Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#58


__ADS_3

...****************...


Frans pun berjalan meninggalkan kamar Kaira dengan hati yang cukup berat. Frans benar-benar menyesali keputusannya itu, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengizinkan Kaira untuk bekerja.


Dan keesokan harinya…


Kaira sudah berdandan rapi, ia berjalan keluar dari dalam kamarnya dengan senyuman yang sudah mengembang di wajah nya. Kaira juga dengan riang menyapa Frans dan juga Natara yang kini sudah lebih dulu duduk di ruang makan.


“ Pagi semua…” Sapa Kaira lalu duduk di samping Natara.


“ Pagi sayang…cantik sekali putri ibu…kau mau kemana berdandan rapi seperti itu? “ Tanya Natara yang tidak mengetahui jika Kaira ingin mencari pekerjaan.


“ Aku ingin melamar pekerjaan bu..” Jawab Kaira dengan senyuman yang sudah mengembang di wajah nya.



Frans hanya memperhatikan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Frans tidak ingin merusak senyuman Kaira. Frans juga sengaja membiarkan Kaira melakukan keinginannya itu tanpa memberitahu Kaira bagaimana cara nya agar ia bisa mendapatkan pekerjaan.



“ Mencari pekerjaan? “ Tanya Natara sambil menatap Kaira dengan tatapan heran. 


Lalu Natara melirik ke arah Frans dan mengerutkan dahinya, Frans pun hanya memejamkan matanya sejenak sambil mengangguk ke arah Natara yang terlihat bingung. 


Dan Natara kembali melihat ke arah Kaira, ia sebenarnya ingin menjelaskan kepada Kaira bahwasanya mencari pekerjaan itu tidaklah mudah, dan ada beberapa persyaratan yang harus dibawa nya, namun Natara sepertinya paham dengan maksud Frans yang tadi sempat memberinya isyarat.


“ Kaira? Apa kau sudah memikirkannya matang-matang? Bekerja itu bukan hal yang mudah. “ Tanya Natara yang kembali memastikan apakah Kaira bersungguh-sungguh dengan perkataannya itu.


“ Aku sudah bertekad ibu,lagi pula jika aku terus berada di dalam rumah tanpa melakukan apapun, sepertinya tidak akan pernah ada perkembangan di dalam hidup ku, setidaknya aku bisa berguna untuk ibu dan juga Frans. “ Jawab Kaira dengan begitu antusias.


“ Apa yang kau bicarakan? Tanpa melakukan apapun kau sudah sangat berguna, dengan adanya dirimu di samping ibu saja kau sudah cukup membantu Frans Kaira. “ 


Dan ketika Natara masih ingin melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Frans memegang tangan ibunya dan menghentikan ucapan ibu nya itu. Lalu Natara pun akhirnya tidak melanjutkan apa yang sedang ia ingin utarakan.


Dan setelah Kaira menyelesaikan sarapannya, Kaira pun berpamitan dan Kaira tampak begitu bersemangat sampai-sampai ia tidak menyadari jika dirinya belum begitu hafal jalan menuju tempat-tempat dengan gedung-gedung tinggi yang pernah dikunjunginya dengan Frans.

__ADS_1


“ Ibu, aku berangkat ya…” Pamit Kaira lalu saat ia sudah ingin membuka pintu rumahnya, Kaira membalikkan badannya dan kembali menghampiri Frans dan juga Natara yang masih duduk di ruang makan.


“ Frans…” Panggil Kiara, lalu Frans pun menoleh ke arah Kaira.


“ Kenapa kau membiarkanku begitu saja? Apa kau tidak bisa mengantarku? “ Tanya Kaira dengan wajah polos nya.


Lalu Frans pun tersenyum ke arah Kaira, dan Frans beranjak dari duduknya lalu menghampiri Kaira dan mengusap kepala Kaira dengan lembut. 


“ Aku harus bekerja hari ini, jadi lebih baik kau di rumah saja untuk hari ini ya…” Ujar Frans yang sudah menduga jika Kaira tidak akan mungkin melamar pekerjaan tanpa dirinya yang mendampingi Kaira.


“ Tapi Frans, ah…aku punya ide…


bagaimana jika kau mengantarku sampai gedung-gedung tinggi itu, dan nanti setelah aku mendapatkan pekerjaan aku akan pulang naik taxi. Aku akan menyalakan pelacak di ponsel ku, bagaimana? “ Usul Kaira yang tidak menyerah dengan keinginannya itu.


Frans terlihat berpikir sejenak, ia masih mengkhawatirkan Kaira dan takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika dirinya tidak mengawasi Kaira.


“ Tapi Kaira…aku takut jika terjadi apa-apa denganmu, tidak bisakah kau menundanya terlebih dahulu? Mencari pekerjaan itu tidaklah mudah, kau sabar dulu, tunggu beberapa hari lagi, aku akan urus persyaratan untuk melamar pekerjaan. “ Ujar Frans lalu merangkul bahu Kaira.


Raut wajah Kaira pun menjadi berubah, ia benar-benar ingin mencoba mencari pekerjaan dan ingin menikmati bagaimana rasanya bekerja. Namun ia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi tanpa Frans yang membantu dirinya, dan akhirnya Kaira pun mengurungkan niatnya dan kembali masuk ke dalam kamar nya.


