
*****
Frans membelalakkan kedua matanya, ia sangat terkejut mendengarkan kebenaran yang terjadi dari pelayan tersebut.
" Apa kau serius dengan kata-kata mu barusan? Jika tuan Berlin mengetahui hal ini, aku yakin sekali dia akan sangat marah. Apa kau yakin dengan kebenaran soal informasi yang kau berikan ini? "
" Iya tuan, saya sangat yakin...dan, seperti nya tuan Remon memang melakukannya kepada nona muda Sandara saat nona muda tidak sadarkan diri. Saya hanya tidak ingin tuan Berlin tidak mengetahui kebenarannya. Maka dari itu saya mengatakan yang sebenarnya. Tolong sampaikan, dan jangan dikurang-kurangi apa yang saya sampaikan barusan. "
Dan kemudian pelayan itu berlalu pergi meninggalkan Frans yang masih terkejut dan berdiri mematung di tengah halaman kediaman Saw.
Lalu, setelah Frans menyadarkan diri nya dari lamunannya. Ia kembali melajukan mobil nya dan kembali ke rumah sakit. Frans sangat amat bingung dengan apa yang baru saja di dengarnya dari salah seorang pelayan di kediaman Saw itu.
Setelah sampai di rumah sakit, Frans langsung menuju kamar rawat Sandara. Dan saat membuka pintu kamar rawat Sandara, Frans tidak mendapati sosok Berlin, di kamar itu hanya ada Devan dan juga Sandara yang saat ini tengah tertidur itu.
" Ada apa? Kenapa kau kemari? "
Devan pun bertanya kepada Frans, ia bingung mengapa Frans kembali lagi ke rumah sakit.
" Ah tidak tuan, aku sedang mencari tuan Berlin, tetapi sepertinya tuan Berlin tidak ada di sini. "
Setelah itu, Frans kembali menutup pintu kamar rawat Sandara. Dan ia mencoba untuk menghubungi Berlin, tetapi nomor Berlin tidak dapat di hubungi. Frans tidak menyerah, dan ia masih terus menghubungi nomor Berlin, dan kemudian ia mendapatkan sinyal keberadaan Berlin melalu GPS yang ia pasang.
Frans pun langsung menuju tempat di mana Berlin berada saat ini. Dan setelah sampai, ternyata saat ini Berlin sedang berada di sebuah Bar.
Saat Frans masuk ke dalam bar tersebut, mata Frans terus saja berpencar dan terus mencari keberadaan Berlin, hingga ia tertuju pada suatu titik, dimana terlihat Berlin sedang duduk di sebuah kursi dengan beberapa wanita di sekitarnya. Berlin terlihat sudah cukup mabuk, dan Frans pun langsung menghampiri Berlin.
Frans meminta kepada para wanita itu untuk pergi dan meninggalkannya dan juga Berlin dan membiarkan mereka hanya berdua saja. Kemudian Frans duduk di samping Berlin.
" Apa yang sedang tuan lakukan di sini? "
__ADS_1
Tanya Frans dengan tatapan sendu namun tajam kepada Berlin.
Berlin melihat dan menatap Frans, lalu ia tersenyum sambil meneguk segelas alkohol yang saat ini sedang di genggamnya itu.
" Kau? Kenapa aku selalu bertemu dengan mu? Apa kau mengikuti ku? Apa kau memasang pelacak pada ku? "
Berlin bertanya namun dengan cara berbicara orang yang sudah sangat mabuk akibat alkohol yang sedang di minumnya itu.
" Ya...aku mengikuti mu tuan, maafkan aku...aku hanya penasaran dan juga mengkhawatirkan keadaan Dara. "
" Dara? Apa kau baru saja memanggil istri ku Dara? Hah?? Aku suaminya saja tidak pernah memanggilnya seperti itu. Siapa kau sampai berani menyebut namanya? "
Frans menarik nafas panjang, lalu ia meraih sebuah gelas dan menuangkan alkohol ke dalam gelasnya. Dan kemudian Frans meneguk minuman beralkohol itu dengan sekali tegukan.
