
...****************...
“ Ibu? Apa ibu ku masih hidup? “ Tanya Kaira lalu menatap Berlin dengan penuh tanda tanya.
“ Ya…ibumu masih hidup, ikutlah denganku, dan kau akan bertemu dengan ibumu, ibumu sudah sangat merindukan mu, dia begitu menderita setelah kehilangan putri satu-satunya.” Jawab Berlin yang memanfaatkan kesempatan yang baru saja di dapatkannya itu.
“ Kaira, kau bahkan membenci ibu mu, untuk apa kau menemuinya? “ Bentak Frans yang mengetahui bahwa hubungan Sandara dan ibunya tidak begitu baik di masa lalu.
“ Apa yang kau bicarakan? Kenapa aku membenci ibuku? Apakah ibuku berbuat kesalahan di masa lalu? Kenapa semua sangat membingungkan, aku harus mempercayai siapa di antara kalian? Kepala ku seperti mau pecah saat ini, aku benar-benar tidak tahu harus percaya kepada siapa. “ Kaira pun meninggikan suaranya karena ia sudah sangat lelah mendengar perdebatan antara Berlin dan juga Frans.
Frans dan Berlin pun terdiam, lalu mereka mengamati raut wajah Kaira yang sudah sangat memerah dan terlihat dengan jelas jika Kaira amat sangat kesal saat ini.
“ Maaf, tapi kali ini kau harus percaya kepada ku Kaira. “ Ujar Frans yang meminta Kaira untuk mempercayai kata-kata nya.
“ Tapi selama ini kau sudah membohongiku Frans, dan bagaimana aku bisa mempercayaimu lagi? Kenapa dari awal kau tidak berterus terang saja kepada ku dan menceritakan segalanya kepadaku, walau mungkin masa lalu ku cukup sulit, tapi aku yakin, aku bisa menerima semua masa lalu ku itu. “ Ujar Kaira yang merasa sudah sangat kecewa karena Frans selama ini memalsukan identitasnya dan membohonginya.
“ Aku tidak ingin membuatmu terluka, aku hanya ingin menghapus masa lalumu yang menyedihkan. Semua yang aku lakukan semata-mata hanya untuk kebahagiaanmu Kaira. “ Jelas Frans yang memang benar jika dirinya hanya ingin melihat Kaira bahagia tanpa harus mengetahui tentang kenangan pahit di masa lalu Kaira.
“ Apa seburuk itu masa laluku sampai kau ingin menghapusnya dari ingatanku? “ Tanya Kaira yang merasa jika apapun alasannya, apa yang dilakukan Frans selama ini adalah salah.
“ Sudahlah Frans, biarkan Dara ikut bersama dengan ku, sudah cukup selama ini kau membawanya pergi dari ku. “ Ujar Berlin yang kemudian meraih tangan Kaira.
“ Aku hanya tidak ingin Kaira terluka, dan aku tidak ingin Remon berbuat macam-macam lagi pada Kaira. Jadi tolong Berlin, biarkan Kaira bahagia bersama dengan ku. “ Jelas Frans yang tidak ingin melepaskan Kaira dan membiarkan Kaira pergi bersama dengan Berlin.
Berlin menarik nafas panjang, ingin rasanya ia memukul wajah Frans, namun Berlin menahannya, ia tidak ingin bertindak gegabah dan ceroboh di hadapan Kaira.
“ Frans, aku sudah tidak berhubungan dengan Remon semenjak kejadian itu. Aku sudah memutuskan hubunganku dengan ayah ku sendiri. Bahkan aku sama sekali tidak tahu bagaimana kabar pria kejam itu. Jadi aku mohon, lepaskan Dara…dia istri ku, kau tidak punya hak untuk terus menahannya di sisi mu. “ Berlin pun menjelaskan bagaimana hubungannya dengan ayah nya saat ini.
__ADS_1
Kaira yang mendengarkan apa yang baru saja dikatakan Berlin itupun hanya menatap Berlin dengan iba. Ia tersentuh karena Berlin rela memutuskan hubungan dengan ayahnya hanya karena dirinya.
Frans juga hanya bisa terdiam dan sudah kehabisan kata-kata setelah mendengarkan penjelasan Berlin. Dan kemudian Frans melepaskan genggaman tangannya dari Kaira dan membiarkan Berlin menggenggam tangan Kaira.
“ Ini kesempatan terakhirmu, jika kali ini kau tidak bisa menjaga Kaira, aku tidak akan pernah melepaskannya lagi Berlin. “ Ujar Frans lalu masuk kedalam mobilnya dengan wajah yang sudah amat sangat kecewa dan putus asa.
Kaira hanya bisa menatap Frans dengan perasaan sedihnya. Ini adalah keputusan berat bagi Kaira, ia terpaksa harus melepaskan genggaman tangan Frans, Kaira sangat ingin mencari tahu jati dirinya yang sebenarnya. Dan ia juga ingin mencoba dengan perlahan memulihkan ingatannya.
