
*****
"Tuan..." Panggil Frans yang kali ini menyentuh bahu Berlin.
Berlin hanya menatap Frans tanpa menjawab Frans. Berlin begitu dilema setelah mengingat bagaimana nenek nya meninggal. Dia sangat menjaga nenek Maria semasa hidup nya. Dan setelah mendengarkan kebenaran yang telah di ungkapkan oleh Frans, Berlin merasa sangat kecewa kepada diri nya sendiri yang tidak dapat menjaga nenek nya dengan baik kala itu.
Dan kemudian, Berlin berjalan menuju ruang rawat Sandara. Berlin masuk ke dalam ruangan tersebut, ia menatap Sandara yang kini sedang terbaring lemah dan tidak berdaya itu.
Dan ketika Berlin ingin duduk di kursi samping ranjang Sandara, tiba-tiba saja Sandara membuka kedua matanya, ia menatap Berlin dengan tatapan kosong. Sandara hanya menatap Berlin dalam diam.
" Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau memberitahu nenek segalanya Dara? " Tanya Berlin sambil menundukkan kepala nya dan mengepalkan kedua tangannya.
Sandara tidak memberikan respon apapun, ia masih menatap Berlin dengan tatapan kosong nya itu. Dan kemudian Sandara menggerakkan jemari tangannya dan menyentuh lengan Berlin.
Berlin pun langsung menatap Sandara, ia melihat ke arah Sandara sudah dengan tatapan kecewa nya. Lalu saat Berlin ingin berbicara, Frans tiba-tiba saja masuk dan menghentikan Berlin.
" Tuan, tunggu sebentar..." Ujar Frans lalu kemudian Frans mencoba untuk berbicara kepada Sandara.
" Nona...apa nona mengenali tuan Berlin? " Tanya Frans dengan lembut kepada Sandara.
Berlin sedikit terkejut mendengar apa yang di tanyakan oleh Frans kepada Sandara barusan, lalu Berlin memegang bahu Frans dan mempertanyakan maksud dari pertanyaan Frans barusan.
" Frans? Apa maksudmu? Kenapa kau menanyakan hal seperti itu? " Tanya Berlin yang kini sudah sangat kebingungan.
Dan benar saja dugaan Frans, Sandara tidak merespon sama sekali apa yang di katakan oleh Frans. Lalu Frans pun memberitahu Berlin mengenai kondisi Sandara. Dan setelah itu, Frans kembali untuk memanggil dokter supaya Sandara segera di periksa secara menyeluruh.
Berlin masih sangat syok dan amat sangat terkejut. Ia menjatuhkan diri nya ke kursi dan tatapannya menjadi kosong.
" Apa lagi ini? " Gumam Berlin yang sudah tidak tau harus mengatakan hal apa lagi.
Dan setelah dokter tersebut memeriksa keseluruhan nya, dokter tersebut memberitahu Berlin, bahwa masih ada kemungkinan bagi Sandara untuk sembuh total. Tapi harus diingat dengan pasti, tidak boleh ada sesuatu yang membuatnya tertekan ataupun terkejut.
Dan dokter tersebut juga menyarankan untuk selalu menjaga emosi Sandara supaya tetap stabil setiap hari nya.
*****
Satu minggu telah berlalu...
__ADS_1
Kini Sandara sudah kembali ke rumah Berlin, selama satu minggu penuh ini Sarah lah yang merawat dan juga menjaga Sandara. Dan Berlin, ia lebih fokus dengan pekerjaannya.
Berlin sesekali melihat perkembangan Sandara, namun tidak seintens sebelum nya. Masih ada sedikit perasaan kecewa di dalam diri Berlin. Namun Berlin terus berusaha untuk mengendalikan perasaannya itu.
Dan malam ini, Berlin yang sudah selesai dengan pekerjaannya itu berjalan menuju kamar nya. Ia membuka pintu kamar nya dengan perlahan. Kemudian Berlin melihat ke arah Sandara yang sudah tertidur lelap.
Berlin dengan perlahan menyelimuti tubuh Sandara dengan selimut. Lalu dirinya membaringkan tubuh nya tepat di samping Sandara. Dan ketika ia ingin memejamkan matanya, tiba-tiba saja Sandara membuka kedua mata nya dan menoleh ke arah Berlin.
Tangan Sandara menyentuh pipi Berlin dengan lembut, Berlin pun hanya bisa menatap Sandara. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan, lalu Sandara tiba-tiba saja meneteskan air matanya.
Berlin pun terkejut, dan ia bangun lalu memegangi bahu Sandara dan membantu Sandara untuk duduk.
