
*****
" Apa kau senang? " Tanya Remon lagi yang terlihat sangat menyukai respon Sandara.
Lalu Remon mendorong kursi roda Sandara, dan Frans mengikuti langkah Remon sambil mengendap-endap. Sandara terlihat begitu polos, ia sama sekali tidak menyadari niat jahat Remon kepadanya.
Lalu Remon membawa Sandara naik ke atas kapal bersama dengan nya. Dan Frans pun berhasil menyelundup masuk ke dalam kapal tersebut. Pandangan mata Frans terus tertuju kepada Sandara yang kini sudah di bawa masuk ke dalam kapal oleh Remon.
" Akhirnya, setelah sekian lama...kini kau akan bertemu dengan ayah mu Dara. " Ujar Remon lalu membelai lembut pipi Sandara.
Sandara hanya menatap Remon sambil tersenyum. Lalu Remon tertawa terbahak-bahak tepat di hadapan Sandara. Sandara sedikit merasa aneh dengan sikap Remon. Lalu ia menulis di sebuah buku dan memberikan nya kepada Remon.
| Kenapa ayah tiba-tiba tertawa? |
" Kau sangat lucu Dara...apa kau benar-benar tidak mengingat ku? " Tanya Remon masih dengan tawa di wajah nya.
| Apa maksudnya? Kau ayah mertuaku kan? Maaf ayah mertua karena aku tidak mengingat mu. |
" Iya-iya...benar aku memang ayah mertuamu, tapi sebelum ingatan mu hilang...kau sangat membenciku, dan kau juga ingin sekali membunuh ku. Tapi sekarang? Lihatlah...bahkan kau memanggilku ayah mertua dan tersenyum kepada ku. Ini sungguh menyenangkan. Kau sangat menggemaskan Dara, dan bahkan kau ingin menemui ayah mu. " Ujar Remon yang semakin membuat Sandara bingung.
| Kenapa aku membenci mu ayah? Dan kenapa aku ingin membunuh mu? Apa yang telah kau lakukan? |
" Pertanyaan bagus Dara, kau membenciku karena aku sudah menghancurkan hidup mu dan merenggut kesucian mu, dan...kau juga ingin membunuhku karena aku telah membunuh ayah mu. " Ucap Remon lalu mendorong kursi roda Sandara ke ujung kapal.
Remon meminta para anak buah nya untuk memastikan bahwa mereka sudah berada di tengah laut. Dan setelah semua sudah pasti Remon dengan wajah nya yang tersenyum itu pun mengangkat Sandara dan melemparnya ke tengah laut.
Frans dengan segera terjun dan mencari Sandara di dalam air. Dan Remon dengan tawa bahagia nya meninggalkan Sandara yang sudah jatuh ke dalam air dan membawa kembali kapal milik nya ke daratan.
Sedangkan Frans, ia terus menyelam sampai pada akhirnya Frans melihat tubuh Sandara yang sudah hampir tenggelam. Frans dengan segera meraih tangan Sandara dan menarik nya. Lalu Frans dengan sekuat tenaganya berenang sampai ke tepian.
Frans memberikan Sandara pertolongan pertama dan kemudian memberinya nafas buatan. Setelah itu Sandara memuntahkan air yang di telan nya, lalu dengan Segera Frans membawa Sandara ke rumah sakit.
Setelah menunggu beberapa jam, dokter yang memeriksa Sandara keluar dan memberitahukan kepada Frans jika tidak ada hal yang serius mengenai Sandara.
__ADS_1
Di situ Frans cukup lega, lalu Frans berjalan menuju ruangan rawat Sandara. Ia menatap Sandara dengan tatapan sendu nya.
" Kenapa nasib mu begitu malang? " Gumam Frans sambil membelai lembut rambut Sandara.
Lalu setelah satu jam berlalu, Sandara akhirnya sadar dan membuka kedua mata nya. Ia melihat ke arah Frans lalu tiba-tiba saja Sandara bisa berbicara, tetapi ada yang membuat Frans terkejut.
" Aku dimana? " Tanya Sandara sambil memegangi kepala nya.
" Kau di rumah sakit, suaramu?? Kau..." Ujar Frans lalu tersenyum senang. Dan kemudian...
" Siapa kau? " Tanya Sandara yang tiba-tiba saja membuat Frans terdiam.
" Dara? Kau..."
" Dara? Siapa Dara? " Tanya Sandara dengan wajah nya yang sudah terlihat kebingungan.