“ Ayo, kita temui ibumu. “ Ajak Berlin, lalu kemudian Berlin dan Kaira masuk ke dalam mobil Berlin.
Di dalam mobil, Kaira dan Berlin hanya diam dan tidak saling bicara, hingga akhirnya Berlin mencoba untuk mencairkan suasana dan memulai percakapan terlebih dahulu.
“ Terimakasih karena kau sudah memihakku. “ Ujar Berlin yang merasa sangat senang karena Kaira lebih memilih dirinya dibandingkan dengan Frans.
“ Aku bukan memihak mu, aku hanya ingin menemui ibuku, walaupun pada kenyataannya aku adalah istri sah mu, tapi aku masih membutuhkan waktu untuk membiasakan diriku dengan mu. “ Jelas Kaira yang masih tidak bisa mengendalikan perasaannya untuk saat ini.
“ Aku tidak berpihak kepada siapapun, semua yang terjadi di hidupku sangat-sangat tidak terduga. Dan karena ingatan bodohku ini aku jadi tidak bisa mengingat apapun. Aku hanya mengikuti naluriku untuk saat ini. “ Ujar Kaira yang saat ini sangat sulit baginya untuk percaya kepada orang lain.
Terlebih lagi rasa kecewa yang didapatnya karena Frans yang sudah sangat dipercayainya itu membohongi dirinya, Kaira jadi lebih berhati-hati untuk bisa mempercayai seseorang.
“ Maafkan aku Dara. “
“ Jangan sebut aku Dara, aku belum terbiasa dengan nama itu. “
“ Tapi itu adalah namamu, kau Sandara istri ku. Dan mulai dari sekarang kau sudah harus terbiasa mendengar ku menyebut namamu seperti itu.” Ujar Berlin yang saat ini tidak ingin memanggil nama Kaira, mengingat bahwa nama itu adalah pemberian dari Frans.
“ Aku tidak mau, jika kau memanggilku seperti itu, aku tidak akan merespon mu. “ Tolak Kaira yang tidak ingin Berlin memanggil nya dengan sebutan Dara, Kaira merasa nama itu masih sangat asing di telinganya.
__ADS_1
“ Apa kau tidak ingin memulihkan ingatan mu dengan cepat? Mungkin saja jika aku memanggilmu seperti itu, maka ingatanmu akan segera pulih. “ Berlin pun membuat alasan supaya Kaira mau menerima nama nya yang sebenarnya.
Kaira terlihat berpikir sejenak dan mempertimbangkan kembali apa yang baru saja dikatakan Berlin barusan, dan ia juga mulai berpikir jika apa yang dikatakan Berlin itu cukup masuk akal, dan Kaira juga amat sangat ingin segera mengingat ingatan-ingatan yang sudah hilang dari dirinya itu.
“ Bagaimana? Apa kau tidak ingin mengingat masa lalumu dengan ku? “
“ Baiklah…” Jawab Kaira yang terpaksa setuju jika Berlin memanggilnya Dara.
Dan Berlin yang mendengar Kaira menyetujuinya itu pun langsung tersenyum senang sambil sesekali menatap wajah Kaira yang masih terlihat murung untuk saat ini.
Dan setelah beberapa saat, akhirnya Kaira dan Berlin sampai di rumah Devan. Berlin dengan segera membukakan pintu mobilnya untuk Kaira dan mempersilahkan Kaira untuk turun dari mobilnya.
Kaira turun dari mobil Berlin dengan perasaan yang sudah sangat tidak karuan. Jantungnya berdegup kencang, ia sangat menantikan momen dimana ia bertemu dengan ibunya.
Selama ini Kaira sangat ingin memiliki sosok seorang ibu, karena selama ingatannya hilang, Frans mengatakan bahwa Kaira sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Frans dan juga Natara.
Walaupun Natara menyayangi Kaira seperti putrinya sendiri, namun kasih sayang itu terlihat berbeda di saat Natara bersama dengan Frans, dan karena itulah Kaira selalu membayangkan sosok ibu dalam benaknya.
Lalu kemudian, Berlin membunyikan bel rumah Devan, dan Sarah lah yang membukakan pintu rumah nya. Saat Sarah membuka pintu rumahnya, ia sangat terkejut melihat putrinya yang sudah berada di hadapannya.
Sarah sampai membelalakkan kedua matanya, lalu ia juga mengusap-usap matanya. Ia memastikan jika dirinya tidak bermimpi dan Sarah berharap jika yang saat ini sedang berdiri berhadapan dengannya itu adalah Sandara, putrinya.
“ Berlin? Apa aku sedang bermimpi? “ Tanya Sarah yang masih belum percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya itu.
__ADS_1