" Terlepas siapa diriku, aku akan membela yang benar tuan. Jika tuan melakukan kesalahan, maka aku akan menyalahkannya. Apa tuan Berlin mengetahui apa penyebabnya sehingga nona Sandara bisa menjadi seperti sekarang ini? Tubuh nya? Tubuhnya penuh memar tuan, dan bahkan.. pelayan di rumah tuan berkata bahwa ayah tuan Berlin sudah menyetubu hi nona Sandara. "
Frans bertanya dengan sangat serius dan juga bersungguh-sungguh. Lalu kemudian Berlin mencengkram kerah baju Frans, ia terlihat sangat marah walau dalam keadaan yang sangat mabuk.
Berlin menekan tubuh Frans, hingga orang-orang yang menyaksikannya hanya melihat sambil menatap mereka berdua dengan tatapan tidak biasa.
" Ma...af tuan...saya ha...nya perduli dengan nona Dara. "
Frans terlihat kesulitan bicara karena lehernya ikut di tekan oleh kedua tangan Berlin dengan tenaganya yang cukup kuat.
" Apa maksudmu perduli? Kau bahkan baru mengenal nya. "
Kemudian Berlin melepaskan cengkraman nya itu dari kerah baju Frans. Dan akhirnya Frans menceritakan tentang bagaiman ia bisa sangat perduli kepada Sandara, dan itu terjadi begitu saja, berawal sejak ia mengenal Sandara bukan sebagai istri Berlin, melainkan sebagai pelayan di rumah Berlin.
" Apa kau menyukai Sandara? "
__ADS_1
" Tidak tuan, saya hanya perduli...maaf tuan jika saya lancang. "
Frans berbicara sambil menunduk, dan kemudian Berlin melihat wajah Frans.
" Sungguh? "
" Iya tuan, saya bersungguh-sungguh tuan. "
" Baiklah, karena kau sudah tau mengenai Sandara, aku akan menjadikanmu orang kepercayaan ku mulai saat ini. Dan ingat, jangan sampai ada yang tau jika ayah ku melakukan semua perbuatan itu pada Sandara. Simpan rapat-rapat semua ini. "
Frans sangat terkejut mendengar apa yang di katakan Berlin barusan. Pada awal nya Frans menceritakan segala nya, hanya untuk, agar Berlin segera bertindak dan memberikan pelajaran kepada ayah nya. Karena hanya Berlin lah yang bisa melawan ayah nya sendiri.
Namun apa yang di harapkan oleh Frans ternyata tidak memenuhi keinginan Frans. Frans sangat ingin memaki Berlin, tetapi di sisi lain ia masih sangat membutuhkan pekerjaannya itu. Jadi Frans hanya bisa menahan amarah nya sampai ia dan Berlin selesai menghabiskan waktunya di bar.
Setelah itu, Frans menghubungi jasa sewa supir, dan menyewa supir untuk mengantar Berlin sampai rumah tujuan dengan hati-hati.
" Tuan muda Berlin benar-benar tidak perduli sama sekali terhadap Dara, aku akan mencari tahu sendiri tentang semua kebenarannya. Tunggu saja dan lihatlah.. "
Frans hanya bisa menggumam di dalam mobil nya, ia amat sangat kecewa dengan Berlin. Ia juga merasa kasihan pada Sandara, lalu kemudian Frans menghubungi beberapa koneksi nya. Ia berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga Sandara bisa menikah dengan Berlin.
Dan...dua hari kemudian, Sandara sudah keluar dari rumah sakit. Wajahnya masih tampak memar dan ada beberapa goresan. Sandara masih merasa kalut di dalam hatinya.
Sandara tidak tau harus berbuat apa lagi, Remon sudah benar-benar di luar jangkauannya. Bahkan untuk balas dendam saja, itu rasanya seperti tidak mungkin.
Namun bukanlah Sandara jika ia menyerah begitu saja, Sandara berjalan dan masuk ke dalam ruangan Berlin.
" Apa kau sudah menemukan jasad ayah ku? "
__ADS_1
Sandara bertanya kepada Berlin dengan tatapan kesal nya. Dan lagi-lagi, ekspresi wajah Berlin tidak menunjukkan emosi apapun. Ia hanya menatap Sandara dengan datar. Lalu ia kembali fokus kepada pekerjaannya.