" Ada apa? Apa kau merasa ada yang sakit? " Tanya Berlin yang menjadi sedikit mengkhawatirkan Sandara.
Sandara hanya menggeleng, lalu ia meminta Berlin untuk mengambilkan kertas dan pulpen yang ada di samping bantal Sandara. Berlin segera mengambilnya dan memberikannya kepada Sandara.
| Terimakasih sudah merawat ku...maaf aku belum bisa mengingat siapa diri mu, namun sepertinya kau adalah suami yang baik. Aku bersyukur memiliki mu di sisi ku dengan keterbatasan yang ku punya saat ini. | Tulis Sandara di kertas tersebut.
Berlin membaca nya cukup lama, ia tidak tau harus mengatakan apa kepada Sandara. Dan kemudian Berlin melihat ke arah Sandara dan tersenyum simpul.
Lalu Sandara pun kembali memejamkan kedua matanya. Dan Berlin pun kembali tidur di samping Sandara, Berlin mencoba untuk memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Namun usaha Berlin sia-sia, ia sama sekali tidak bisa tidur malam ini.
Dan kemudian Berlin beranjak dari tempat tidur nya. Ia berjalan keluar dari kamar nya, lalu Berlin menuruni anak tangga dan kemudian ia melihat Frans yang sedang duduk termenung di meja makan.
" Frans? Sedang apa kau? " Tanya Berlin yang langsung menghampiri Frans dan duduk di sampingnya.
" Ah tuan...saya sedang menjernihkan pikiran saya tuan. " Jawab Frans lalu kemudian meminum minuman kaleng yang ada di tangannya.
" Apa itu alkohol? " Tanya Berlin sambil melihat ke arah minuman kaleng yang di genggam Frans.
" Iya tuan...saya baru membelinya beberapa, apa tuan mau? " Tanya Frans yang menawarkan sekaleng minuman kepada Berlin.
Berlin pun meraih minuman kaleng tersebut dan membukanya. Ia meneguknya tanpa jeda, hingga Frans menatap Berlin dengan heran.
" Apa ada sesuatu yang sedang tuan pikirkan? " Tanya Frans dengan sangat berhati-hati.
" Dara..."
__ADS_1
" Ada apa dengan nona Sandara? "
" Aku tidak mengerti dengan perasaanku, aku sangat kecewa setelah mendengar apa yang kau katakan saat di rumah sakit. Tapi...saat ini aku tidak bisa membencinya, semakin aku mencoba untuk menjauhinya, semakin hari aku semakin merindukannya. " Ujar Berlin lalu meneguk kembali minuman kaleng yang sedang di genggamnya itu.
" Tuan Berlin sudah mulai jatuh cinta dengan nona Sandara. "
" Ya...sepertinya begitu..."
" Tuan...sebelumnya saya ingin minta maaf kepada tuan Berlin. "
" Minta maaf? Untuk apa? "
" Ini mengenai nona Sandara. "
" Dara? "
" Ya..."
Berlin terlihat bingung dengan perkataan Frans, lalu Frans meneguk minumannya dan kemudian menatap Berlin dengan serius.
" Selama ini saya sangat mengkhawatirkan nona Sandara, saya sangat mencemaskan apabila tuan tidak bisa mencintai nona Sandara. Dan saya juga sempat berpikir, kalau tuan tetap bersikap angkuh dan tidak perduli dengan nona Sandara. Saya berpikir untuk merebut nona Sandara dari tuan. " Ujar Frans yang berterus terang soal perasaannya kepada Sandara.
" Kau menyukai Dara? Sejak kapan? " Tanya Berlin yang kemudian menatap Frans dengan tatapan dinginnya.
" Sejak pertama kali saya bertemu dengan nona, saat itu saya tidak tau kalau nona Sandara adalah istri tuan, dan nona Sandara juga menjahili saya dengan mengatakan bahwa dirinya adalah pelayan di rumah ini. Sejak itu kami dekat, sampai pada saat penculikan nona Sandara, dan saya baru mengetahui yang sebenarnya. Dan semenjak kejadian itu, saya menyimpulkan bahwa selama ini nona Sandara merasa kesepian dan membutuhkan seorang teman di sisi nya jadi saya memaklumi jika nona Sandara berkata bohong seperti itu. Dan perasaan yang saya miliki semakin hari semakin bertambah tuan. "
Lalu kemudian Frans memberikan surat kepada Berlin. Berlin melihat surat tersebut dan membukanya, dan ternyata itu adalah surat pengunduran diri dari Frans.
Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️
Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️
Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️
__ADS_1