hanya merasa bersyukur, aku bersyukur kau sudah berhasil melewati masa-masa kritis mu di rumah sakit. Dan aku juga sangat senang kau bisa kembali ke rumah ini dan tidur di samping ku seperti ini. " Jawab Berlin, lalu membelai lembut rambut Sandara.
Sandara yang terkejut karena Berlin tiba-tiba saja membelai rambutnya itupun dengan refleks menjauhkan kepalanya dari tangan Berlin.
Berlin terlihat murung dan sedikit kecewa dengan sikap Sandara kepada nya. Lalu Sandara yang menyadari raut wajah Berlin yang sudah berubah itupun langsung meminta maaf kepada Berlin dan berusaha menjelaskan kenapa sikap nya seperti itu.
" Ah...maaf Berlin...aku hanya belum terbiasa dengan perhatian dari mu. Dan mungkin aku butuh waktu untuk menyesuaikannya. " Jelas Sandara yang tidak ingin jika Berlin kecewa kepada nya, karena jika Berlin kecewa...ia takut rencananya akan gagal.
Lalu suasana hati Berlin kembali berubah karena penjelasan dari Sandara tersebut. Dan mereka pun kembali tidur.
Keesokan harinya...
Sandara membuka kedua matanya, sinar matahari yang sudah sangat menyilaukan itu membuat kedua mata nya sulit untuk terbuka. Lalu Sandara menyipitkan kedua mata nya dan menoleh ke arah samping.
Berlin sudah tidak ada di sebelah nya, dan kemudian terdengar suara air dari dalam kamar mandi.
" Kau ingin mandi? " Tanya Berlin, lalu Sandara hanya mengangguk.
Dan kemudian Berlin mulai berjalan ke arah Sandara, ia menarik selimut yang menutupi bagian kaki Sandara, lalu kemudian membantu Sandara duduk di kursi roda nya.
Dan saat Berlin mendorong kursi roda Sandara sampai depan pintu kamar mandi , Sandara pun dengan segera menghentikan Berlin.
" Sudah, sampai disini saja...aku bisa melakukannya sendiri. "
" Tapi..."
" Tidak Berlin, aku tidak apa-apa..."
" Tidak, jika kau tidak ingin aku membantu mu, akan aku panggilkan pelayan untuk membantu mu. "
" Tidak usah Berlin, aku bisa...kaki ku memang lumpuh, tetapi kedua tanganku masih bisa aku gunakan, jadi kau tidak perlu khawatir. Ah ya...aku lupa...tolong ambilkan pakaianku saja. " Ujar Sandara lalu kemudian meminta Berlin untuk mengambilkan pakaiannya.
__ADS_1
Berlin pun langsung mengambilkan pakaian untuk Sandara dan memberikannya kepada Sandara. Raut wajah Berlin masih terlihat khawatir dan tidak tega membiarkan Sandara mandi sendiri.
" Dara..."
" Tidak apa-apa...jika aku butuh bantuan mu, aku akan memanggil mu. " Ujar Sandara yang mencoba kembali meyakinkan Berlin agar tidak terlalu mengkhawatirkan nya.
Sandara pun masuk ke dalam kamar mandi dan kemudian menutup pintu kamar mandinya. Berlin masih berdiri di depan kamar mandi, ia sengaja menunggu Sandara di depan kamar mandi, Berlin hanya takut bila terjadi apa-apa saat Sandara berada di dalam kamar mandi seorang diri.
Dan dua puluh menit kemudian, Sandara membuka pintu kamar mandi. Dan mendapati Berlin yang masih berdiri di depan kamar mandi untuk menunggunya.
" Apa kau menungguku? " Tanya Sandara sambil mengerutkan dahi nya karena heran dengan perubahan sikap Berlin yang sangat drastis itu.
" Iya...aku hanya takut jika terjadi hal yang tidak di inginkan saat kau berada di dalam kamar mandi seorang diri. "
Lalu Berlin meraih kursi roda Sandara dan membawa Sandara keluar dari kamarnya. Berlin kembali menggendong Sandara untuk menuruni anak tangga, dan salah satu pelayannya membantunya dengan membawakan kursi roda Sandara.
" Berlin..."
" Ya? "
" Aku masih bingung dengan perubahan yang terjadi padamu. Sebenarnya perlakuan mu kepada ku, apakah hanya sebatas karena kau merasa iba kepada ku, atau ada hal lain? " Tanya Sandara yang masih di gendong oleh Berlin.
Dan setelah sampai di ruang makan, Berlin kembali menaruh Sandara kembali di kursi rodanya. Lalu Berlin duduk menekuk satu kakinya untuk berlutut di hadapan Sandara.
" Aku juga tidak tau harus menjawab apa soal pertanyaan yang kau berikan tadi. Entahlah...tiba-tiba saja aku menyesali perbuatan ku kepada mu dulu. Sebelum kau koma, aku memang kejam dan sangat ketus kepada mu. Tapi, di saat melihat mu berbaring tidak berdaya di hadapan ku. Entah apa yang terjadi, hatiku sakit melihat nya. Dan seperti nya aku sudah tidak bisa mengendalikan perasaanku kepada mu Dara. "
Sandara tersentuh dengan kata-kata Berlin, tapi itu tidak bisa mengubah niatnya untuk memanfaatkan perasaan Berlin kepada nya. Dan Sandara masih berniat untuk tetap menggunakan Berlin untuk membalaskan dendam nya.
Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️
Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️😘
__ADS_1
Terimakasih dan sayang kalian banyak-banyak ❤️❤️❤️😘