Frans begitu terkejut ketika mendengar penjelasan dari dokter, lalu Frans dengan segera meminta surat rujukan untuk memindahkan perawatan Sandara untuk di rawat di dekat rumah nya.
Dokter tersebut memberikan Frans rujukan, dan kemudian Frans membawa Sandara. Frans berpikir jika Sandara jauh lebih aman jika bersama dengannya dibandingkan dengan Berlin.
Frans sengaja tidak menghubungi Berlin, dan membiarkan Berlin berpikir jika Sandara sudah tiada karena ulah ayah nya. Frans dengan cepat mengemasi barang-barang nya dan membawa Sandara pergi.
Setelah sampai di rumah sakit yang ia tuju, Frans langsung meminta dokter untuk dengan segera merawat Sandara. Dan dengan pengalaman yang sudah lama di milikinya, Frans dengan segera mengurus semua hal mengenai Sandara.
Bahkan Frans juga mengubah identitas Sandara, ia mengubah nama Sandara dan semua tentang Sandara telah di ubah oleh nya. Frans juga memberitahu Sandara bahwa dirinya adalah kekasih nya.
Dan di tempat lain...
Kini sudah tengah malam, Berlin yang baru saja pulang dari kantor itu langsung menuju kamar nya. Ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan, dan betapa terkejutnya Berlin ketika ia melihat tidak ada Sandara di dalam kamarnya.
__ADS_1
" Dara??? " Panggil Berlin, namun tidak ada jawaban.
Berlin memeriksa seluruh ruangan, semua sudah di periksa nya satu persatu namun ia tidak dapat menemukan Sandara. Lalu kemudian Berlin meminta para pelayan untuk segera berkumpul.
" Dimana Sandara? " Tanya Berlin dengan wajah yang sudah sangat cemas.
Lalu kemudian salah satu pelayan memberanikan diri untuk bicara kepada Berlin. Pelayan itu juga sudah di beri pesan oleh Remon untuk memberitahu Berlin bahwa Remon lah yang membawa Sandara.
" Tuan...maaf...tuan...nona Sandara, di bawa pergi oleh tuan Remon. " Ujar pelayan tersebut dengan tangan yang sudah gemetar.
" Kenapa tidak ada yang memberitahu ku? Kenapa kalian diam saja dan tidak melaporkannya kepada ku? " Bentak Berlin lalu mendobrak meja yang ada di hadapannya.
" Maafkan kami tuan, tetapi tuan Remon melarang kami...kami hanyalah pelayan tuan, kami tidak bisa menentang apa yang sudah di perintahkan tuan. Nyawa kami taruhannya. " Ujar pelayan tersebut sambil menangis.
" Kalian semua saya pecat!! Keluar kalian!!" KELUAR!!! " Bentak Berlin sambil berteriak, para pelayan itupun langsung keluar meninggalkan kediaman Berlin.
Lalu Berlin dengan segera menyalakan mesin mobil nya dan mengendarai mobil nya menuju kediaman Saw. Amarahnya sudah menggebu-gebu, dan setelah sampai...Berlin langsung masuk dan mendobrak pintu rumah Remon.
" DIMANA DARA? " Teriak Berlin yang membangunkan seisi rumah.
Remon pun keluar dari dalam kamarnya, lalu ia berjalan ke arah Berlin dengan senyuman yang sudah mengembang di wajah nya.
" Kenapa kau berisik sekali malam begini Berlin? Tenanglah..." Ujar Remon lalu mendekati Berlin. Dan...
Bugghhhh!!!!
Berlin pun melayangkan tinjunya ke wajah Remon, Remon memegangi wajah nya sambil tertawa. Dan kemudian ia duduk di sebuah kursi.
" Percuma saja kau memukul ku Berlin, pukulan mu tidak akan mengembalikan istri mu. "
" Apa yang kau katakan? Diaman Dara? " Tanya Berlin dengan tatapan yang sudah sangat emosional.
" Aku memenuhi keinginannya, jadi dia pasti bahagia...aku membawanya menemui ayah nya. " Ujar Remon lalu mengirimkan sebuah video kepada Berlin.
__ADS_1
Berlin melihat video tersebut dan kemudian ia jatuh terduduk. Di dalam video tersebut, Remon merekam kekejamannya yang membuang Sandara ke tengah laut. Berlin bahkan tak sanggup melihat apa yang ada di dalam video tersebut.