Di tempat lain…


Devan masih terus mencari keberadaan Kaira tanpa sepengetahuan Berlin. Ia sampai hampir frustasi karena tidak bisa menemukan Kaira, tapi…tiba-tiba saja sekretarisnya itu menghubungi Devan dan memberitahu Devan bahwa kekasih teman dari sahabatnya itu mengenal Kaira, dan ia tinggal satu komplek dengan Kaira.


Devan pun tampak senang mendengar kabar baik yang sudah lama ditunggu-tunggu nya itu. Devan dengan segera meminta sekretarisnya itu untuk mendekati dan juga menyelidiki latar belakang Kaira.


“ Ada apa denganmu? “ Tanya Berlin yang baru saja masuk ke dalam ruangan Devan.


“ Aku? Ada apa? “ Tanya Devan yang langsung bersikap biasa saja.


“ Tadi kau senyum-senyum sambil memandangi ponsel mu, ahhh….jangan-jangan kau sudah punya kekasih. “ Tebak Berlin yang berpikir jika Devan tersenyum sendiri karena sedang kasmaran.


“ Ahh tidak, tidak…aku belum memikirkan hal seperti itu, aku masih ingin menemani mu melajang. “ Ujar Devan yang memang tidak ingin memiliki pasangan sebelum saudara laki-lakinya itu memiliki pasangan. 


Devan berpikir jika dirinya tidak ingin bahagia di atas penderitaan Berlin, ia tidak mau perasaan bersalah menyelimutinya di saat ia sudah bahagia dengan orang lain namun Berlin masih saja belum bisa menghilangkan bayang-bayang Sandara dari dalam hidupnya.

__ADS_1


“ Carilah kekasih lalu menikah dan bangun keluarga kecilmu. “ Ujar Berlin yang juga merasa prihatin melihat Devan yang sudah lama melajang dan juga seperti kesepian selama ini hanya tinggal berdua saja dengan Sarah.


Devan hanya tersenyum menyeringai, lalu ia kembali sibuk menatap layar komputer di depannya. Sedangkan Berlin masih saja duduk-duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Devan.


“ Apa pekerjaanmu sudah selesai? “ Tanya Devan sambil melirik ke arah Berlin.


“ Masih amat sangat banyak, aku muak berada di ruangan ku, jadi tolong izinkan aku untuk menggunakan ruangan mu sejenak. “ Ujar Berlin lalu berbaring di sofa dan kemudian menutup kedua matanya dengan lengan tangan nya.


Devan hanya tertawa mendengar ucapan Berlin barusan, dan kemudian Devan beranjak dari duduknya. Lalu Devan menarik lengan tangan Berlin yang sedang menutupi mata nya itu.


“ Ada apa? “ Tanya Berlin yang terlihat terkejut karena Devan dengan tiba-tiba menarik lengan tangannya itu.


“ Ikut dengan ku…” Jawab Devan yang kini memegang bahu Berlin dan membantu Berlin untuk berdiri.


Berlin pun dengan pasrah mengikuti Devan sampai mereka berdua berada di tempat parkir. Berlin tanpa bertanya apa-apa langsung mengikuti Devan masuk dalam mobil nya.


“ Kenapa kau sangat penurut hari ini? “ Tanya Devan yang merasa heran karena Berlin tidak bertanya apapun kepadanya.


“ Aku hanya lelah, dan tidak ingin berdebat denganmu. “ Jawab Berlin lalu kembali memejamkan matanya sambil menyandarkan kepala nya.


Dan setelah beberapa menit, Devan pun memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah restoran yang berada tidak jauh dari kantor nya. Mereka berdua pun masuk ke dalam restoran tersebut dan kemudian memesan makanan.


“ Kau hanya ingin makan? Kita kan bisa memesan makanan, tanpa harus repot-repot datang ke restoran. “ Keluh Berlin yang sedikit kecewa karena Devan hanya mengajaknya keluar untuk makan.



“ Apa kau ingat kapan kau terakhir kali makan di restoran? “ Tanya Devan yang mengingat kalau selama ini Berlin tidak pernah beranjak dari ruangan kerja nya. Ia hanya beberapa kali juga pulang ke rumah nya. 


“ Entahlah, aku tidak ingat…”


“ Jangan terlalu memaksakan dirimu, cobalah untuk sesekali keluar dari ruangan kerja mu itu untuk hal-hal kecil seperti ini. “ 


“ Untuk apa? Semua sama saja, tidak ada yang menarik. Cepatlah makan makananmu, jika sudah selesai cepat antar aku kembali ke kantor. “ Ujar Berlin lalu kemudian memakan makanannya dengan cepat.


Devan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap saudara laki-laki nya itu. Dan Devan berharap, jika ia menemukan Kaira nanti, maka semua bisa berubah dan Berlin bisa bersikap seperti dahulu.

__ADS_1


Devan sangat merindukan sosok Berlin yang dingin namun berhati lembut. Berbeda dengan Berlin saat ini, Berlin yang sekarang lebih terlihat seperti mayat hidup bagi Devan. Ia sama sekali tidak pernah mengekspresikan apa yang ada di dalam benaknya. 


__ADS_2